JOKOWI SIAPKAN MARHAEN SONGSONG ERA DIGITAL

JOKOWI SIAPKAN  MARHAEN SONGSONG ERA DIGITAL
Bagikan

METRORAKYAT.COM, Salah satu perbincangan paling seksi dan hangat belakangan ini ialah “Revolusi Industri 4.0”.

Revolusi Industri 4.0 yang tak bisa dihindarkan negara-negara di dunia dapat menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif, sehingga kehadirannya bisa jadi ancaman, tantangan sekaligus peluang bagi suatu bangsa dan negara.

Kehadiran “Revolusi Industri 4.0” yang menggeser tenaga fisik ke ketrampilan teknologi tentu akan menjadi ancaman bagi sumber daya manusia (SDM) mengandalkan tenaga fisik anak sich.

Karena, penggunaan teknologi digital akan melahirkan efisien penggunaan tenaga fisik. Hal itu akan berpotensi pengurangan tenaga kerja tak memiliki skill melek teknologi digital di segala segmen kehidupan masyarakat secara masif.

Perkembangan teknologi canggih semakin cepat tentu haruslah disikapi arif dan bijaksana. Sebab, era globalisasi dengan penerapan teknologi digital menjadikan kompetisi dunia terbuka luas tanpa satu negara pun menutup diri dengan proteksi ketat. Tiap negara hanya mampu meningkatkan daya saing agar mampu menyongsong era digital peluang besar mendatangkan keuntungan optimal.

Presiden Jokowi yang mengerti, memahami keunggulan dan kelemahan bangsanya, melihat era Revolusi Industri 4.0 peluang besar bagi bangsa Indonesia. Bonus demografi di masa mendatang harus dipersiapkan terencana, terpadu, terukur dan realistis. Bonus demografi itu tidak bisa dicapai melalui framing retorika, wacana belaka. Melainkan langkah konkrit (real action) meningkatkan sumber daya manusia (SDM) melek ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama generasi-generasi Marhaenis mayoritas warga negara di republik ini agar tidak tersingkir dan terpinggirkan di era Revolusi Industri 4.0.

Presiden Jokowi mantan Walikota Surakarta-Solo, Gubernur DKI Jakarta, Presiden RI Ketujuh yang lahir dari rahim rakyat Marhaenis mengerti, memahami paripurna kesulitan dan beban berat dirasakan rakyat marjinal (miskin) sehingga mampu menangkap, menyerap harapan dan kehendak mayoritas warga negara kepada pemimpin (presiden) nya.

Jokowi anak Tukang Kayu, pernah tinggal di bantaran sungai (kali), pindah rumah sewa berkali-kali tidak pernah lupa pengalaman pahit getir di masa muda. Karier politik hingga orang nomor satu (1) di republik ini tak membuatnya lupa masa lalu. Akan tetapi, Jokowi tidak mau dan rela masa sulitnya terulang kembali dialami anak negeri di negara besar Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika supaya negeri anugrah Tuhan Yang Maha Esa benar-benar “satu untuk semua, semua untuk satu” yakni Indonesia sebagaimana amanah pendiri bangsa (founding fathers) Bung Karno.

Jokowi membawa “Jargon politik” OPTIMIS INDONESIA MAJU tentu bukanlah sebatas retorika, wacana belaka. Tetapi lahir dari hasil pemikiran original, pengalaman empiris melahirkan Visi-Misi, ide, gagasan, program realistis dan terukur. “Kesulitan tidak membuat hidup takut, melainkan ketakutanlah membuat hidup sulit”. Hal itu telah dia buktikan sendiri, seorang anak Tukang Kayu jadi presiden di republik ini. Optimisme telah menjadikan dia salah seorang pemimpin fenomenal di abad ini.

Menyiapkan generasi Marhaen (miskin) menyongsong era digital “Revolusi Industri 4.0” dilakukan melalui jaring pengaman sosial (social seftynet) dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Kuliah (KIK), Kartu Pra Kerja (KPK), Kartu Sembako Murah (KSM), serta pemberian sertifikat tanah gratis untuk rakyat adalah langkah cerdas, jenial, brilian untuk menyongsong era digital bagi generasi Marhaenis.

Generasi muda Marhaenis tidak perlu takut mengembangkan diri hingga tingkat Perguruan Tinggi (PT), peningkatan kualitas skill melalui Kartu Pra Kerja (KPK) agar mampu berdaya saing, baik regional maupun internasional telah difasilitasi negara. Kualitas kesehatan masyarakat ditingkatkan dan dijamin oleh negara, sehingga tidak muncul lagi pameo “Orang Miskin Dilarang Sakit” seperti di era pemerintahan sebelum-sebelumnya. Hal inilah fondasi pemikiran “jargon politik” OPTIMIS INDONESIA MAJU yang didengung-dengungkan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin di ruang publik.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terencana, terprogram, terukur dan realistis sejatinya hanya bisa lahir dari pemimpin bersih, jujur, berani, kompeten, profesional, visioner, berpengalaman, berintegritas, merakyat telah terbukti dan teruji.
Pengalaman Jokowi memimpin pemerintahan daerah (walikota, gubernur) dan Presiden RI Ketujuh bersama Wakil Presiden RI HM. Jusuf Kalla (JK) periode 2014-2019 menjadikan OPTIMISME INDONESIA MAJU tidak sekadar “pepesan kosong”, retorika, wacana, halusinasi, ilusi, ataupun mimpi di siang bolong.

Kehadiran negara di ruang publik dengan program cerdas, jenial, brilian menyiapkan generasi MILENIAL, terutama anak-anak Marhaen menyongsong era digital “Revolusi Industri 4.0” adalah langkah konkrit mewujudkan “OPTIMIS INDONESIA MAJU”.

INDONESIA MAJU, INDONESIA HEBAT, INDONESIA ADIDAYA HANYA TERWUJUD DIBAWAH KEPEMIMPINAN TEPAT DAN AKURAT.

Medan, 30 Maret 2019.
Salam NKRI…….!!! MERDEKA…….!!!
Drs. Thomson Hutasoit.
Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (DPC ISRI) Kota Medan (pendapat pribadi).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.