Sobat GAN’PRAN SUMUT: Menolak Lupa Tragedi Mei 1998

Sobat GAN’PRAN SUMUT: Menolak Lupa Tragedi Mei 1998
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Sobat GAN’PRAN SUMUT, menggelar Rapat Koordinasi lanjutan dan sekaligus menggelar Diskusi Interaktif terkait ‘Menolak Lupa Tragedi 1998’, di Kantor Sekretariat Jl.KL Yos Sudarso Platina Raya GG. Benteng, Kec.Medan Deli, pada Sabtu Sore sekira pukul 15.00 Wib s/d Selesai.

Deketahui seluruh Jajaran Pengurus dan Anggota Sobat GAN’PRAN SUMUT yang hadir dan diingat kembali saat, “Anaknya hilang nggak tahu keberadaannya, mana mungkin bisa move on?”, geram Agus Prayetno, saat menggambarkan perasaan keluarga korban hilangnya aktivis Mei 1998. Tiga tahun yang lalu, Leila menceritakan betapa mencekamnya kejadian tragis yang menjatuhkan banyak korban kala itu.

“Jika sebelum 1945, rakyat dihadapkan dengan penjajahan dari negara lain, di tahun 1998 inilah rakyat dijajah oleh negara sendiri. Pilu saat melihat bekas banner besar bertuliskan “KAMI DIBUNUH BANGSA SENDIRI” bertebaran di jalanan, tempat keosnya aksi besar-besaran tanggal 12, 13, 14, 15 Mei 1998”, ucap Agus yang dikenal sebagai Sekretaris Jenderal Sobat Gan’Pran SUMUT.

Jikalau sebelum kemerdekaan, penjajahan atas negara Belanda dan Jepang menjadi cerita sejarah yang diabadikan dalam mata pelajaran di setiap jenjang sekolah. Tapi tidak dengan peristiwa brutalnya pelanggaran HAM 1998, yang tidak diceritakan barang secuil pun pada generasi muda di era modern ini.

Sambung Bung Joe selaku Humas Sobat GAN’PRAN SUMUT, “Ya bagaimana mau diceritakan, kalau sampai sekarang saja korbannya masih ditakut-takuti dengan ancaman dan terror yang masih mengintai mereka. Pelanggaran HAM apa yang mau kalian tanyakan pada tragedi Mei 1998, semua ada”, ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Tak kalah serunya disambut dengan suara lantang Ketua Sobat GAN’PRAN SUMUT Hadi Suryadi, “Kalau diceritakan mungkin bisa berjilid-jilid. Aku mendengar kesaksian-kesaksian dari para Relawan kemanusian yang masih bertahan hingga sekarang. Ada pemerkosaan, penjarahan, penembakan, penculikan, penghilangan paksa, penganiayaan hingga pembunuhan karena menyatakan kesiapsediaannya menjadi saksi kejahatan seksual dalam sidang PBB kala itu”, ucapnya.

“Mungkin, diam pada waktu itu adalah hal yang tepat agar selamat dari mara bahaya yang terus menguntit. Tapi tidak dengan mahasiswa yang terus dicekoki ketidakadilan ini, mereka dan keluarga sudah menjadi korban kesemena-menaan pemerintah Orde Baru”, disambung oleh Wakil Ketua Suryantoro.

“Apalagi saat mendengar orang tak bersalah apapun, ketika mereka masuk department store langsung dikunci dari luar. Apa yang terjadi setelahnya? Mall dibakar, dengan manusia yang masih hidup sehat di dalamnya. Penilaianku salah, aku kira diam seperti mannequin di mall adalah cara paling aman, tapi nyatanya bahaya itu menyerang rakyat dimanapun tempatnya”, ucap Suryantoro lagi.

Tak segan-segan dikatakan Pak Manao Sang Jurnalis mengatakan bahwa, “UUD 1945 bahkan dasar negara kala itu tidak ada artinya, yang ada hanya kekuasaan pemimpinnya dengan penderitaan yang dirasakan rakyat. Gebrakan mereka lakukan untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto. Bak sarang tawon yang diusik manusia, mereka murka hingga melakukan perbuatan yang kelewatan, melebihi dari batas ketidakadilan”.

“Awalnya memang pengamalan sila keempat, kelima Pancasila saja yang musnah, tapi kemanusiaan yang adil dan beradab juga hilang meninggalkan sarangnya. Persatuan Indonesia pun ditelan pemerintahnya sendiri. Kondisi negara menjadi carut marut, bahkan krisis moneter juga menghinggapi tubuh negara ini, dimana harga dollar melejit hingga rupiah melemah”, kembali dikatakan oleh Agus Prayetno.

