Ekspor Sumut Februari 2022 Menurun

Ekspor Sumut Februari 2022 Menurun
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Ekspor Sumatera Utara (Sumut) untuk bulan Februari 2022 mengalami penurunan.

Nilai ekspor tersebut melalui pelabuhan muat di daerah Sumut yang mengalami penurunan dibandingkan Januari 2022, yakni dari US$956,41 juta menjadi US$885,40 juta atau turun sebesar 7,43 persen.

“Jika dibandingkan pada bulan Februari 2021, ekspor Sumatera Utara mengalami kenaikan sebesar 19,75 persen,” imbuh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Nurul Hasanudin SST M Stat melalui live streaming, Senin (4/4/2022).

Dijelaskan dia, untuk golongan barang yang mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar di wilayah Sumut bulan Februari 2022 terhadap Januari 2022 adalah golongan ampas dan sisa industri makanan sebesar US$10,07 juta (25,81%).

Sementara ekspor ke Tiongkok pada bulan Februari 2022 merupakan yang terbesar yakni US$125,09 juta diikuti Amerika Serikat sebesar US$77,00 juta dan Rusia sebesar US$56,41 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 29,20 persen.

Menurut kelompok negara utama tujuan ekspor pada Februari 2022, ekspor ke kawasan Asia (di luar ASEAN) merupakan yang terbesar dengan nilai US$293,00 juta (33,09%).

Kemudian sektor Pertanian pada Februari 2022 mengalami penurunan US$6,03 juta (-9,92%) dibandingkan Januari 2022, sektor Industri turun sebesar US$65,03 juta (-7,26%).

Kontribusi nilai ekspor sektor industri terhadap total nilai ekspor Februari, sebesar 93,81 persen, sektor pertanian sebesar 6,19 persen, dan sektor pertambangan dan penggalian, sektor minyak dan gas, serta sektor lainnya sebesar 0,00 persen.

Lanjut dia, memaparkan, sekitar 33,09 persen barang ekspor dari Sumut dipasarkan ke kawasan Asia di luar ASEAN.

Untuk kawasan Asia di luar ASEAN, Jepang, India dan Korea Selatan juga merupakan pangsa ekspor masing-masing sebesar US$56,21 juta, US$38,42 juta dan US$22,11 juta.

“Untuk periode Januari – Februari 2022 jika dibandingkan periode yang sama tahun 2021, negara tujuan utama mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar adalah Tiongkok sebesar US$78,05 juta (47,60%) diikuti Rusia sebesar US$42,95 juta (54,51%) dan Belanda sebesar US$29,10 juta (66,58 persen),”ucapnya. (MR/156).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.