Kisah Remaja Kehilangan Ayah di Peristiwa Berdarah 1984

Kisah Remaja Kehilangan Ayah di Peristiwa Berdarah 1984

MetroRakyat.com  I  JAKARTA — Pada 12 September 1984, Nurhayati berusia 19 tahun. Dia baru saja menuntaskan pendidikan sekolah menengah atas. Namun nahas, ketika itu dia harus kehilangan sosok ayah dalam tragedi berdarah Tanjung Priok.

Peristiwa bermula pada 10 September ketika Nurhayati mendapati banyak orang kasak-kusuk di sekitar rumahnya di Jalan Sindang dan kawasan Rawa Badak, Tanjung Priok, yang saling berbatasan.

Nurhayati heran karena orang-orang sibuk memasuki gang-gang kecil di sekitaran kawasan itu untuk memasang pengeras suara. Keheranannya terjawab dua hari berselang.

“Saat itu, saya baru tahu ada tabligh akbar di situ. Pukul empat sore, sudah mulai banyak orang datang. Ada yang dari Bogor, Bandung,” kata Nurhayati saat bercerita di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (21/5).

Nurhayati memperkirakan ada ribuan orang yang memadati Jalan Sindang hingga Rawa Badak. Kawasan yang biasanya dilalui kendaraan umum itu lantas ditutup sebagai tempat duduk dan berkumpul orang-orang.

Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, Nurhayati cemas. Sebab orang-orang yang berkumpul hingga menyesaki depan rumah warga. Acara yang diisi ceramah dimulai pukul 20.00 WIB.

Di tengah ceramah, hujan deras mengguyur wilayah itu. Nurhayati mendengar, ceramah akan dilanjutkan satu jam kemudian.

Tak lama usai hujan reda, ribuan massa kembali berkumpul. Nurhayati yang berada di dalam rumah mendapati adiknya hilang. Sang ibu memerintahkan Nurhayati untuk mencarinya.

Sayang, usaha Nurhayati tidak membuahkan hasil dan pulang dengan tangan hampa. Namun dia percaya sang adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar akan kembali ke rumah.

“Enggak lama, adik saya pulang, dan bapak juga pulang,” ujarnya.

Akan tetapi, perkataan dan tindakan sang bapak, Bachtiar (50), mengejutkan Nurhayati dan ibunya. Kata dia, Bachtiar ingin kembali ke acara setelah berganti pakaian.

“Ibu dan saya bilang, sudah enggak usah ikut-ikutan. Bapak saya bilang, “Kalau pun mati, saya mati syahid,” kata Nurhayati menirukan ucapan ayahnya.

Dengan berat hati, Nurhayati dan ibunya membiarkan Bachtiar kembali ke acara tabligh akbar. Ketika dia mencoba mencari tahu, dia kaget bahwa tetangganya yang mengikuti acara, pulang dan saat kembali membawa senjata tajam, seperti bambu runcing dan celurit.

“Saya tidak tahu ada apa sebenarnya. Ibu saya bilang, ‘jangan keluar’,” Nurhayati menuturkan.

Saat itu pukul 11 malam dan semua listrik dimatikan. Praktis, Jalan Sindang dan sekitarnya gelap gulita.

Tiba-tiba dari dalam rumah, Nurhayati mendengar suara banyak kaki berlari, takbir dan rentetan letusan tembakan. Suasana mencekam itu membuat dia, ibu, dan adiknya tidak bisa tidur.

Suara letusan tembakan terdengar jelas di telinga Nurhayati hingga pukul 2 dini hari. Dia pun memutuskan untuk naik ke atas genteng melihat situasi.

“Ada yang loncat ke sungai. Banyak yang lari sambil teriak Allahu Akbar. Suara tembakan tak ada berhentinya. Saya lihat ke langit, banyak asap tebal akibat rumah dibakar,” kisahnya.

Pemandangan itu membuat Nurhayati teringat Bachtiar, sang bapak yang pergi untuk kembali ke acara. Hingga pagi menjelang, dia benar-benar tidak bisa tidur.

Pagi Penuh Darah

Pagi harinya, 13 September 1984, Nurhayati memberanikan diri keluar rumah pada pukul 8 pagi. Dia melihat banyak orang terkapar dengan darah di sekujur tubuh. Salah satu pemuda berusia 19 tahun bernama Edi, ditemukan dalam kondisi terkena luka tembak di bagian paha.

Berusaha berteriak meminta tolong, Nurhayati justru diberitahu tetangganya bahwa ABRI (sekarang TNI) saat itu telah berjaga di pintu keluar Jalan Sindang. Akhirnya, Edi dibawa dengan gerobak dan diketahui pihak militer.

Banyak tetangga juga terkejut dengan kondisi demikian. Tak sedikit yang menangis karena kehilangan keluarga dan sanak saudara. Dia juga mendapati banyak mobil dan motor habis terbakar.

Hingga sejauh itu, Nurhayati belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dia lantas mencari tahu keberadaan sang ayah. Rumah sakit TNI yang menjadi pusat berkumpul korban menyatakan tidak ada Bachtiar.

Rumahnya pun sempat didatangi orang tak dikenal yang banyak menanyakan sesuatu terkait Bahtiar. Karena merasa semakin cemas dan khawatir, dia dan sang ibu memutuskan pulang kampung sementara ke Sumatra Barat.

“Menghindari ibu saya yang semakin stres. Tetapi karena sudah kebiasaan hidup di Jakarta, kami akhirnya tinggal di Tebet,” ucap Nurhayati.

Banyak versi yang dia dapatkan tentang kematian sang ayah. Bahkan dia sempat dipanggil aparat untuk melihat otopsi atas delapan jenazah yang ditemukan. Sayang, dia tidak yakin dengan kedelapan jenazah itu dan hingga kini belum menemukan Bachtiar.

Setelah 10 tahun berlalu, Nurhayati sempat mendatangi orang pintar untuk mencari tahu keberadaan Bachtiar. Orang tersebut mengatakan Bachtiar masih hidup meski tidak diketahui keberadaannya.

Kini, Nurhayati selalu berjuang untuk mendapat keadilan dari negara. Walaupun telah ada pengadilan ad hoc, dia merasa pengadilan tersebut berjalan satu arah.

Berdasarkan laporan resmi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tertanggal 11 Oktober 2000, kejadian ini bermula saat empat orang ditahan di Kodim Jakarta Utara atas dugaan membakar motor Babinsa. Amir Biki, salah seorang masyarakat setempat dalam ceramahnya menuntut aparat membebaskan keempat orang yang merupakan jamaah musholla tersebut.

Setelah mengetahui keempat orang tersebut belum dibebaskan pada pukul 23.00 WIB, 12 september 1984, Amir Biki mengerahkan massa ke kantor Kodim dan Polsek Koja. Massa dihadang satu regu Arhanud Kodim Jakarta Utara.

Situasi berkembang sampai terjadi penembakan yang menimbulkan korban sebanyak 79 orang yang terdiri dari korban luka sebanyak 55 orang dan meninggal 24 orang. (rdk)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.