Bukan Cuma Soal Uang: Permata Bank Ajak Nasabah Medan Melihat Kekayaan dari Tiga Perspektif
METRORAKYAT. COM, MEDAN – Ketangguhan sering diukur dari seberapa besar aset yang dimiliki. Padahal, dari rangkaian sesi edukasi Wealth Wisdom 2026 di Medan, ketangguhan justru lahir dari hal-hal yang lebih personal, yaitu keberanian mewariskan kepercayaan, kepekaan dalam mengenali sinyal tubuh sendiri, dan kemampuan membaca ketidakpastian. Tiga hal tersebut dibahas oleh para narasumber dari tiga sudut pandang yang berbeda.
Ketiganya menjadi bagian dari semangat Wealth Wisdom 2026, bahwa kekayaan bukan hanya tentang aset yang tumbuh, melainkan juga kesiapan dalam menghadapi setiap fase kehidupan.
Melepas Kendali Pelan-pelan, Kunci Mewariskan Kepercayaan
“Apa musuh terbesar orang tua?”, pertanyaan itu membuka sesi “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts” dari Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN periode 2011-2014.
Jawabannya bukan usia, melainkan ketakutan, khususnya rasa khawatir terhadap masa depan anak. Menurutnya, ketakutan itu wajar, namun orang tua perlu belajar melepas kendali secara bertahap agar anak benar-benar siap menjadi penerus, bukan sekadar meneruskan.
“Ada dua hal yang paling ditakuti orang tua zaman sekarang, yaitu anaknya tidak pintar dan dirinya sendiri sakit. Dua ketakutan itu yang membuat sektor pendidikan dan kesehatan terus berkembang, karena orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya,” ujar Dahlan Iskan.
Ia juga membagikan cara sederhana memberi kepercayaan finansial kepada anak secara bertahap, misalnya lewat kewenangan kecil yang terlebih dahulu diberikan dan diawasi selama beberapa bulan sebelum diperluas.
Soal kegagalan yang biasanya ditakutkan orang tua, ia justru membaliknya jadi ukuran kesiapan anak karena kegagalan juga dapat menjadi bagian dari proses belajar.
“Kalau di usia 28 sampai 32 tahun anak sudah jatuh, orang tua justru harus bangga, karena anak itu sudah masuk universitas kegagalan,” ujarnya.
Keraguan Jadi Musuh Utama Saat Tubuh Beri Sinyal Bahaya Sesi “Healthy Body, Resilient Mind” dari dr. Gia Pratama, Dokter dan Penulis, bersama Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi & Elektrofisiologi, mengingatkan bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari ketangguhan seseorang dalam menjalani kehidupan dan mengambil keputusan.
Para narasumber menekankan pentingnya mengenali sinyal tubuh, melakukan pemeriksaan rutin, serta membangun kebiasaan sehat sejak dini.
“Keraguan adalah musuh masyarakat kita. Banyak orang langsung mengatakan ‘masuk angin’, padahal itu bisa jadi gejala serangan jantung,” ujar dr. Gia Pratama.
Dr. dr. Faris Basalamah menambahkan bahwa banyak kasus serangan jantung justru datang tanpa gejala yang jelas sebelumnya, sehingga pemeriksaan rutin seperti mengecek tekanan darah menjadi penting, bukan hanya dilakukan ketika muncul keluhan.
Sementara itu, dr. Gia Pratama mengingatkan bahwa kebiasaan kecil sehari-hari ikut berperan terhadap kesehatan jantung dalam jangka panjang. Pesannya sederhana.
“Olahraga terbaik adalah olahraga yang dilakukan secara rutin. Apa pun bentuknya, yang penting jantung kita bergerak,” katanya.(MR/Donal)
