PPKS Akan Bangun Pabrik Biodiesel Kerjasama Investor Kroasia

PPKS Akan Bangun Pabrik Biodiesel Kerjasama Investor Kroasia
Bagikan

METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Sumatera Utara (Sumut) di Medan akan membangun pabrik Biodiesel (B100) kerjasama dengan investor Kroasia di Jambi.

Hal ini disampaikan Kepala kelompok peneliti RTPL (Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan) PPKS M.Ansori Nasution kepada wartawan dalam pertemuan virtual dan keterangan tertulisnya “Sumatera Utara Di Tengah Implementasi B30” yang diselenggarakan Forum Jurnalis Energi (FJE), Minggu (8/8/2021).

Sebagai pembicara Virtual tersebut Kabid Ketenagalistrikan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumut Karlo Purba, moderator Nurhalim Tanjung.

Ansori menyampaikan pabrik yang kapasitasnya 5 ton per hari. Nantinya akan memproduksi 5.000 liter B100 atau 10.000 liter B50. PPKS tetap memproduksi B100, kalaupun nanti dipakai ke lapangan, maka diblending dulu oleh Pertamina menjadi B50 atau B30.

“Investasi mencapai Rp2 miliar dan saat ini masih untuk pemakaian di perkebunan sendiri seperti untuk bahan bakar traktor,” imbuhnya.

Lanjut dia lagi, bahan baku kelapa sawit untuk jadi CPO cukup banyak di sana dimana ada koperasi petani sawit yang dapat memasoknya ke pabrik. Untuk 1,05 kg CPO dapat menghasilkan 1 liter B100.

“Cukup mudah membuat biodiesel, siapapun bisa. Teknologinya tak ada yang istimewa,” tambah Ansori lagi.

Penelitian biodiesel menurut dia, sudah dilakukan PPKS sejak tahun 1990-an. Tahun 2000 PPKS sudah uji coba B10 dengan perjalanan Medan Jakarta.

Kalau B30, berarti biodiesel 30 persen dan sisanya 70 persen solar. Sekarang sudah bisa B50, cuma beberapa kendaraan keluaran terbaru  seperti mobil dari Jepang dan Eropa tak bisa pakai biodiesel. “Hanya kendaraan keluaran lama yang bisa pakai,” paparnya.

PPKS melakukan penelitian bahan bakar biodiesel karena potensi sawit yang cukup besar. Tahun 2019, produksi CPO Indonesia mencapai 46 juta ton, konsumsi lokal hanya 13 juta ton, termasuk untuk B20 dan B30. Sisa CPO itu sebagian besar diekspor.

Di awal tahun 2019, sudah pernah membuat proposal untuk produksi B50 dan disetujui Direktur PPKS. “Saat itu dunia melihat bahwa dengan bahan bakar B50 ternyata kendaraan bisa jalan,” terangnya.

Ia jelaskan, kalau biodiesel bisa menjadi bahan bakar kendaraan maka impor solar berkurang dan potensi CPO yang cukup besar itu dapat dimanfaatkan di dalam negeri sebagai energi terbarukan yang tidak lagi berharap pada energi fosil dimana kondisinya hampir habis.
Kabid Ketenagalistrikan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumut Karlo Purba, mengakui potensi energi di Sumut sudah tak ada lagi seperti minyak dan gas. Potensi air maupun panas bumi yang ada di daerah ini belum dapat dimanfaatkan. Sedangkan besi dan emas ada di Madina, itupun tidak terlalu berharap banyak.

“Sekarang yang diharapkan pemanfaatan sektor energi dari perkebunan seperti biodiesel,” pungkas Karlo seraya menyebut kewenangan Dinas ESDM tak ada lagi tentang tata kelola minyak dan gas (Migas).

Sambung Karlo menyebutkan, untuk B30 dan B20 memang konsumen  wajib menggunakannya.

“Kami sosialisasikan hal ini ke seluruh usaha BBM,” ucapnya.

Saat ini menurut Karlo, harga TBS cukup tinggi mencapai Rp2.300 per kg diikuti dengan tingginya harga CPO sehingga pengusaha sawit lebih tertarik mengekspor produksinya.

“Harapan kita ke depan Indonesia menjadi negara pertama yang menggunakan B100,” cetus dia menutup.(MR/156).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.