Polres Tanah Karo Menggelar Press Release Dugaan Kasus Persetubuhan Terhadap Anak

Polres Tanah Karo Menggelar Press Release Dugaan Kasus Persetubuhan Terhadap Anak
Polres Tanah Karo Menggelar Press Release Dugaan Kasus Persetubuhan Terhadap Anak.
Bagikan

METRORAKYAT.COM, KARO – Polres Tanah Karo menggelar Press Release dugaan kasus persetubuhan terhadap anak, yang ditangani Satreskrim Polres Tanah Karo. Kegiatan ini dipimpin oleh Pelaksana Harian Kapolres Tanah Karo AKBP Oloan Siahaan, S.I.K, M.H, di ruang Satreskrim Wiratama Bhayangkara Polres Tanah Karo, Selasa (11/6/2024) pukul 13.30 WIB hingga selesai.

Dalam kegiatan tersebut, PLH. Kapolres Tanah Karo menyampaikan, bahwa hari ini Polres Tanah Karo melaksanakan press release terkait dengan dugaan kasus persetubuhan atau kerasan seksual terhadap anak, sesuai Laporan Polisi, yang diterima tanggal 07 Juni 2024, pelapor An. DBG.

Adapun kejadian yang dialami Korban anak di bawah umur (14), dilakukan oleh pelaku yang merupakan ayah kandung sendiri, berinisial HST (46), yang diketahui terjadi pada hari Kamis 6/6/2024 sekitar pukul 15.00 WIB, bertempat di Kecamatan Kabanjahe.

“Dari hasil penyidikan yang kami lakukan, kasus ini diketahui terjadi pertama kali pada Juli 2022 lalu, terjadi secara berulang, yang terakhir kali dilakukan pada April 2024 di rumah korban, hingga akhirnya diketahui oleh keluarga korban dan dilaporkan ke Polres Tanah Karo,” ucap Kapolres.

Oloan Siahaan menambahkan, tersangka dipersangkakan melanggar pasal Pasal 81 ayat 1 ayat 3 dan pasal 82 ayat 1 dan ayat 2 dari Undang Undang RI No. 17 Tahun 2016, tentang perubahan kedua atas Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-undang, yang berbunyi, setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Adapun ancaman hukuman kepada tersangka paling singkat 5 (lima) tahun dan pidana kurungan penjara paling lama 15 tahun dan Pidana ditambah 1/3 dari ancaman pidana. (MR/Ezri)

Metro Rakyat News