oleh

Ekonomi Sumut Meningkat Disebabkan Lapangan Kerja Membaik

SHARE
36 views

METRORAKYAT.COM, SUMUT – Di awal tahun 2021, perekonomian Sumatera Utara (Sumut) mengalami peningkatan akibat lapangan kerja kembali normal pasca pandemi Covid-19.
Selain itu adanya penurunan tekanan inflasi, secara keseluruhan diperkirakan tahun ini inflasi meningkat didorong pulihnya kegiatan ekonomi masyarakat.

“Hal itu disebabkan daya beli masyarakat meningkat karena lapangan kerja kembali normal juga kapasitas produksi berangsur menuju optimal”, sebut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) wilayah Sumut, Soekowardojo secara virtual zoom, Selasa (23/2/2021).

Namun, prakiraan ini sebaiknya menjadi bahan perhatian semua pihak terkait, sehingga kebijakan pengendalian inflasi yang ditempuh akan fokus terhadap tiga upaya pengendalian inflasi.
Dijelaskan dia, dimana inflasi terhadap indeks harga konsumen (IHK) umumnya didorong atas membaiknya daya beli masyarakat atau sebagai asumsi di masa pandemi Covid-19 yang diimbangi penanganan kesehatan adanya vaksinasi dan pemulihan ekonomi yang optimal, bebernya.
Yang artinya, lanjut Soekowardojo, inflasi meningkat disebabkan permintaan masyarakat seiring dengan perekonomian semakin membaik dan lapangan kerja kembali normal juga adanya pembayaran tunjangan.

Sementara inflasi volatile food terjadi peningkatan harga komoditas secara khusus cabai merah, sejalan produksi belum optimal ketika permintaan tinggi.

Selain itu inflasi Adm Prices di karenakan penyesuaian tarif listrik ke kondisi normal, meningkatnya kebutuhan energi sesudah aktivitas produksi normal.

Soekowardojo yang didampingi Deputi Kepala Perwakilan Andiwiana Septonarwanto juga Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Ibrahim yang menyebutkan Sumut mengalami penurunan tekanan inflasi dibandingkan tahun 2020. “Penurunan terjadi di sebagian kelompok, terutama deflasi di kelompok terbesar yaitu makanan, minuman, dan tembakau.

Selanjutnya, sebut dia deflasi bersumber dari kelompok volatile food komoditas cabai merah dan bawang merah. Yang kemudian terjadi penurunan melalui peningkatan tekanan inflasi beberapa kelompok, terutama kelompok kesehatan dan penyediaan makanan dan minuman/restoran seiring dengan permintaan masyarakat yang tinggi terhadap produk kesehatan seperti masker dan mulai kembali meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap makanan dan minuman.
Andil inflasi kelompok pada Januari 2021 untuk makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,31.

Pada pakaian dan alas kaki 0,12, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar RT 0,00 perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin RT 0,09, kesehatan 0,04.

Disamping itu andil inflasi pada transportasi -0,12, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan -0,08, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,01, pendidikan 0,02, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,13 perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,32.
Pada Januari 2021, Sumut tercatat inflasi sebesar 0,45% (mtm), turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,75% (mtm).

Secara spasial, seluruh Kota IHK mengalami penurunan inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pematangsiantar sebesar 1,13% (mtm) diikuti oleh Gunung Sitoli sebesar 1,08% (mtm). Inflasi bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama komoditas aneka ikan.

“Curah hujan yang tinggi menurunkan aktivitas melaut nelayan sehingga pasokan berbagai ikan berkurang. Pasokan cabai merah yang melimpah mendorong penurunan harga secara keseluruhan. Di sisi lain, inflasi lebih lanjut juga tertahan oleh penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan penurunan emas global,” bebernya.

Untuk mengendalikan inflasi 2021 diperlukan tiga upaya. Berdasarkan hasil Rakorprov untuk stabilisasi harga 2021, terdapat tiga fokus upaya pengendalian inflasi yang dapat dilakukan TPID Provinsi Sumatera Utara antara lain dengan perbaikan infrastruktur pendukung seperti penguatan BUMD Pangan, penyediaan CAS, dan pengoptimalan SRG, membangun neraca pangan daerah, dan mengoptimalkan intervensi pemerintah. (MR/156)

Breaking News