Abu PKS PT HSJ Labuhanbatu Resahkan Warga, Ada Korban Terserang ISPA
METRORAKYAT.COM | LABUHANBATU – Keberadaan abu pekat berwarna hitam, diduga berasal dari cerobong asap Pabrik Kelapa Sawit (PKS) I dan II milik PT Hari Sawit Jaya (HSJ) yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu, resahkan warga hingga wargapun menggelar pertemuan dengan pihak perusahaan, Senin (4/12/2017)
Pertemuan tersebut tindak lanjut dari surat yang dilayangkan warga kepada perusahaan pada 19 November 2017 lalu.
Warga Sidomulyo, Turasno akrab dipanggil Bogeng kepada wartawan mengatakan, keberadaan abu sudah sangat mengganggu, air sumur dan air hujan yang ditampung sebagai sumber kehidupan pun sudah ikut tercemari. Bahkan ada korban yang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
“Bukan hanya itu, beberapa warga dewasa maupun anak-anak sudah terserang ISPA, hal itu sudah dibuktikan dengan hasil pemeriksaan pasien di Rumah Sakit Persiapan Negerilama,” ungkap Bogeng
Bukan hanya itu, warga juga kecewa atas penerimaan tenaga kerja setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak transparan, karena yang diterima kerja di perusahaan raksasa tersebut kebanyakan dari luar daerah bukan dari desa atau kecamatan setempat.
Pertemuan itu juga dihadiri Camat Bilah Hilir, Bonaran Tambunan, Danramil 0, Hotman Sipahutar, Waka Polsek Bilah Hilir, Iptu K Manurung, Kanit Reskrim, Ipda Turpuk Siburian, Kades Sidomulyo, Sukri, General Menejer (GM) PT HSJ, Herman Sembiring, Humas, Glorius Bangun, juga beberapa dari pihak perusahaan dan puluhan warga Sidomulyo.
Dalam pertemuan yang digelar di Mess Kebun Negerilama Selatan itu, warga lainnya, Yusnita Saragih melontarkan beberapa pertanyaan mengenai tata kelola lingkungan serta bagaimana sikap perusahaan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan.
Juga, pihak perusahaan diminta transparan mengenai penerimaan tenaga kerja.
“Seharusnya di beri pengumuman di desa, karena masyarakat sekitar perusahaan masih banyak yang butuh pekerjaan dan bisa bekerja,” katanya.
Tokoh pemuda, Wahyudi kepada wartawan mengatakan, sangat prihatin terhadap pemuda yang ada di desa tersebut karena tidak pernah diperhatikan perusahaan.
“Bulan Oktober 2017 pernah buat proposal untuk permohonan tiang net bulu tangkis, yang ditandatangani desa tapi juga tidak diindahkan,” lugas Wahyudi.
Juga mengenai dana Corporate Social Responsibility (CSR) pun kata Wahyudi tidak ada keterbukaan terhadap masyarakat. “Kalaupun ada bantuan dalam bentuk minyak goreng kepada siapa diberikan, masyarakat yang bagaimana yang mendapatkannya” ungkapnya diamini warga lainnya.
Dalam arahannya, Danramil 09 Negerilama, Hotman Sipahutar, meminta perusahaan agar tidak menutup diri kepada masyarakat untuk memikirkan serta mengutamakan apa yang dianggap perlu untuk mereka.
Apalagi perihal sarana olahraga, ia meminta supaya diperhatikan.
Dalam pertemuan itu, Herman Sembiring berjanji akan memperbaiki kedepannya dan akan bekerjasama yang baik terhadap masyarakat.(MR/Haposan Sinaga)
