Bank Indonesia, PDB 2,5 Persen di 2019

Bank Indonesia, PDB 2,5 Persen di 2019
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Untuk memperkuat ekspor menuju peningkatan sektor wisata maupun impor harus mampu menempuh defisit transaksi berjalan.

Tentu neraca pembayaran akan diperkirakan Surplus, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2019 surplus sehingga dapat menopang stabilitas eksternal. Prospek NPI ini dipengaruhi prakiraan defisit berjalan yang berkurang dan surplus transaksi modal sedangkan finansial cukup besar.

Sebut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko melalui siaran pers di terima wartawan ini, Jumat (26/4) kemarin.

Prospek perbaikan defisit transaksi berjalan tentu didukung peningkatan surplus neraca perdagangan yakni dari 0,33 miliar dolar AS bulan Februari 2019 menjadi 0,54 miliar dolar AS pada Maret 2019.

“Peningkatan surplus dipengaruhi oleh kenaikan neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas,” cetusnya. Sementara itu, surplus transaksi modal dengan finansial cukup besar didukung aliran masuk modal asing yang sampai bulan Maret 2019 tercatat 5,5 miliar dolar AS.

Menurutnya, posisi cadangan devisa akhir Maret 2019 mencapai 124,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, sinergi kebijakan tetap difokuskan pada upaya memperkuat ketahanan eksternal. Langkah untuk memperkuat ekspor, termasuk peningkatan kinerja sektor pariwisata, mengendalikan impor akan terus ditempuh sehingga defisit transaksi berjalan 2019 dapat menuju kisaran 2,5 persen PDB. Kebijakan juga diarahkan untuk menarik aliran masuk modal asing untuk membiayai defisit transaksi berjalan.

Onny menyebut, nilai tukar rupiah menguat ditopang kinerja sektor eksternal yang terus membaik. Nilai tukar rupiah pada 23 April 2019 tercatat menguat 1,17 persen secara point to point dibandingkan akhir Maret 2019 dan 0,58 persen secara rerata dibandingkan dengan rerata Maret 2019.
Jika bandingkan level 2018, nilai tukar rupiah menguat 2,17 persen secara point to point dan 0,80 persen secara rerata. “Perkembangan ini tidak terlepas dari perkembangan aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik, termasuk aliran masuk ke pasar saham yang berlanjut pada April 2019,” papar Onny.

Ke depan, sejalan prospek sektor eksternal yang membaik didorong perekonomian domestik secara positif tetap di samping ketidakpastian pasar keuangan yang berkurang, Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah akan stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga baik.

“Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar akan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, khususnya di pasar uang dan valas,” jelasnya.

Inflasi, Onny menjelaskan pada Maret 2019 inflasi tetap rendah dan terkendali. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2019 tercatatm sebesar 0,11 persen (mtm) atau inflasi 2,48 persen (yoy), setelah sesuai pola musimannya bulan lalu mengalami deflasi sebesar 0,08 persen (mtm) atau inflasi 2,57 persen (yoy).

Inflasi yang tetap terkendali bulan Maret 2019 dipengaruhi inflasi kelompok inti yang melambat dan kelompok volatile food yang kembali mencatat deflasi. Sementara itu, inflasi administered price naik didorong kenaikan tarif angkutan udara. Inflasi yang dalam tren menurun beberapa tahun terakhir, termasuk terkendalinya inflasi kelompok pangan, berdampak positif pada tetap terjaganya daya beli masyarakat, khususnya masyarakat kelompok menengah bawah.

Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran inflasi sebesar 3,5±1 persen pada 2019, ungkap Onny. (MR/JB Rumapea)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.