Reformasi Total Transportasi Perairan Danau Toba

Reformasi Total Transportasi Perairan Danau Toba
Bagikan

METRORAKYAT.COM, TAPUT – Danau toba memiliki panjang lebih kurang 100 KM (62 mil) dan lebar 30 Km(19 mil). Tentunya hal ini sangat perlu di lakukan bagi Kelangsungan dan keselamatan Transportasi perairan Danau Toba bagi penumpang.

Transportasi perairan Danau Toba kini membenahi dengan ditambahnya kapal Ro-Ro Penyeberangan KM Ihan Batak I dan membenahi kapal-kapal kayu dengan membuat alat bantu navigasi pelayaran elektronik seperti yang di lakukan Dinas Perhubungan belakangan ini.

Tentunya jika bicara Transportasi perairan Danau Toba, yang paling penting adalah Keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Keselamatan pelayaran sebagai tanggung jawab bersama dan pentingnya memahami standard keselamatan yang di wajibkan bagi operator dan pemilik kapal.

Hal ini tertuang dalam amanat undang-undang Peraturan Menteri Perhubungan No 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggara sarana bantu pelayaran. Juga tertuang tentang Zona keamanan dan keselamatan pasal 20 ayat (2) yaitu Kapal yang memasuki alur sempit, sungai dan danau pada waktu mendekati sarana bantu navigasi pelayaran apung wajib memperhatikan radius lingkaran putar dengan menjaga jarak aman sesuai kecakapan pelaut yang baik.

Ini juga tertuang pada Undang-undang Republik Indonesia No 25 tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

Sementara di Danau Toba, sarana bantu navigasi visual hampir tidak di temukan adanya Menara suar, rambu suar, pelampung suar dan tanda siang.

Pemerintahan pusat melalui Kementerian Perhubungan lebih fokus pada Pembuatan kapal-kapal baru Ro-Ro dan kapal bus yang akan selesai pada tahun 2020 tetapi seperti lupa memaksimalkan Keselamatan bagi penumpang.

“Saya pribadi belum pernah mendengar akan dibangun adanya rencana pembangunan sarana bantu navigasi pelayaran Visual, pada hal ini sangat penting dan mendesak bagi keselamatan dan kenyaman penumpang kapal.

“Dinas perhubungan telah mengeluarkan total investasi sampai dengan tahun 2020 yaitu sekitar 600 miliar dari APBN,”ujarnya.

Alat dan penunjang keselamatan pelayaran di kawasan Danau Toba masih sangat minim seperti minimnyanya alat bantu navigasi Visual dan alat bantu navigasi elektronik

Zero tolerance for safety

Hal ini menjadi perhatian saya karena ini sebagai Safety bagi pengguna kapal-kapal khususnya yang berlayar pada malam hari.

Disaat menaiki kapal trip terakhir tujuan Ajibata – Onanrunggu, Samosir jadwal berangkatan Trip terakhir sekitar 19:00 WIB perjalanan memakan waktu lebih 2 jam menuju Pelabuhan Onanrunggu.

Yang mana rute Ajibata – Onanrunggu adalah salah satu rute yang terlama menghabiskan waktu sekitar 2 jam dalam transportasi perairan di Danau Toba.

Di tengah perjalanan pada malam hari biasanya ombak di Danau Toba lebih besar di bandingkan siang hari ditambah angin yang lebih kencang juga.

Di saat perjalanan saya itu Pulau Samosir sedang Mati lampu, sang nahkoda kapal kebingungan untuk mencari suatu tanda arah Pelabuhan Onanrunggu yang mana semua pinggiran menuju Onanrunggu pada gelap gulita, ombak yang makin kuat,angin yang makin kencang ditambah hujan yang deras sehingga kapal kehilangan arah yang hampir menabrak keramba jala apung yang bertebaran di pinggiran Danau Toba, lalu kapal berhasil menghindarkan keramba jala apung dan kapal mengarah ke bukit lalu dihindar kan bukit mengarah kembali ke keramba jala apung.

Dalam suasana yang mencekam semua penumpang yang penuh itu pada panik khususnya ibu-ibu sambil menangis dan berucap “ai boa do on Tuhan,ai boado on opung,Tolong jo hami Tuhan”, kata beberapah penumpang, Banyak penumpang yang berdoa agar di beri keselamatan sampai tujuan.

“Saya juga selalu mengingatkan kepada semua penumpang agar tidak panik dan berada pada posisi di lambung kapal yang seimbang agar kapal tidak terbalik(Capsize). Sementara pelampung ( life jacket) sangat sedikit tersedia dikapal,”bilangnya.

Akhir nya kapal sampai di pelabuhan Onan Runggu setelah menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam 30 menit.Artinya kapal terombang-ambing selama 1 jam 30 menit. Sang Nahkoda kapal langsung saya salam dan mengucapkan “Terimakasih”.

Itu semua akibat tidak ada nya Sarana bantu navigasi pelayaran visual di pelabuhan -Pelabuhan sehingga sang Nahkoda kehilangan arah, tidak tau kemana kapal di arahkan.

Banyak juga kapal-kapal charteran yang berlayar pada malam hari apa lagi Pulau Samosir ataupun Kawasan Danau Toba mati lampu pada malam Hari.

Reformasi total Transportasi perairan Danau Toba dimulai dari semua penyediaan sarana bantu navigasi pelayaran.

Ditulis Oleh : Ricardo Hutabarat /METRO RAKYAT MARUDUT NABABAN

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.