POLITIK BERBALAS PANTUN

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Politik adalah seni bukanlah sebuah narasi omong kosong belaka. Tetapi sebuah kenyataan dalam kematangan atau kedewasaan berpolitik menyimpan sejuta arti dan makna yang dapat ditafsirkan dari sudut pandang masing-masing.
Salah satu contoh konkrit ialah pantun berbalas pantun saling memuji antara Presiden Jokowi dengan Surya Paloh pada Ulang Tahun Partai Nasdem ke 8 penuh canda gurau menjadikan suasana cair dan senang bahagia.
Gurauan-gurauan sejuk bagaikan berbalas pantun telah mencairkan “politik sindir-sindiran” antar kedua tokoh yang mengundang interpretasi aneka ragam di ruang publik.
Polemik rangkulan yang menjadi menu seksi beberapa hari belakangan ini seperti bait-bait pantun antara Jokowi dengan Surya Paloh. Bahkan, Presiden Jokowi mengatakan karena “cemburu” tak pernah mendapat rangkulan seerat itu. Surya Paloh pun menjawab, ingin memeluk erat, tapi tak bisa.
Framing kata “merangkul atau memeluk” tentu mempunyai arti dan makna politik yang tak mudah diterjemahkan mendalam dan mendetail. Tapi, canda gurau yang mereka pertontonkan menunjukkan kematangan dan kedewasaan berpolitik yang mengirim pesan positif di ruang publik.
Sulit membedakan “politik sindir-sindiran dengan politik berbalas pantun” apalagi dilakonkan para maestro politik kawakan. Multitafsir atas politik berbalas pantun tentu suatu keniscayaan di ruang publik.
Inilah wajah perpolitikan Indonesia ke kinian yang perlu ditunggu episode selanjutnya. Sebab, dalam politik tidak ada yang mustahil, termasuk “sandiwara politik” happy endingnya sulit ditebak.(MR/rl)


