Adikku Sayang, Mahasiswa Itu Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi !

SHARE
1.239 views

METRORAKYAT.COM, Mahasiswa secara general adalah orang yang sedang belajar dulu Perguruan tinggi. Namun, saat berkaca dari history, justru publik dapat menyerap benang merah, antara mahasiswa dan anak kuliahan.

Menurut Knopfemacher (Dalam Suwono, 1978) Mahasiswa merupakan insan-insan yang menjadi calon sarjana dengan keterkaitannya akan suatu perguruan tinggi, yang di didik dan juga di harapkan akan menjadi calon-calon intelektual.

Dari awal keterlibatan di dunia pergerakan pra kemerdekaan, sampai mempertahankan kemerdekaan, hingga menggoncang orde Lama, orde Baru sehingga terjadinya “Reformasi”, selalu dilakukan oleh mahasiswa, namun tak pernah di katakan ” Pergerakan si anak kuliahan”.

Gelar Maha, yang di sematkan pada mahasiswa, tentu berarti besar artinya pelajar yang besar, yang berbeda dengan seorang siswa.

Melirik hal itu, Nalar kita perlu sedikit di kerucutkan, apa kah sama antara mahasiswa dan anak kuliahan?, tentu tidak, mereka mahasiswa adalah penduduk perguruan tinggi, yang sadar tugas pokok dan fungsi, selain belajar di kampus, ia juga punya fungsi sebagai pengayoman dan penyeimbang , entah itu agent of Change dan lainnya.

Sementara anak kuliahan, manusia yang belajar di kampus, namun tidak mendedikasikan diri dalam kehidupan sosial, sehingga ia punya intelektual, namun tak punya panggung intelektual untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan.
Jadi jelas berbeda, antara mahasiswa dan anak kuliahan, karena mahasiswa punya partisipasi terhadap isu dan permasalahan sosial.
Yang pada kesimpulannya, anak kuliahan hanya meliputi insan akademis sementara mahasiswa merupakan insan akademis yang mendedikasikan diri sebagai pencipta dan juga Pengabdi terhadap masyarakat.

Sepintas membahas tentang mahasiswa, saat pertama memasuki dunia kampus/mahasiswa baru, ia tak langsung di sodorkan materi pelajaran sekian SKS, namun pertama kali di berikan materi lewat ospek atau pkkmb, baik itu berupa pelatihan bela negara, atau bahkan menggali jati diri apa sebenarnya itu mahasiswa.

Tentu dalam hal ini, semua tak lepas keterlibatan senioritas (orang yang sudah duluan memasuki kampus itu). Apalagi saat diberikan materi oleh para mentornya, mahasiswa baru di perintah menghafal lagu-lagu perjuangan mahasiswa, sejarah pergerakan mahasiswa, bahkan sumpah mahasiswa Indonesia.

Materi seputaran itu memberikan bukti besarnya pengabdian mahasiswa dalam sejarah, dan para mahasiswa sekarang harus mengenang dan kemudian mengaplikasikan kembali pergerakan yang tertuliskan dalam sejarah, sehingga yang sekarang menjadi pelaku dan pencipta sejarah.

Selain itu, mahasiswa sebagai bagian dari infrastuktur politik, yang mempengaruhi kebijakan pejabat publik (pemegang kekuasaan) di anggap penting untuk menjadi Sentral nya pergerakan, agar setiap kebijakan selalu berkesempatan berpihak kepada masyarakat.

Berdasarkan hasil survei Cirus Surveyor Group (Dalam Detiknews.com berjudul Menghayati Kembali Peran Mahasiswa) sebanyak 47,9% responden menilai bahwa Anggota DPR Periode 2009-2014 tidak membuat undang-undang yang bermanfaat bagi rakyat. Bahkan di tingkat daerah ada sekitar 3.143 perda bermasalah yang dicabut oleh pemerintah.

Dalam hal ini, tidak mungkin para nelayan dan juga petani, atau para buruh selalu menyoroti dan melayangkan nota protes untuk pemerintah? Sedangkan mereka disibukkan untuk nafkah dan kesejahteraan keluarga. Disinilah peran serta mahasiswa itu dijalankan sebagai sentral nya pergerakan, dan berpihak kepada masyarakat luas dalam mewujudkan kemakmuran bagi mereka.

Minimal sebagai insan yang pernah di sumpah (lewat sumpah mahasiswa Indonesia), mahasiswa mengingat dan refleksi sumpah itu untuk mengingat ada rakyat yang harus di perjuangkan.

Dalam petikan sumpah mahasiswa itu, dan diakhiri dengan kata kata dari sahabat nabi umar bin Khattab, (Jika ada satu orang pembela kebenaran maka pastikan akulah orangnya), ini menjadi tamparan atau cambuk, bagi kita yang sibuk dalam urusan privasi, namun lupa berpartisipasi terhadap kemerdekaan publik.

Jika kita mendengar, kata dari Pramudya Ananta tour, mengatakan ‘berbuat adil lah sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan’, hal ini sudah bisa memfokuskan kita mahasiswa untuk bertindak adil, membagi waktu untuk privasi, dan untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi sehingga benar khittah nya mahss itu untuk masyarakat.

Tentu,teruntukuntuk para adik adik mahasiswa baru sekarang ini, adikku sayang, ingatla dik, kita sbagai mahasiswa si kaum intelektual, harus ingat : ada orangtua perlu dibahagiakan, ada studi harus di selesaikan dan juga jangan lupakan, ada rakyat yang harus kita perjuangkan.

Sehingga, selain insan akademis kita sebagai mahasiswa adalah pelaku sejarah, dan sentral nya pergerakan lewat aktivitas menciptakan/memproduksi keadilan lewat tindakan dan mendedikasikan/lakukan pengabdian kepada masyarakat lewat masalah mereka, dan jawab tiap tiap persoalan. Penulis : Arwan Syahputra. (Mahasiswa Hukum Universitas Malikussaleh)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Intermedia Situs Berita Portal online Berita Aktual & Inovatif