“Perlahan demi perlahan peristiwa Mei 1998 ini tergerus oleh waktu, maka dari itu orang seperti Leila dan kawannya yang menjadi saksi dalam bengisnya pemerintahan Soeharto kembali, menuangkan kisahnya dalam novel. Karena hanya dengan tulisanlah sejarah kelam negara ini dapat diingat, agar dikemudian hari tragedi ini tidak terulang lagi”, disebutkan oleh Wakil Bendahara Rahma Dani dengan tenang.

Tentu kisah kelam itu juga menjadi pelajaran bagi penerus bangsa untuk terus menyuarakan ketidakadilan agar negara ini tidak amburadul, karena pemimpinnya hanya menginginkan kekuasaan tanpa memikirkan keprihatinan rakyat dalam menjalani kesulitan hidup.

“Aku belum membaca versi full Novel Laut Bercerita, tapi dari penulisnya sendiri sudah menceritakan secara umum bagaimana perlakuan pemerintah kala itu terhadap rakyatnya. Penembakan mahasiswa terjadi dimana-mana, penjarahan membabi buta, siapa yang berani menyuarakan pendapat, kritik dan aksi protesnya maka tandanya mereka siap dihabisi”, ungkap Rahmayani Br. Hasibuan sebagai relawan yang terkenal aktif.

“Dan yang paling menonjol dalam novel Laut Bercerita adalah tentang hilangnya barisan aktivis, bagaimana bentuk penyiksaan yang dirasakan para aktivis. Mereka diinterogasi, ditentang, disekap, dipukul, disetrum, hingga dihilangkan paksa. Entah dibunuh dan jasadnya dibuang, atau disembunyikan dimana. Hanya eksekutor dan para bosnya yang tahu detail keberadaan para aktivis itu”, ungkapan kesal yang disebutkan Parlaungan Batubara sebagai salah satu aktivis saat sekarang ini di Sobat GAN’PRAN SUMUT.

Kemudian Sang Jurnalis menuliskan dari sudut pandang korban yang selamat dari kejadian itu dan pastinya keluarga mereka. Kenapa keluarga korban? Karena keluarga mereka juga termasuk korban, yang terus khawatir dan dilema memikirkan anaknya yang hilang tak tau rimbanya.

“Perjuangan mereka hanya berkutat di pertanyaan ‘Kalau sudah mati dimana kuburannya? Kalau masih hidup, disembunyikan dimana?’ saja. Selama 25 tahun, pertanyaan itu tidak menemukan jawabannya. Seperti mayat di dalam air, mengambang, semua kabur, dan abu-abu”, ucap Hadi Kembali.

Kebiadaban ini membuat para keluarga aktivis mengutuk perbuatan bengis pemerintahan orde baru. Lebih menyayat hati ketika tahu beberapa orang-orang yang merupakan eksekutor dari peristiwa Mei 1998 ini masih hidup sampai sekarang.

Tidur nyenyak, makan lahap, berjalan tanpa beban, bahkan masih bisa berjoget dan berlenggak-lenggok didepan publik, disaat keluarga korban masih terbayang dengan senyum anak mereka dan kenangan bersama sebelum peristiwa naas itu terjadi. Sungguh, memuakkan.

Pembelaan mereka hanya sebatas “pelanggaran HAM itu sudah dipertanggungjawabkan”. Jawaban macam apa itu??? Lagi-lagi jawaban mereka sama sekali tidak melegakan, justru benih kebencian semakin tumbuh besar.

“Aku pun ikut mempertanyakan mana pertanggungjawabannya, dalam bentuk apa, hukuman apa yang diterima para eksekutor ini, dan apa kepastian jawaban untuk keluarga para aktivis yang keberadaannya tidak diketahui ini. Mereka ada dimana, tuan???”, ucap Joe.

Yang mereka inginkan tidak muluk-muluk, bukan penebusan ataupun pemberian hukuman kepada orang-orang yang menjalankan aksi sadis itu. Tapi cukup pengakuan negara bahwa pelanggaran HAM berat itu memang pernah melanda Negara Demokrasi ini, dan jaminan bahwa tragedi sadis itu tak akan pernah terulang lagi.

Dari kekejian dalam insiden Mei 1998 itu, Para Aktivis dan Relawan yang telah tergabung di dalam Sobat GAN’PRAN SUMUT mengingatkan kembali kepada kita untuk terus berhati-hati dalam memilih pemimpin untuk negara ini. JANGAN SAMPAI KITA TERJEBAK LAGI BERSAMA PEMIMPIN YANG OTORITER DAN SEMENA-MENA AKAN KEKUASAAN!!, karena masih saja yang mau mencoba-coba membangkitkan kembali masa itu, dan jika itu terjadi maka ORDE BARU pun akan terus menghantui kehidupan rakyat, dan penjajahan di negara sendiri tidak bisa lagi dihindari.(Red/Tim)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.