Keluarga Alm M. Ritonga Masih Heran, Pertanyakan Pelayanan Pasien Covid-19 dan Prosedur Pemakaman di RSUD Dr. Pirngadi Medan

Keluarga Alm M. Ritonga Masih Heran, Pertanyakan Pelayanan Pasien Covid-19 dan Prosedur Pemakaman di RSUD Dr. Pirngadi Medan
Bagikan

METRORAKYAT.COM, PERCUT SEI TUAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Pirngadi Kota Medan. Pasalnya, pasien rujukan dari Rumah Sakit Islam Malahayati, M. Ritonga (54 tahun) warga Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang itu terkonfirmasi positif Covid-19 dengan penyakit bawaan yang serius dan sudah sering cuci darah dua kali dalam seminggu.

Kepada Tim Metrorakyat.com, Sabtu, (12/6/2021) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, seorang keluarga pasien, AY mengatakan, orangtuanya masuk di RSUD Dr. Pirngadi pada Sabtu, (5/6/2021) sebagai pasien BPJS dari Pemerintah dan diisolasi mandiri di ruang Lili dan beberapa hari lalu keluarga sempat komunikasi dengan pasien menggunakan telepon seluler. Namun, M. Ritonga sempat menyampaikan keluhan mengenai pelayanan dari petugas RS itu.

“Beberapa hari lalu kami masih telponan dengan bapak. Orangtua saya sempat ngeluh juga dengan pelayanannya, petugas disitu telat ngantar makanan ke orangtua saya dan saat orangtua saya saat butuh bantuan juga petugas medisnya yang ada di ruangan itu lama datangnya. Dipanggil jam berapa, datangnya jam berapa gitu. Hari Kamis (10/6/2021) hp bapak saya tidak bisa dihubungi, saya minta tolong sama suster disitu untuk mengaktifkan hp bapak saya karena dari kemarin hpnya tidak aktif. Saya minta tolong untuk dicaskan hp bapak saya, jawaban suster kalau hpnya nggak ada, setelah itu saya tanya dan dijawabnya hp lobet dan nggak ada. Saya pertanyakan sampai malam. Kemudian, Jum’at (11/6/2021) saya tanya lagi mengenai hp bapak saya. Saya kirim pesan dari WhatsApp pukul 15.48 WIB, suster jawabnya pukul 16.31 WIB dan bilang hp bapak nggak ada, setelah itu suster kasih tahu keadaan bapak saya yang makin sesak dan minta kami untuk banyak berdoa. Pukul 16.35 WIB saya sempat video call dengan suster untuk melihat kondisi ayah saya. Setelah selesai, saya coba telpon lagi tapi suster tidak angkat telpon. Pada pukul 18.18 WIB seorang Dokter nelpon saya dan bicara kepada saya agar banyak berdoa, detak jantung bapak sudah tidak ada dan akan kita pacu dengan alat detak jantung,” ungkap AY sambil meneteskan air mata.

Karena panik dengan kondisi ayahnya, pada Jum’at (11/6/2021) petang, AY beserta adiknya berinisiatif datang ke RS itu untuk melihat kondisi ayahnya.

“Setelah dapat telepon dari Dokter, kami langsung pergi kesana untuk memastikan kebenarannya. Kami datang sekitar pukul 19.00 WIB selesai maghrib dan mereka yang ada diruangan itu bilang, kak kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” jelasnya.

Lebih lanjut, AY dan adiknya merasakan adanya kejanggalan yang terjadi saat saat ayahnya (M. Ritonga) sudah meninggal. Sebab, ia dan adiknya diizinkan masuk ke dalam ruangan tempat ayahnya di rawat tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Sementara itu, sebelumnya ayahnya terkonfirmasi menjadi pasien positif Covid-19. Hal itu pun menimbulkan tanda tanya hingga ke keluarga pasien.

“Kenapa saat sudah meninggal boleh melihat ayah saya tanpa APD. Kenapa saat diisolasi kami tidak bisa melihatnya?. Saat ayah saya dimandikan pun saya hanya dapat melihat wajahnya saja, pakaian yang dipakai ayah saya pun nggak tahu dibuang kemana. Mereka tidak ada konfirmasi ke kelurga. Kami mau pastikan jika tubuh ayah saya utuh. Terakhir saya lihat, tubuh ayah saya berbeda. Ini pihak medis pun kurang konfirmasi ke kami. Kami mau lihat CCTV sebelum ayah kami meninggal pun tidak bisa. Banyak sekali alasan dari pihak medisnya,” sebut AY.

Lebih lanjut, kejanggalan lainnya diungkapkannya lagi, saat di RS itu petugas akan memakamkan ayah saya di daerah Simalingkar, karena keluarga minta dimakamkan dekat tempat tinggal, maka petugas medis mengizinkan dengan syarat tertentu.

“Kami boleh bawa ayah saya ke pemakaman yang ada didekat tempat tinggal kami, tapi harus minta surat izin dari Kepala Desa dan yang lainnya,” ujarnya.

Setibanya di lokasi pemakaman yang ada di Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tim Metrorakyat.com pun menyaksikan langsung proses pemakamannya. Namun, benar adanya jika terdapat kejanggalan lainnya yang diduga dilakukan oknum atau petugas RSUD Dr. Pirngadi. Contohnya, supir Ambulance yang membawa jenazah ayah AY yang terkonfirmasi menjadi pasien positif Covid-19, tetapi sama sekali tidak menggunakan APD. Tidak hanya itu saja, terpantau langsung, AY dan adiknya telah menyiapkan uang untuk membayar jasa untuk Ambulance tersebut.

Setelah proses pemakaman selesai, awak media pun mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan AY sebelumnya. Dan ia pun mau menceritakannya.

“Jadi begini, kami semua dalam kondisi bingung nggak tahu lagi apa yang mau kami lakukan. Tadi di RS Pirngadi, petugas yang mandikan jenazah ayah saya minta uang kepada saya, katanya seikhlas hati. Karena kami pun tidak tahu mengenai peraturannya, jadi kami kasih lah Rp.200 ribu. Saat mau dibawa ke makam yang didekat rumah, petugas disitu yang tidak saya ketahui namanya mengatakan kepada saya, jika ayah saya dimakamkan ke daerah Simalingkar itu gratis tidak dikenakan biaya, tapi karena ini lain jalurnya, jadi saya dimintanya untuk kasih uang kopi, katanya begitu. Ini tadi saya kasih Rp.200 ribu lagi. Sementara orang-orang yang tidak saya ketahui itu tiba-tiba saja datang dan ikut sebagai pengawal yang ada didepan ambulance, tadinya mereka yang alasannya ikut bantu buka jalan itu pun tujuannya minta uang juga ke kami, katanya seikhlas hati. Kami nggak ngerti sama peraturan yang begitu. Ini saja, APD yang dipakai sama keluarga saya disediakan sama orang dari Desa Amplas. Sabtu (12/6/2021) siang atau sore saya datang ke RS itu lagi, karena hasil tes swab, surat kematian dan ynag lainnya baru bisa diambil besok. Alasan petugas medis, katanya kalau malam tidak bisa fotocopykan surat-surat itu. Kecurigaan saya muncul lagi dari situ. Seharusnya, saat jenazah ayah saya akan dimakamkan, mereka persiapkan semua, tapi ini kenapa diambil besoknya,” pungkasnya kebingungan.

Saat proses pemakaman, turut hadir Sekertaris Desa Amplas dan masyarakat sekitar. (MR/Tim)

Admin Metro Rakyat News