Agama dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia 

Agama dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia 

METRORAKYAT.COM – Kata Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti menunjukkan adanya kepercayaan manusia berdasarkan wahyu dari Tuhan. Menurut Robert.H Thouless (1992), agama adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan fisik yang terikat ruang dan waktu.

Agama merupakan suatu hal yang harus di ketahui makna yang terkandung di dalamnya, dan agama tersebut berpijak kepada suatu kodrat kejiwaan yang berupa keyakinan. Sehingga dengan demikian, kuat atau rapuhnya Agama bergantung kepada sejauh mana keyakinan itu tertanam dalam jiwa. Banyak Teologi modern akan mengklaim bahwa agama sebagai fenomena memberikan Teologis tantangan teoritis yang paling dasar.

Oleh karena itu, dengan mengetahui makna yang terkandung di dalam agama, maka orang yang beragama tersebut dapat merasakan kelembutan dan ketenangan yang dapat kita ambil dari ajaran agama tersebut. Dan tugas esensial dari agama adalah membuat dirinya relevan dengan keadaan.

Para ahli Psikolog memandang bahwa agama sebagai suatu realitas, karena agama yang ada hubungan antara lingkungan yang ada di luar diri manusia dengan lingkungan yang ada di luar diri manusia itu sendiri. Lain lagi pendekatan yang dikatakan oleh Sosiolog. Mereka menganggap bahwa agama merupakan suatu fenomena Sosial yang dapat dilihat dari tingkah laku para pemeluk agama dan kelembagaan dalam agama.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pencarian suatu definisi tentang agama yang mencakup keseluruhan agama merupakan hal yang sulit untuk didapatkan. Agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang di dalamnya mencakup unsur kepercayaan kepada kekuatan gaib yang selanjutnya menimbulkan respon emosional dan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup tersebut tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut.

Selain itu, kata agama berasal dari bahasa sansekerta “A” berarti tidak; “GAMA” berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau.Atau dapat diartikan suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan tertentu.

Dalam hubungan dengan studi Agama, Robert N Bellah, studi agama yang dilakukan oleh para Sosiolog meliputi:

1.Mereka mengkaji agama sebagai sebuah persoalan teoritis yang utama dalam upaya memahami tindakan sosial.

2.Mereka menelaah kaitan antara agama dan berbagai wilayah kehidupan sosialnya, seperti ekonomi, politik, dan kelas sosial.

3.Mereka yang mempelajari peran, organisasi dan gerakan-gerakan ke Agamaan.

Agama memiliki kekuatan mengagumkan dan sulit di tandingi oleh keyakinan di luar agama, baik doktrin maupun ideologi yang bersifat profan. Agama diperlukan agar masyarakat tidak terpecah belah dalam berbagai kepentingan yang tidak dapat diartikulasikan bersama. Nilai-Nilai agama harusnya menjadi pedoman bagi kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis.

Teori keagamaan menurut Emile Durkheim bahwa fungsi agama sebagai pemersatu masyarakat. Agama adalah sesuatu kekuatan kolektif dari masyarakat yang mengatasi individu-individu dalam masyarakat tertentu. Agama menguatkan manusia dalam menghadapi derita, frustasi, kemalangan. Di Indonesia sendiri, kita tidak dapat menghindari keberagaman dalam beragama. Sehingga setiap umat beragama mempunyai kewajiban untuk mengakui sekaligus menghormati agama lain tanpa membeda-bedakan dan Deskriminatif.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika memiliki makna sesuai dengan keberagaman Indonesia yang tidak hanya bersuku-suku, beras-ras, dan berbudaya, tetapi kita punya makna yang jauh lebih luas bahwa kita memang ditakdirkan sebagai pribadi yang berbeda satu sama lain namun tetap satu tujuan. Berbicara tentang agama, kita pasti tahu bahwasanya jika kita berbicara tentang ini sangat sensitif. Tidak jarang kita melihat masalah-masalah yang terjadi akibat agama. Ada beberapa penyebab konflik antar umat beragama:

1.Mereka masih belum memahami ajaran agamanya atau menyimpang dari aturan/ajaran agama masing-masing.

2.Masyarakat masih mementingkan diri sendiri atau menganggap agamanya yang paling benar.

3.Masyarakat masih bertindak semaunya tanpa mengikuti kaedah yang ada.

Faktor utama yang menyebabkan perselisihan di Tanah Air kita ini sehingga menyebabkan konflik antar umat beragama adalah faktor politik. Faktor politik menyebabkan munculnya konflik yaitu perbedaan pendapat antara satu dengan yang lain. Setiap konflik yang terjadi dalam masyarakat tentu saja akan membawa dampak bagi orang-orang di sekitarnya.

Mengapa terjadi konflik keagamaan?

* Anggapan hanya satu agama yang paling benar → banyak orang beranggapan bahwa hanya ada satu Tuhan dan mereka menganggap agama mereka yang paling benar.

* Agama dianggap memberikan kebenaran absolut → banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa agama itu diberikan oleh Tuhan sang pencipta, ajaran dan doktrin mereka haruslah mutlak dan sempurna.

* Berfikir hitam putih → banyak masyarakat yang mendefinisikan agama dalam bentuk hitam putih. Yang artinya mereka berfikir bahwa agama yang dianutnya adalah kebenaran yang lengkap, sementara agama yang lainnya adalah salah.

*Para pemimpin agama seolah mewakili Tuhan → banyak masyarakat di Indonesia yang percaya bahwa para pemimpin di Indonesia ini mereka seolah berbicara mewakili Tuhan dan oleh karena itu tidak boleh dibantah oleh siapapun.

Setiap manusia pasti membutuhkan agama. Manusia merupakan manusia yang lemah. Ini terbukti dengan akal manusia yang terbatas. Pada zaman globalisasi sekarang ini, terutama dengan adanya kemajuan teknologi informatika, moral manusia semakin hari semakin memprihatinkan.

Pada kondisi zaman seperti ini manusia akan meninggalkan para ulama, pendeta dan lain lain sebagai tempat untuk memetik ilmu. Hal ini dikarenakan hal-hal yang menjadi permasalahan dapat ditemukan jalan keluar dengan secara tepat. Namun yang perlu disadari adalah tidak selamanya bahan yang diakses itu adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan, karena tidak menutup kemungkinan para pembuat situs-situs adalah orang-orang yang hendak menyesatkan umat beragama.(Penulis Yosi Octavia Sibarani)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.