BPS Sumut: Nilai Tukar Petani Februari 2021 Turun Sebesar 0,15 persen
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Nilai Tukar Petani (NTP) jika dibandingakan dengan indeks haraga yang diterima petani (It) terhadap nilai pembayaran petani (Ib).
NTP merupakan salah satu indikator guna melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Dimana NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian berupa barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi dalam live streaming zoom, Sabtu (3/4/2021).
Katanya menjelaskan, NTP secara Nasional di bulan Februari 2021 sebesar 103,10 atau ada penurunan sebesar 0,15 persen dibanding pada bulan sebelumnya.
“Penurunan tersebut disebabkan Indeks Harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen atau lebih rendah dari kenaikan Indeks Harga dari Petani (Ib) sebesar 0,21 persen”, imbuhnya.
Namun secara nasional, NTP Januari–Februari 2021 sebesar 103,18 dengan nilai It sebesar 110,68 sedangkan Ib sebesar 107,27.
Untuk Februari 2021, NTP Provinsi Papua Barat mengalami penurunan terbesar (1,20 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.
Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami kenaikan tertinggi (2,02 persen) dibandingkan kenaikan di daerah lainya.
“Pada Februari 2021 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,17 persen yang disebabkan adanya kenaikan indeks pada sepuluh kelompok pengeluaran,” papar dia.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Februari 2021 sebesar 103,72 atau turun 0,27 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani turun 3,31 persen dan Harga Beras Premium di Penggilingan turun 0,08 persen.
Dari 1.477 transaksi penjualan gabah di 27 provinsi selama Februari 2021, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 58,90 persen; gabah kering giling (GKG) 20,85 persen; dan gabah luar kualitas 20,25 persen.
Selama Februari 2021,rata-rata harga GKP ditingkat petani Rp4.758,- per kg atau turun 3,31 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.863,- per kg atau turun 3,24 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.
Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.320,- per kg atau naik 0,03 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.431,- per kg atau turun 0,01 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp4.340,- per kg atau turun 3,08 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.447,- per kg atau turun 2,95 persen.
Dibandingkan Februari 2020, rata-rata harga gabah pada Februari 2021 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 8,08 persen; 8,70 persen; dan 9,08 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Februari 2021 dibandingkan dengan Februari 2020 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 7,82 persen; 8,62 persen; dan 8,92 persen.
Selama Februari 2021, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan terhadap 1.210 observasi beras di penggilingan pada 882 perusahaan penggilingan di 31 provinsi.
Di bulan Februari 2021, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.772,- per kg, turun sebesar 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.386,- per kg atau turun sebesar 0,20 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp9.146,- per kg atau naik sebesar 1,21 persen.
Dibandingkan dengan Februari 2020, rata-rata harga beras di penggilingan pada Februari 2021 untuk kualitas premium, medium, dan luar kualitas masing-masing turun sebesar 3,06 persen; 4,65 persen; dan 3,95 persen. (MR/156).
