Agustus 2019 Angkatan Kerja di Sumut 6.68 juta
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Angkatan kerja Agustus 2019 sebanyak 7.06 juta orang, turun 60 ribu di tahun 2018 bulan yanh sama. Penduduk bekerja Agustus 2018 sekitar 6,68 juta orang, pengangguran 383 ribu orang. “Tahun lalu bekerja turun 47 ribu penhangguran turun 13 ribu”, papar Kepala Bidang (Kabid) Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara pada wartawan di kantornya, Jln Asrama Medan, Selasa (5/11/19).
Komponen pembentuk Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja dan pengangguran.
Sejalan dengan turunnya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga turun. TPAK pada Agustus 2019 tercatat sebesar 70,19 persen, turun 1,63 poin dibanding setahun yang lalu. Penurunan TPAK memberikan indikasi adanya penurunan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.
Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan. Di bulan Agustus 2019, TPAK laki-laki sebesar 83,90 persen sementara TPAK perempuan hanya 56,79 persen.
“Jika dibanding kondisi setahun yang lalu TPAK laki-laki dan perempuan masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,08 poin dan 3,17 poin,” jelasnya.
Dijelaskan Mukhanif, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2018 sebesar 5,56 persen turun menjadi 5,41 persen pada Agustus 2019. TPT ini merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.
Dilihat dari tempat tinggalnya, TPT di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding di perdesaan. Pada Agustus 2019, TPT di perkotaan sebesar 6,89 persen, sedangkan TPT di perdesaan hanya 3,70 persen. Jika dibanding setahun yang lalu, TPT di perkotaan mengalami penurunan sebesar 0,15 poin dan TPT perdesaan mengalami penurunan sebesar 0,22 poin.
Dilihat dari tingkat pendidikan pada Agustus 2019, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 8,50 persen atau naik 1,4 poin, Universitas naik 0,52 poin dan SD naik 0,12 poin, begitu juga dengan kondisi Agustus 2018. TPT tertinggi berikutnya terdapat SMA sebesar 7,54 persen, namun setahun terakhir pendidikan SMA mengalami peningkatan pada angkatan kerja sebesar 2,77.
Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang berlebih terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA. Sedangkan mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja yang dapat menghasilkan. TPT SD ke bawah paling kecil diantara semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 2,52 persen.
Indikatornya adalah menyangkut kerja penuh dan tidak penih. Dengan kata lain semua bekerja memiliki produktivitas yang tinggi, indikasinya hanya perbedaan jam kerja, katanya. (MR/ JB Rumapea).
