Proyek Pekerjaan Drainase Asal Jadi, Masyarakat di Gang Amal Protes
METRORAKYAT.COM, MEDAN AREA – Puluhan masyarakat dari yang tinggal di Jalan. Sutrisno Gang. Amal, Kecamatan. Medan Area, protes dan mengamuk, Rabu (27/11/2019) malam. Pasalnya, proyek perkejaan pengerukan saluran drainase dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) kota Medan di lokasi tersebut amburadul alias abal-abal bahkan terkesan asal jadi, yang mengakibatkan beberapa pipa saluran pembuangan milik masyarakat pecah tanpa ada ganti rugi. Sementara tumpukan tanah hasil kerukan berlumpur membumbung tinggi sepanjang jalan hingga melumpuhkan aktivitas warga yang hendak keluar masuk gang.
Tantri, warga di lingkungan tersebut mewakili masyarakat yang mengeluhkan pekerjaan proyek ini mengatakan, pengerukan yang dilakukan sejak, Rabu (27/11/2019) pagi sempat dikomplain warga lantaran pipa saluran pembuangan mereka banyak yang pecah. Kemudian, warga juga berontak karena mereka tidak bisa beraktivitas akibat tumpukan tanah berlumpur menggunung di sepanjang gang sampai-sampai tak bisa dilalui.
“Pipa kami pecah, banyak yang pecah nggak diganti mereka (pekerja proyek drainase). Katanya nanti dibenarin orang PDAM Tirtanadi, udah ditelfon, tapi sampai sekarang tidak ada juga diperbaiki,” katanya dengan emosi.
Lanjut dikatakannya, masyarasakat sudah komplain dengan mandor proyek terkait hal ini. Namun, pria berkepala plontos mandor proyek hanya menjanjikan akan mengeruk dan mengangkut tumpukan tanah ke sebuah truk.
“Ini mandornya (sambil menunjukkan orangnya. Dari tadi berjanji aja tanpa ada tindakan (mengankut tumpukan tanah dan mengganti pipa yang pecah,” ujarnya lagi.
Sementara, warga lainnya, Ivan mengatakan bahwa pekerjaan proywk drainase ini sangat merugikan dan mengganggu masyarakat. Dirinya berpersepsi bahwa proyek ini dikerjakan sesuka hati saja.
“Lihat ini, kayak mana proyek begini. Perhatikanlah bagaimana kami ini menjalankan aktivitas esoknya. Ini proyek nggak jelas, anggarannya juga nggak jelas. Buat beritanya besar-besar halaman satu,” teriaknya, sambil menunjukkan tumpukan lumpur di sepanjang jalan.
Masyarakat di lokasi menegaskan dan mengharapkan pemenang tender dalam proyek drainase untuk bertanggung jawab dan tidak menyusahkan mereka. Apalagi, konon kabarnya tanah tersebut tunggu berhari-berhari diangkut sembari menunggu calon pembeli yang membutuhkan tanah tersebut.
Sementara mandor yang saat itu berada di lokasi terlihat bolak-balik menelfon seseorang untuk mengangkut tanah berlumpur tersebut. Saat dikonfirmasi dirinya hanya diam.
Setelah warga masyarakat marah-marah semakin emosi, barulah sebuah truk datang untuk mengangkut sebagian tanah berlumpur di gang itu. Sampai berita ini dikirim ke redaksi pengerukan masih dilakukan. (Suriyanto/Red )
