Inilah Kedua Orangtua Pelaku Teror Bom Di Gereja Katolik
MetroRakyat.com I MEDAN — Sementara, Selasa siang kemarin, (30/8), kedua orang tua tersangka IAH, tampak hadir ke Mapolresta Medan. Namun keduanya tak banyak memberikan komentar. Pantauan di Gedung Sat Reskrim setempat, kedatangan Makmur Hasugian bersama Arista br Purba menenteng sebuah berkas. “Kami diminta datang kemari untuk menyerahkan akta kelahiran anak kami, karena anak kami ini masih di bawah umur,” kata pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.
Arista menambahkan, mereka tidak tahu alasan penyidik meminta mereka membawa akta lahir itu. “Kita tidak tahu untuk apa, tapi namanya kita dipanggil disuruh mengantar akta kelahiran. Apa pun kami nggak tahu kecuali mengantar akta lahir,” imbuh perempuan berkerudung merah jambu itu sembari digiring petugas Provost ke ruangan Tipiter Polresta.
Di satu sisi, selaku Makmur Hasugian, meminta kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus teror gereja yang melibatkan anaknya itu. Menurutnya, keluarganya menjadi korban dalam kasus ini. Orang tua Ivan yakin, anaknya hanyalah korban pencucian otak. “Anak saya, masih di bawah umur, dan dia korban dari pelaku kejahatan. Siapa pelaku pencucian otak ini, siapa yang memberikan harapan-harapan dan janji-janji kepada anak saya, ini yang harus diungkap,” katanya kepada wartawan.
Makmur mengaku, dia juga berupaya dengan meminta anaknya untuk terbuka. “Sampai sekarang anak saya masih tertutup,” akunya. Seperti diberitakan sebelumnya, Ivan diamankan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (28/8) pagi. Dia diduga ingin meledakkan bom. Pemuda ini diringkus jemaat saat menyerang Pastor Albert S Pandiangan dengan pisau. Polisi sendiri meyakini bahwa Ivan tidaklah sendiri. Dan meyakini ada pihak-pihak yang membantu kelancaran aksi teror itu. Sejauh ini, Ivan disangkakan pasal terorisme oleh penyidik Polresta Medan. (MR/team).
