JOKOWI-KH. MA’RUF AMIN LETAKKAN GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

JOKOWI-KH. MA’RUF AMIN LETAKKAN GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Setelah Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-HM. Jusuf Kalla (JK) periode 2014-2019 meletakkan Grand Design Pembangunan Indonesia Center melalui NAWACITA jilid 1 maka Presiden Jokowi-KG. Ma’ruf Amin akan meletakkan Grand Design Pembangunan Karakter Bangsa (Nation Character Buidings) sebagaimana diamanahkan Bung Karno dalam NAWACITA jilid 2 periode 2019-2024.

Pemerintahan Jokowi-JK yang menitik beratkan pembangunan fisik, terutama membangun infrastruktur dari daerah pinggiran untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, telah mampu memperkokoh Persatuan Indonesia dengan membangun konektivitas, baik darat, laut dan udara sehingga tidak ada lagi rakyat Indonesia terisolasi dari saudara-saudaranya di seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika.

Pembangunan infrastruktur masif, merata di seluruh wilayah kedaulatan Republik Indonesia selama pemerintahan Jokowi-JK telah mengubah image negatif negara merdeka tanpa kedaulatan di mata negara-negara dunia. Pencurian ikan, biota laut dari negara-negara tetangga puluhan ribu triliyun rupiah telah dihentikan revolusioner dengan tindakan hukum tegas penenggelaman kapal pencuri ikan yang merajalela selama puluhan tahun, tanpa tindakan riil pemerintahan sebelumnya.

Kecerdasan Jokowi menjadikan Indonesia Poros Maritim dengan membangun Tol Laut telah mengembalikan habitat Indonesia sebagai Negara Maritim menempati posisi silang diantara dua benua dua samudera di daerah perlintasan khatulistiwa. Pembangunan dermaga-dermaga berdaya tampung kapal besar akan memperkuat daya saing Indonesia serta menggeser posisi Singapura transito perlintasan lalu lintas perekonomian internasional. Jokowi dengan kecerdasan dan kejenialannya telah mengubah mindset bangsa yang memunggungi lautan dan menjadikan halaman belakang negara menjadi halaman depan berhadapan dengan negara-negara tetangga sebagaimana makna sejati keutuhan wilayah kedaulatan Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Pembangunan perbatasan negara dengan negara tetangga menjadi salah satu skala prioritas pembangunan pemerintahan Jokowi-JK agar tujuan pendirian negara sebagaimana diamanahkan Pembukaan UUD RI 1945, “Melindungi seluruh rakyat Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia…dst tidak sebatas teoritis, retorika, wacana.

Pembangunan fisik infrastruktur Tol Darat, Tol Laut, Tol Udara serta infrastruktur pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan adalah prasyarat dasar dan fundamental fundasi pembangunan berkelanjutan mewujudkan Ajaran TRI SAKTI Bung Karno, “Berdaulat dalam politik, Berdiri Diatas Kaki Sendiri (Berdikari) dalam ekonomi, Berkepribadian dalam kebudayaan”.

Namun sayang seribu kali sayang, Visi-Misi, ide, gagasan, program cerdas, jenial, brilian itu “gagal” dimengerti, dipahami segelintir politisi sontoloyo yang telah mendarah daging dengan politik kebohongan selama ini. Para politisi sontoloyo itu telah membajak dan menyesatkan publik dengan berbagai argumentasi tak masuk akal melalui fitnah-fitnah kejam, keji, biadab, hoax atau kebohongan, kebencian, adu domba, provokasi, agitasi, kampanye hitam untuk menyerang Jokowi yang tiada hari tanpa kerja…..kerja….. dan kerja…..demi kemajuan bangsa dan negara. Bahkan, program pro rakyat pemberian sertifikat tanah gratis untuk rakyat perwujudan reforma agraria serta pemastian hak keperdatan rakyat telah dituduh penciteraan dan pengibulan oleh Amien Rais. Padahal ketidakpastian alas hak itulah momok paling menakutkan terhadap rakyat sepanjang usia republik merdeka.

