Deputi BI : Exit Strategy Jaga Stabilitas Dorong Pemulihan Ekonomi
METRORAKYAT.COM, JAKARTA – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan, Exit strategy (normalisasi kebijakan paska Quantitative Easing) harus dilakukan secara well calibrated, well communicated dan well planned untuk menjaga stabilitas pemulihan ekonomi.
Hal ini menjadikan exit strategy merupakan salahsatu agenda prioritas Presidensi G20 dalam mewujudkan pemulihan bersama. Dalam Seminar Internasional G20 yang mengangkat tema Safeguarding Growth Momentum yang digelar secara hybrid dan disiarkan langsung melalui kanal media sosial Bank Indonesia, Kamis (27/1/2022), seperti yang dilansir dari laman bi.go.id tersebut.
Dijelaskan Dody, bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif didukung sinergi bauran kebijakan yang ditempuh di tengah ketidakpastian yang tinggi.
“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 diperkirakan pada kisaran 3,2-4,0 % pada 2021, dan meningkat pada kisaran 4,7-5,5% pada 2022 ditopang oleh konsumsi swasta, investasi dan ekspor di tengah risiko terkait pandemi Covid-19 yang tetap perlu diwaspadai. Bank Indonesia (BI) akan mengarahkan fokus kebijakan moneter pada 2022 dalam menjaga stabilitas dengan memitigasi dampak dari normalisasi di negara maju.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran pendalaman pasar uang serta ekonomi keuangan influsif juga hijau akan diarahakan untuk mendukung pemilihan ekonomi,” imbuhnya
Dikesempatan tersebut, Deputy Director General, Ministry of Economy and Finance South Korea, Mr Byungsik Jung menyampaikan pentingnya pengelolaan utang serta aliran modal dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi global. Normalisasi di negara maju akan meningkatkan tekanan terkait dengan utang dan aliran modal, sehingga diperlukan dukungan dan kerjasama global dalam mengatasi tantangan tersebut.
Senada dengan itu, Chief Economist Citibank Indonesia, Helmi Arman menyampaikan bahwa normalisasi akan berdampak pada aliran modal, meskipun beberapa negara emerging market diperkirakan tetap mendapat persepsi yang positif dari investor. (MR/156).

