Camat Pematang Bandar Sengsarakan Kelompok Petani Padi

Camat Pematang Bandar Sengsarakan Kelompok Petani Padi
Bagikan

METRORAKYAT.COM, SIMALUNGUN – Puluhan hektar padi sawah milik petani Nagori Kandangan, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun gagal panen. Persoalan tersebut disebabkan tidak adanya kekompakan warga untuk melakukan masa tanam padi secara serentak.

Hal tersebut disampaikan ketua kelompok petani lokasi simpang Titi Bosi, Sinambela (60) dan didampingi para petani lainnya kepada Metro Rakyat saat ditemui diareal persawahan yang gagal panen Jum’at (1-11-2019) sekira jam 09.00 WIB.

Menurut Sinambela akibat ulah satu orang, puluhan warga terkenak imbasnya. Persoalan gagal panen seharusnya tidak terjadi, apabila Pemerintah Kecamatan dan UPT Pertanian melakukan tindakan dan sangsi terhadap oknum tersebut. Pasalnya kita warga ini dianjurkan untuk masuk masa tanam secara serentak, namun ada warga yang lain menanam jagung. Padahal tanaman jagung tersebut yang menyebabkan tanaman padi yang disekitarnya menjadi gagal panen. 

Padahal jauh sebelumnya kita para kelompok petani padi ini, sudah menyampaikan kepada dinas pertanian dan Camat Pematang Bandar. Bahwa lahan milik Rajagugkguk seluas 1 ha, sudah ditanami jagung. Hal tersebut dapat menyebabkan petani padi gagal panen, karena tanaman jagung dilokasi pertanian padi tempat bersarangnya burung dan hama lainnya. Sementara adanya persoalan ini sudah tiga kali diadakan pertemuan, namun hingga sampai saat ini juga persoalan tidak terselesaikan.

Bahkan dari dinas pertanian melalui PPL, Babinsa dan Polmas juga sudah turun kelapangan. Guna melihat langsung tanaman jagung yang dipersoalkan para petani padi. Namun sampai saat ini juga persoalan tersebut tidak terselesaikan hingga kami semua gagal panen.

“Kami sangat merasa kecewa dengan sikap Pemerintah yang tidak tegas menyikapi keluhan kami semua. Sementara saya pribadi yang rutin menjaga burung sampai satu harian penuh, hanya mendapat lima karung padi, kalau tidak ada persoalan ini saya bisa dapat 24 karung/6 rante, ujar Sinambela.

Kekecawaan yang sama juga disampaikan Tampubolon dan Naenggolan, persoalan ini sangat merugikan mereka semua. Sementara kerugian ini disebabkan persoalan yang nyata. Tapi itu juga tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah atau Dinas terkait.

“Menurut keduanya kami akan menanam sawit aja, akan kami ahli fungsikan lahan persawahan kami menjadi lahan perkebunan. Sementara saat ini banyak pengucuran proyek untuk pembangunan irigasi, agar proses pengairan dilokasi persawahan menjadi lebih efesien. Tetapi kalau persoalan seperti ini terus menerus dibiarkan, tanpa ada tindakan. Para petani bukan makin lebih baik namun semakin hancur ekonominya,”ujar Sinambela.(mr/PP/SS

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.