Infrastruktur jalan, termasuk jalan Tol adalah urat nadi perekonomian untuk memperlancar arus lalu lintas barang dan jasa. Selain bernilai keekonomian infrastruktur jalan membuka keterisolasian daerah serta pengungkit kemajuan dan mengurai sekat-sekat sosial. Sungguh sangat disyangkan ada segelintir “pelacur Intelektual” menuduh Jokowi “ugal-ugalan” membangun infrastruktur masif di seluruh wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Inilah sebagian kecil tuduhan tak berdasar menyerang Presiden Jokowi yang mengawali karier politiknya Walikota Surakarta-Solo, Gubernur DKI Jakarta, Presiden RI Ketujuh periode 2014-2019 dengan berbagai torehan prestasi spektakuler memukau mata dunia.

Jokowi-KH. Ma’ruf Amin

Joko Widodo (Jokowi) seorang nasionalis sejati dan religius tulen memilih berpasangan dengan DR. KH. Ma’ruf Amin seorang Kiayi Ulama Besar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah pasangan calon presiden/calon wakil presiden tepat dan akurat untuk MELETAKKAN GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA ( NATION CHARACTER BUILDINGS) sebagaimana diamanahkan Pendiri Bangsa (founding fathers), Penggali Pancasila 1 Juni 1945, Proklamator Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Presiden RI Pertama, Bapak Bangsa Bung Karno.

Mengapa Pembangunan Karakter Bangsa penting…..???

Faktor pertama dan utama keruntuhan suatu bangsa dan negara sesungguhnya ialah kerusakan karakter bangsa.

Segala bentuk khianat terhadap bangsa dan negara terlahir dari karakter buruk, busuk warga negara itu sendiri.

Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), penyelewengan kekuasaan, pengemplangan pajak, penggarongan, perampokan harta kekayaan negara, bahkan pengkhinatan terhadap bangsa dan negara diakibatkan kerusakan karakter mental dan moral. Ujaran kebencian, fitnah, adu domba, hasut, hujat, provokasi, agitasi, permusuhan, hoax atau kebohongan, serta kampanye hitam, dll tidak terlepas dari kerusakan karakter mental, moral.

Salah satu ancaman laten keutuhan bangsa di era belakangan ini ialah munculnya “Turbulensi Kebangsaan” akibat “reinkarnasi” faham-faham sektarian-primordial sentimen agama, suku, ras, dan antargolongan (SARA) yang dilancarkan kelompok radikalisme, ekstrimisme, intoleran, anarkhisme, premanisme berbaju gamis mengoyak, mengobok-obok, mencabik dan memporak-porandakan Persatuan Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilahirkan konsensus nasional putera-puteri terbaik bumi Nusantara diawali sejarah perjuangan panjang membangsa dan menegara sejak Gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Proklamasi 17 Agustus 1945 telah dibajak politisi haus kuasa dengan membangkitkan dan mengobarkan sentimen SARA dalam pertarungan politik perebutan haus kuasa.

Ambisius berkuasa inilah salah satu permasalahan bangsa berpotensi “meruntuhkan” bangunan kebangsaan dan keindonesiaan yang harus segera diantisipasi untuk menjaga dan menjamin survival Republik Indonesia warisan generasi sepanjang masa.

Kerusakan karakter mental, moral bangsa sadar atau tidak telah terjadi di era milenia ini. Salah satu bukti konkrit ialah tertangkapnya pemangku kekuasaan seperti, ketua DPR RI, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Ketua DPD RI, Ketua/Presiden Partai Politik, Menteri, Anggota DPR RI, DPRD provinsi, kabupaten/kota, oknum Kejaksaaan RI, oknum Hakim, oknum Kepolisian RI, pejabat negara, pejabat BUMN/BUMD, Pengusaha nakal, dll akibat tindak pidana korupsi sungguh menyedihkan dan memalukan.

Bukankah mereka diberi amanah kepercayaan rakyat untuk mengemban tugas dan wewenang selurus-lurusnya dan seadil-adilnya sesuai perintah konstitusi…….??? Tapi mengapa mereka korupsi dan mengkhianati amanah kepercayaan rakyat…..????

Semua itu akibat KERUSAKAN KARAKTER MENTAL DAN MORAL.

Jokowi Bersih, jujur, berani, kompeten, PROFESIOANAL, berprestasi, berintegritas, merakyat, beriman didampingi DR. KH. Ma’ruf Amin Ulama Besar dipercaya mampu MELETAKKAN GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA lima tahun ke depan.

Medan, 22 Maret 2019.
Salam NKRI…….!!! MERDEKA……!!!
Ditulis oleh: Drs. Thomson Hutasoit (MR/red)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.