PWI Aceh Perlu Regenerasi Kepemimpinan: Jangan Lagi Ada Ketua Bergaya Otoriter dan One Man Show
METRORAKYAT.COM, BANDA ACEH – Menjelang pelaksanaan Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh yang dijadwalkan digelar pada November 2026 untuk memilih Ketua PWI Aceh periode 2026–2031, tokoh dan praktisi pers menyuarakan pentingnya regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia tersebut.
Dalam pernyataannya pada Senin (20/7), mantan Ketua PWI Aceh, Adnan NS menegaskan bahwa PWI Aceh membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu membawa perubahan positif, menjaga marwah organisasi, serta mengembalikan kewibawaan PWI sebagai rumah besar bagi seluruh wartawan.
Menurutnya, pergantian kepemimpinan merupakan bagian penting dari dinamika organisasi yang sehat. Karena itu, kesempatan untuk memimpin PWI harus terbuka bagi kader-kader baru yang memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen terhadap pengembangan profesi jurnalistik.
“Perlu regenerasi Ketua PWI Aceh. Organisasi ini membutuhkan sosok baru yang mampu membawa perubahan agar PWI semakin baik serta marwah dan wibawanya tetap terjaga,” ujar Adnan NS.
Ia mengingatkan bahwa PWI bukan milik individu atau kelompok tertentu. Organisasi tersebut, katanya, merupakan rumah bersama bagi seluruh insan pers yang bernaung di bawah PWI.
“PWI itu rumah naungan kita para wartawan, bukan rumah dia dan bukan pula rumah kamu. Untuk itu semua kita berhak mengisinya, bukan sebaliknya menguasainya secara abadi,” tegasnya.
Adnan juga mengingatkan agar PWI tetap fokus sebagai organisasi profesi wartawan dan tidak kehilangan arah dengan terlalu dekat atau berkolaborasi dalam kepentingan organisasi yang bukan berbasis profesi jurnalistik.
Menurutnya, organisasi profesi harus tetap independen dan menjadi ruang pembinaan kompetensi wartawan, bukan sekadar wadah kepentingan kelompok tertentu.
Lebih jauh, Adnan menilai regenerasi merupakan keniscayaan dalam setiap organisasi. Ia menegaskan bahwa wartawan muda memiliki hak yang sama untuk memimpin PWI, selama memenuhi syarat organisasi.
“PWI adalah wadah organisasi profesi yang memerlukan alih generasi, bukan tempat bercokol kaum manula. Wartawan muda memiliki hak mendudukinya.
Jabatan di PWI bukan warisan nenek moyang dan bukan milik segelintir orang,” katanya.
Ia juga mengkritik pola kepemimpinan yang dinilainya terlalu terpusat pada satu orang atau one man show.
Menurutnya, organisasi tidak boleh dijalankan dengan pola one man show sehingga mengabaikan fungsi kolektif pengurus.
“Yang sudah tua lebih baik mundur teratur saja. Jangan mempertahankan jabatan tetapi tidak memahami pembagian tugas dan justru menjalankan organisasi dengan pola borong tugas atau one man show,” ujarnya.
*Harapan untuk Ketua PWI Aceh Mendatang*
Adnan berharap Konferprov PWI Aceh menjadi momentum lahirnya kepemimpinan yang lebih demokratis, terbuka terhadap perbedaan pendapat, serta mampu merangkul seluruh anggota.
Ia mengingatkan agar para pemilik suara tidak kembali memilih sosok yang memiliki karakter kepemimpinan otoriter.
“Jangan lagi memilih sosok yang diktator dan otoriter. Kalau ada perbedaan penafsiran, jangan sampai kawan sendiri ditendang dan fungsi pengurus dibelenggu,” kata wartawan senior Aceh ini.
Menurut Adnan, Ketua PWI Aceh yang baru nantinya harus mampu menghidupkan organisasi melalui program peningkatan kualitas wartawan, penguatan kompetensi, perlindungan profesi, serta menjaga soliditas internal organisasi.
Ia menegaskan bahwa organisasi profesi seharusnya menjadi tempat pengabdian, bukan sekadar tempat mencari kepentingan pribadi.
“Pilih ketua mendatang yang mampu menghidupkan organisasi PWI, bukan hanya hidup dari organisasi PWI,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Adnan berharap siapa pun yang terpilih nantinya dapat menjadikan PWI sebagai ruang pembinaan profesi yang sehat, inklusif, dan menjunjung tinggi etika jurnalistik.
“Siapapun yang menjadi Ketua PWI mendatang harus menjadikan PWI sebagai wahana penempaan profesi, bukan sarana balas dendam kepada mereka yang berbeda pendapat.
Organisasi ini harus menjadi rumah bersama yang mampu menyatukan seluruh wartawan,” pungkasnya.
Konferprov PWI Aceh yang dijadwalkan berlangsung pada 20-22 November 2026 dipandang sebagai momentum penting untuk menentukan arah organisasi lima tahun ke depan, termasuk memperkuat peran PWI dalam meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan independensi wartawan di Aceh.(MR/red)

