Paulus Sohahau Halawa Kecam Pembangunan Ruas Jalan Provinsi Di Desa Fulolo Lalai
METRORAKYAT.COM, KABUPATEN NIAS – Paulus Sohahau Halawa meminta kepada Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Utara UPT Jalan dan Jembatan Gunungsitoli agar segera mengambil langkah urgen soal kondisi ruas jalan provinsi dari Desa Fulolo Lalai hingga Fadoro Hunogoa, Kecamatan Hiliserangkai, Kabupaten Nias.
Paulus Halawa sebutkan, Kartu merah untuk dinas bina marga dan konstruksi provsu UPT jalan dan jembatan Gunungsitoli. Segera ambil langkah preventif , jangan tunggu ada korban jiwa, jika tak becus, segera mundur dari jabatan sebagai Kepala UPT” Ujar Paulus kepada wartawan, Sabtu (3/2).
Paulus menjelaskan, jika warga masyarakat yang tinggal di sepanjang ruas jalan provinsi dari Desa Fulolo Lalai hingga Fadoro Hunogoa Kecamatan Hiliserangkai, Kabupaten Nias terancam kehidupan mereka karena debu dijalanan akibat pekerjaan pengaspalan hotmix yang tidak kunjung selesai. Sudah 4 bulan rumah warga dipenuhi debu tiap hari, warga menghirup udara campur debu yang berakibat fatal pada keselamatan jiwa, Ujar Paulus yang notabene Koordinator Daerah Relawan pemenangan ERAMAS Kabupaten Nias itu.
Tambahnya, Kepala UPT Jalan dan Jembatan Gunungsitoli harus bertanggungjawab atas wabah penyakit yang timbul akibat dari debu yang siang malam dihirup oleh warga, sekaligus meminta Gubernur Sumatera Utara mencopot Ekuator Jaya Daeli dari jabatan Kepala UPT Jalan dan Jembatan Gunungsitoli, karena dinilai gagal serta belum mampu melakukan upaya perubahan atas kondisi ruas jalan provinsi di kepulauan nias yang selama ini diketahui sangat memprihatinkan.
Untuk diketahui, kondisi ruas jalan provinsi Lolowua-Dola di kabupaten nias mulai dari desa Fulolo Lalai hingga Fadoro Hunogoa sejak empat bulan lalu telah dihampar material agregat (BES B) sepanjang lebih kurang 2000 meter, hingga saat ini belum diaspal, sehingga timbulkan abu yang luar biasa dan ancam keselamatan dan kesehatan warga masyarakat.
Salah seorang warga desa setempat, Pak Mendrofa yang ditemui wartawan, sabtu (2/2) menyatakan bahwa mereka sangat tersiksa oleh debu yang setiap saat terhirup, bahkan tak bisa lagi melakukan aktivitas berjualan karena.
“Bagaimana mau laku barang kami ini, orang tidak mau mampir untuk membeli karena debu setebal ini menutupi barang dagangan kami” Kata Pak Mendrofa sambil menunjuk debu tebal diatas barang miliknya.
Pak Mendrofa berharap agar pemerintah provinsi sumatera utara dapat segera mengantisipasi hal ini, terlebih banyak anak-anak yang menderita batuk, sesak, demam dan flu, harapnya memelas. (MR-d1-red)
