DNA Orangtua Bisa Identifikasi Potongan Tubuh Korban Banjir Bandang

DNA Orangtua Bisa Identifikasi Potongan Tubuh Korban Banjir Bandang
Bagikan

MetroRakyat.com | MEDAN – Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Komisaris Besar Farid Amansyah mengatakan, jasad yang berbentuk potongan tubuh (body part) bisa diidentifikasi melalui beberapa cara. Salah satunya dengan memeriksa DNA kedua orangtua korban, baik ayah maupun ibu. “Masyarakat tidak perlu khawatir, jika jasad yang ada berbentuk body part, nantinya akan diambil sampel DNA ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya sudah meninggal dunia, maka bisa diambil sampel DNA saudara kandungnya,” ungkap Farid, Rabu (18/5/2016) sore.

Menurut Farid, sejauh ini identifikasi jenazah korban banjir bandang air terjun Dua Warna, Desa Sirugun, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang berjalan lancar. Sebab, petugas dapat mengenali jenazah dari sidik jarinya. “Kami harus hati-hati betul dalam mengidentifikasi jenazah ini. Kami tidak bisa terburu-buru,” ungkap Farid. Terkait adanya keluarga korban yang mengamuk, Farid mengatakan dirinya cukup memaklumi itu. Apalagi, kata Farid, keluarga korban ingin cepat-cepat dikebumikan.

“Tidak ada niat kami sedikitpun untuk memperlambat pemulangan jenazah. Namun, semua itu kan ada prosesnya. Jadi kita tidak bisa sembarangan begitu saja,” ungkap Farid.

Keluarga Korban Banjir Bandang Mengamuk di RS Bhayangkara

Keluarga almarhum Zulhamdi Sakti Wibisana (21), korban banjir bandang di air terjun Dua Warna, Desa Sirugun, Kecamatan Sibolangit,  Kabupaten Deliserdang mengamuk di Rumah Sakit Bhayangkara Medan. Pihak keluarga almarhum merasa dipersulit oleh pihak rumah sakit. “Dari tadi kami minta izin membawa jenazah, tapi alasannya rapat. Sampai saat ini, mereka enggak juga selesai rapat,” teriak seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja hijau, Rabu (18/5/2016) siang. Menurut pria berlobe putih tersebut, awalnya pihak keluarga diminta menyerahkan kartu tanda penduduk (KTP) korban. Setelah KTP diberikan, pihak rumah sakit kembali meminta ijazah sekolah korban. “Semua yang diminta sudah kami kasih. Apalagi yang kurang. Mayat sudah dimandikan. Kenapa enggak dikasih bawa,” teriak pria tersebut. Ia mengatakan, jenazah kemenakannya itu sudah empat hari di rumah sakit. Bahkan, katanya, jenazah Zulhamdi sudah mulai membusuk.

“Enggak kasihan kalian nengok mayatnya ini. Ini bukan binatang. Tau kalian,” senggak pria tersebut sembari memarahi sejumlah petugas rumah sakit. Setelah sempat mengamuk karena merasa dipersulit pihak Rumah Sakit Bhayangkara Medan, keluarga almarhum Zulhamdi ini nekat mengangkut peti jenazah korban ke dalam ambulans. Sebelum diangkat, rekan dan keluarga korban mengumandangkan azan. “Sudahlah! Angkat saja ke ambulans. Ngapain lagi ditunggu pihak rumah sakit ini,” teriak seorang pria bertubuh tegap yang diketahui merupakan kakak kandung almarhum Zulhamdi, Rabu (18/5/2016) siang.

Menurutnya, pihak rumah sakit tidak memiliki hati nurani. Sebab, kata dia, jenazah adiknya sudah membusuk karena terlalu lama di dalam lemari pendingin. “Katanya mengayomi. Apa? Kenapa ditahan-tahan adik kami ini?” teriak pria tersebut ke arah sejumlah petugas rumah sakit. Ketika peti jenazah sudah berada di dalam mobil ambulance, petugas kepolisian yang berjaga menahan mobil ambulance pengangkut jenazah Zulhamdi. Adu mulut kembali terjadi antara pihak keluarga dengan petugas kepolisian.

“Ini enggak bisa dibawa begitu saja, Pak. Harus kita selesaikan dulu surat-suratnya, baru bisa jalan,” kata Iptu N Manurung sembari meminta sopir ambulance mematikan mesin mobil. “Jangan lagi dihambat, Pak. Kami cuma mau memakamkan adik kami,” teriak abang korban. Untuk menghindari keributan semakin besar, petugas kepolisian itu mengalah. Ia kemudian memanggil Tim Disaster Victim Identification Polda Sumut. (Trib/Aga/Imron/Peter).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.