Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Kab Samosir Sosialisasi Penanganan Penyakit Ternak Babi
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Dinas Pertanian Perikanan Peternakan Kab Samosir bersama dengan Pemerintah Kec Harian, Koramil 04 Harian Boho, Polsek Harian Boho, UPTD pertanian peternakan kec Harian, Satuan Pamong Praja Samosir melakukan Sosialisasi Penanganan penyakit ternak babi pada Senin (16/12/2019) kepada warga peternak babi di kecamatan harian agar tidak terkena penyakit kolera babi.
Dengan telah melakukan tindakan cepat tanggap pencegahan berupa penanggulangan dan usaha preventif di antaranya, melakukan penyuluhan dan edukasi kepada peternak dan stakeholder, tentang pencegahan agar virus tidak menyebar ke wilayah kec Harian .
Selain itu, juga melakukan pendataan terhadap peternakan babi yang berpotensi terserang penyakit untuk mendapatkan data yang konkrit menyangkut populasi ternak babi se-kecamatan harian sehingga dapat diambil langkah tindak lanjut.
“Tidak hanya itu, peninjauan ke lokasi peternakan babi di wilayah yang terindikasi terjangkit penyakit juga telah dilakukan dan melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang ternak babi,” ujar nya.
Camat harian Bapak Roberthon Manik,Anggota Polsek harian boho Aiptu F manurung,Babinsa dari Koramil 04 HB Sertu J pasaribu, telah melakukan sosialisasi kepada petugas lapangan dari Dinas Pertanian perikanan Peternakan kab Samosir dan masyarakat melalui penyuluhan intensif, terutama tindakan yang harus diambil terhadap ternak yang mati agar bangkai ternak segera dibakar atau minimal dikubur, bukan dibuang sembarangan.
Dalam mencegah penyebaran virus hog cholera dan indikasi ASF pada ternak babi, peternak diminta melakukan langkah-langkah antisipatif. Pasalnya, virus penyakit tersebut tidak terlihat secara kasat mata. Misalnya, ada ternak babi yang sehat seperti pada umumnya. Akan tetapi, beberapa hari kemudian tiba-tiba sakit hingga kemudian mati.
“Pemerintah kecamatan Harian menghimbau pada masyarakat jangan membeli ternak babi dengan harga yang murah atau jauh di bawah harga pasaran. Usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Dengan kata lain, tidak saling besuk atau menjenguk antar peternak babi,” terang Camat.
Babinsa koramil 04 HB Sertu J Pasaribu meminta peternak lain untuk mengecek atau memeriksa hewan ternak milik warga yang kebetulan sakit.
“Jika itu dilakukan, maka hewan ternak milik peternak lain bisa berpotensi tertular penyakit hewan ternak kita yang sakit. Sebab, virus itu bisa saja menempel pada manusia dan kemudian ketika masuk kandang babi yang sehat lalu berpindah. Apalagi, babi yang sakit dibawa ke kandang babi yang sehat,” ujarnya.
Camat harian Roberthon Manik mengatakan Jika ada Bangkai babi yang mati agar dikubur atau dibakarJangan dibuang ke sungai bangkainya, sebab apabila ada orang yang menggunakan air sungai atau didanau yang sudah tercemar oleh virus bangkai babi tersebut untuk disemprot ke kandang ternak babinya, maka otomatis tertular.
“Selain itu, jangan dibuang ke semak-belukar atau hutan. Karena, kalau dibuang ke hutan maka bisa menularkan kepada babi hutan,”ujarnya.
Pihak dinas peternakan Samosir mengatakan perlunya manajemen kandang babi, misalnya, pagi dan sore disemprot disinfektan setelah dicuci atau dibersihkan kandangnya. “Bahkan, kalau bisa sesering mungkin dilakukan. Memang kalau cara ini tidak bisa membunuh virus ASF ya, tetapi paling tidak bisa menghambat adanya dugaan penyebaran virus penyakit tersebut,” ujar ibu Gurning. (MR/BP)
