Keluarga Pelapor Kesal, Polres Mabar Lamban Tanggani Kasus Dugaan Penipuan

Keluarga Pelapor Kesal, Polres Mabar Lamban Tanggani Kasus Dugaan Penipuan
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MABAR, NTT – Keluarga pelapor merasa kesal atas lambannya progres tindak-lanjut laporan dari Bonoventura Abunawan di Polres Manggarai Barat terkait kasus dugaan penipuan Bonefasius Bola cs, yang dilaporkan Bonavantura Abunawan pada 19 Desember 2022 lalu.

Saat diwawancarai media ini, Jumat 21 April 2023 pukul 10.00 wita dihalaman kantor Polres Manggarai Barat, mewakili keluarga Karelus Ngotom sampaikan bahwa Kedatangan kami disini lantaran kurang lebih 4 bulan Laporan dari Tokoh adat Bonavantura Abunawan belum ada perkembangan.

“Kami mau menanyakan terkait perkembangan kasus dugaan penipuan saudara Bonefasius Bola Cs, yang telah dilaporkan oleh orang tua kami Bonavantura Abinawan 4 bulan lalu. Namun kami belum bertemu dengan Kapolres dan Kasat Reskrim,” Ujarnya.

Lanjut Karel, sapaan akrap Karelus Ngatom, bahwa pihaknya mempertanyakan kinerja Polres Manggarai Barat yang dinilai sangat lamban dalam menangani laporan dari keluarganya yang bernomor: LP/B/335/XII/2022/POLRES MANGGARAI BARAT/NUSA TENGGARA TIMUR.

“Inikan sudah lama, kok belum ada perkembangan terhadap laporan kami. Ada apa dengan Polres Mabar ini? Jangan sampai ada permainan di ruangan gelap,” ujarnya dengan kesal.

Karel mengungkaokan,, ada beberapa data berdasarkan fakta yang telah mereka lampirkan ke Polres Mabar terkait dugaan perbuatan penipuan Bone Bola, Henrikus Jempo dan lainnya.

Pertama, mereka mengklaim diri Sebagai tua golo/tua gendang Kampung: Terlaing/Tobodo. Tetapi, faktanya Kampung Terlaing itu berbeda dan terpisah dengan kampung Tobodo dan mereka berdua bukanlah warga kampung Tobodo. Ada surat bantahan dari warga Kampung Tobodo yg ditanda tangani oleh 64 org warga kampung Tobodo.

Kedua, Bone Bola, Henrikus Jempo, dan lainnya, mengklaim diri sebagai pemegang hak ulayat atas tanah di kawasan Rangko dan sekitarnya itu. Tetapi, pada saat yg sama mereka mendapatkan tanah di kawasan itu berdasarkan “Kapu Manuk-Lele Tuak” (mengemis) kepada Abdullah Duwa dan Jemaling warga Rangko,nelayan Suku Laut.

Ketiga, Abdullah Duwa dan Jemaling diposisikan sebagai fungsionaris adat/tua adat/tua golo Rangko oleh orang Terlaing si Bone Bola, Henrikus Jempo dan lajnnya itu, (bukti Surat).

Lalu, keempat, untuk diketahui Abdullah Duwa dan Jemaling itu adalah nelayan warga Rangko Suku Bajo asal Bonerate Sulawesi Selatan yang tidak dapat berbahasa Manggarai tapi sangat dijunjung oleh Bone Bola, Henrikus Jempo Cs.

Terakhir kelima, Bone Bola, Henrikus Jempo cs mengklaim bahwa mereka memiliki hak Ulayat tanah sebagai ‘gendangn one-Lingkon pe’ang’, tetapi fakta membuktikan bahwa Kampung Terlaing belum dan tidak memiliki Compang dan Mbaru Gendang hingga sekarang, karena orang Mbehal sebagai pemegang hak Ulayat atas tanah adat di kawasan itu belum dan tidak pernah memberi hak itu kepada orang Terlaing.

“Dari penipuan itu, pelapor Bonavantura serta kami keluarganya mengalami kerugian moril dan material diantaranya, kami merasa tidak nyaman, lalu Bonavantura ditahan 72 hari di Polda Kupang dan 92 hari Polres Manggarai Barat. Kami kehilangan tanah adat seluas puluhan hektar di Kawasan Rangko karena dijual oleh Bone Bola dan orang Terlaing lainnya,” terangnya.

“Kemudian, kami merasa ditipu oleh Bone Bola Henrikus Jempo Cs, karena mereka mengklaim memiliki Hak Gendang atas Kampung Terlaing padahal orang tua kami belum menyerahkan hak gendang KPD mereka. Adapun kerugian materil diperkirakan kurang lebih Rp 5 miliar,” imbuhnya.

Karel berharap kepada Polres Mabar, agar pihak yang menangani laporan tersebut secara profesional, serta menjunjung tinggi asas hukum yaitu, kepastian, kemanfaatan dan keadilan.

“Kita berharap kepada pihak kepolisian untuk sisakan sedikit kepercayaan kami masyarakat dan menjunjung tinggi asas hukum. Sebab kalau tidak, saya pikir kami tidak akan pernah buka laporan lagi jika ada persoalan. Tapi kami selesaikan dengan cara kami sendiri,” tegas Karel.

Kasat Reskrim AKP Ridwan ketika di konfirmasi via gawai mengatakan, dirinya masih di luar kantor sedang menjalankan libur lebaran.Terkait Laporan Bonavantura ia menjelaskan pihaknya tidak bisa berproses karena tidak ada bukti pembandingnya.

“Terkait kasus yang dilaporkan Bonavantura itu, kesulitan kita yaitu tidak ada alat bukti pembandingnya. Apanya yang ditipu gitu lo!,” ungkap Ridwan.

lebih lanjut, ia pun menyarankan agar pada 25 April 2024 mendatang, wartawan langsung mendatangi kantor Polres untuk dijelaskan secara detail.

“Begini, biar saya tidak salah, tanggal dua puluh lima ke kantor aja, karena kemarin kita sudah kirim juga laporan kemajuan kasusnya ke Polda,” tutupnya.(MR/Eras)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.