Tokoh Masyarakat Pertanyaan Pengawasan PGE Yang Sebabkan Kebakaran Rumput di Cluster 1
METRORAKYAT.COM, ACEH UTARA – Tokoh masyarakat Aceh Utara HM Yusuf Hasan mempertanyakan pengawasan dari PT Pema Global Energi (PGE) yang telah menyebabkan kebakaran rumput di area cluster 1 di Desa Keude Aron, Kecamatan Syamtalira, Kabupaten Aceh Utara.
Kebakaran tersebut menyebabkan kepanikan dan keresahan dari warga setempat pada Sabtu (12/8/2023) kemarin sekitar pukul 12.00 WIB.
“Dimana pengawasan dari PGE hingga terjadinya kebakaran. Tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya saat perusahaan migas tersebut dikelola oleh ExxonMobil dan PHE. Apalagi kebakaran terjadi di area dalam cluster yang memiliki resiko sangat tinggi,” kata HM Yusuf Hasan di Aceh Utara, Minggu (13/8/2023).
Dikatakan HM Yusuf Hasan, peristiwa kebakaran rumput tersebut menunjukkan bahwa PGE tidak profesional dalam mengelola blok B, hal tersebut dinilai dari kurangnya pengawasan yang meresahkan masyarakat di lingkungan perusahaan.
“Saya dulu pernah bekerja di ExxonMobil, dulu safety nya sangat diutamakan. Apalagi informasi yang beredar bahwa kebakaran tersebut diduga terjadi akibat kelalaian petugas membakar rumput atau membuang puntung rokok sembarangan,” katanya.
Menurut HM Yusuf Hasan, jika kebakaran terjadi akibat membakar potongan rumput, maka sangat disayangkan. Padahal sebelumnya Kapolda Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar sedang gencar-gencarnya mengintensifkan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan, mengingat sedang memasuki musim kemarau dan fenomena elnino yang berdampak pada kekeringan.
“Untung saja kebakaran tersebut terjadi di cluster 1 yang saat ini area tersebut tidak difungsikan, jika terjadi di cluster 3 dan cluster 4 yang difungsikan, maka pasti sangat berdampak besar, tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri, akan tetapi juga bagi warga lingkungan,”ujarnya.
HM Yusuf Hasan menilai bahwa sejak pengelolaan blok B dipegang oleh PGE hingga saat ini mampu menampung aspirasi putra dan putri di lingkungan perusahaan untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut.
“Jangan hanya bicara data saja bahwa putra-putri Aceh Utara yang bekerja di PT PGE mencapai 70 persen, namun nyatanya di lapangan tidak sampai 5 persen warga lingkungan yang bekerja di perusahaan tersebut,” katanya.
HM Yusuf Hasan menyebutkan bahwa sejauh ini banyak warga, baik geuchik (kepala desa) maupun tokoh masyarakat setempat mendatanginya guna mengeluhkan persyaratan perekrutan pekerja yang dianggap menjadi salah satu upaya menjegal putra-putri daerah itu untuk bekerja di PT PGE.(MR/red)
