Ketua DPRD Samosir Sahuti Aspirasi Petani Penyadapan Getah Pinus
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Ketua DPRD Samosir, Sorta E Siahaan yang didampingi wakil ketua Nasib Simbolon, mengatakan, bahwa terkait aksi petani yang menolak surat permohonan Bupati Samosir kepada Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) perihal permohonan guna penghentian penyadapan getah pinus di wilayah Kabupaten Samosir.
Melalui Wakil Ketua DPRD Nasip Simbolon menjelaskan, DPRD tidak berwenang mengatakan setop penderesan getah pinus atau melanjutkan penderesan yang terjadi di lapangan.
“Bahwa DPRD Samosir tidak berwenang setop atau lanjut penyadapan getah pinus,” tuturnya yang di amini Ketua DPRD Sorta Siahaan, Jonner Simbolon dan Pilippus Pandiangan saat menerima perwakilan petani yang menyampaikan aspirasi ke gedung dewan, Selasa (23/8/2022), Samosir.
Dia jelaskan, bahwa selama tidak ada surat pemberitahuan penghentian dari Kementerian LHK atau Pemerintah provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) melalui Dinas Kehutanan, dimana DPRD Samosir hanya mengakomodir untuk melakukan penanaman, menjaga supaya tidak terjadi kebakaran hutan serta lahan. Namun jika melakukan penyadapan harus sesuai dengan SOP,” tuturnya.
Sementara koordinator aksi demo Saroha Siregar menyampaikan, mulai besok masyarakat sudah boleh beraktivitas melakukan penderesan.
Selain himbauan, Saroha Siregar mengucapkan terimakasih kepada ketua Dewan Sorta E Siahaan, wakil ketua Nasip Simbolon serta anggota Jonner Simbolon dan Pilippus Pandiangan.
Setelah menyampaikan orasi dan diterima Ketua Dewan beserta wakil ketua, massa aksi demo meninggalkan Kompleks Kantor DPRD usai berdialog dengan DPRD Samosir.
Sebelumnya, ratusan petani yang mengatasnamakan Asosiasi Masyarakat Perhutanan Sosial (AMPS) Kabupaten Samosir, melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Bupati, yang dilanjutkan ke gedung dewan.
Aksi unjuk rasa mempertanyakan surat Bupati Samosir Nomor 360/1777/BPBD/VIII/2022, kepada Gubernur Sumatera Utara, yang meminta Dinas Kehutanan Provsu agar menghentikan aktivitas penyadapan getah pinus dan perbaikan siprinkle.
Massa juga menolak bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi baru-baru ini di Samosir bukan karena penderesan getah pinus.
“Kami hanya menderes dan butuh makan, butuh biaya. Kamu datang hanya untuk buat kami cemas. Kami tahu kamu bukan pengusaha, kamu tidak sanggup memberikan kami pekerjaan, sudah berapa tahun menjadi bupati, tunjukkan jati dirimu, jadilah anak muda yang cerdas,” seru Saroha Siregar.
“Kami meminta Bupati Samosir untuk mencabut surat yang ke gubernur. Kalau menyurati, surati langsung kementerian karena izin kami dari kementerian. Jangan ganggu kami cari makan. Kami bukan peminta-minta,” tegasnya
Salah seorang ibu yang tidak mau menyebutkan jati dirinya mengatakan dengan tegas serta mempertanyakan sikap Bupati Samosir yang meminta penyetopan penderesan getah pinus.
“Jangan sewaktu mencalonkan datang ke Salaon atau ke desa-desa minta dukungan untuk di pilih jadi Bupati Samosir. Akan tetapi setelah duduk di kursi jadi tidak pernah ke Salaon Dolok dan membuat warga semakin melarat, ini namanya kepemimpinan menang sendiri”, tegasnya mengakhiri.(MR/red)
