Danantara, MIND ID, dan Inalum Perkuat Ekosistem Aluminium Terintegrasi di Mempawah, Target Swasembada 2030

Danantara, MIND ID, dan Inalum Perkuat Ekosistem Aluminium Terintegrasi di Mempawah, Target Swasembada 2030
Bagikan

METRORAKYAT.COM, BATU BARA – BPI Danantara Indonesia bersama MIND ID dan PT Indonesia Asahan Aluminium/INALUM membahas penguatan ekosistem industri aluminium nasional yang terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Pertemuan ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional untuk mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kekuatan industri.

Hal tersebut disampaikan CEO BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, melalui akun Instagram resminya @rosanroeslani, Sabtu, (21/8/2026).

“Hilirisasi harus mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri. Bersama MIND ID dan Inalum, kami membahas pengembangan ekosistem aluminium yang terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dari bauksit dan alumina hingga aluminium,” tulis Rosan.

Ekosistem yang dimaksud mencakup rantai penuh mulai dari tambang bauksit, Smelter Grade Alumina Refinery/SGAR, hingga Smelter Aluminium. Proyek ini digarap oleh anggota MIND ID yaitu INALUM dan ANTAM melalui PT Borneo Alumina Indonesia.

Target utama dari proyek ini adalah memperkuat rantai pasok strategis nasional dan mendorong swasembada aluminium pada 2030. Pemerintah menargetkan seluruh infrastruktur energi untuk menopang operasional smelter sudah siap pada 2028.

Sebelumnya, Danantara juga telah meresmikan groundbreaking 6 proyek hilirisasi nasional senilai sekitar US$7 miliar atau Rp110 triliun pada Februari 2026. Salah satunya adalah proyek pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah dengan total investasi mencapai US$6,32 miliar.

Aluminium disebut sebagai material strategis abad ke-21 yang dibutuhkan di sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, hingga industri pertahanan. Dengan hilirisasi, nilai tambah bauksit yang semula US$40/ton bisa meningkat hingga US$2.800-US$3.000/ton dalam bentuk aluminium.

Selain sektor tambang, dalam pertemuan yang sama juga dibahas penguatan sektor manufaktur. Danantara berdiskusi dengan PT Gajah Tunggal Tbk terkait ekspansi produksi, termasuk pengembangan fasilitas ban PCR.

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pasar dalam negeri sekaligus memperluas pasar ekspor produk ban Indonesia.

“Dari sumber daya menjadi industri. Dari industri menjadi nilai tambah. Inilah hilirisasi yang menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian, dan meningkatkan daya saing Indonesia,” tegas Rosan.

Kolaborasi antara Danantara, BUMN tambang, dan swasta manufaktur ini diharapkan menjadi akselerator bagi terwujudnya Indonesia sebagai negara industri yang berdaya saing global. (MR/PS)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Metro Rakyat News

Tinggalkan Balasan