oleh

Ketua Aero Modelling Yudha: Masyarakat atau Pelajar Yang cinta Dirgantara Silahkan Bergabung Bersama Kami

MetroRakyat.com I Medan-Aero Modelling adalah salah satu cabang olah raga kedirgantaraan dibawah Federasi Aero Sport Indonesia (PB-FASI). olah raga ini mempergunakan pesawat terbang miniatur dari berbagai jenis sebagai alat perlombaan seperti  pesawat terbang,helikopter dan lainnya.

Berbagai jenis pesawat miniatur untuk diperlombakan.(MR2)

Dalam pengoperasiannya, pesawat niniatur digerakkan radio control dari bawah, biasanya aero modelling ini diminati para pencinta ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedirgantaraan.

Namun, banyak kalangan menilai olah raga ini hanya untuk kalangan ekonomi menengah keatas saja karena, miniatur yang digunakan tergolong mahal menurut sebagian  kalangan, ditambah lagi biaya peralatan serta perawatan alat-alat yang digunakan membuat sebagian orang engan untuk menggeluti olah raga ini.

Instruktur para atlit yang mengikuti selekda saat memberikan pengarahan kepada atlitnya.(MR2)

Tapi hal itu tidak seluruhnya dibenarkan oleh ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) cabang Aero Modelling Lanud Soewondo Yudha Yuhansyiah kepada metrorakyat.com saat menggelar  seleksi Daerah (SELEKDA) dalam rangka persiapan mengikuti kejurnas FASI yang akan diselenggarakan  di Jogyakarta pada tanggal 24 November sampai 1 Desember 2017 di Lanud Soewondo , Minggu (05/11/17) pagi, menurut Yudha, Aero Modelling juga bisa digeluti dengan berbagai cara agar biaya dapat terjangkau dengan menggunakan bahan sederhana untuk dijadikan miniatur pesawat maupun heli.

“Kalau dibilang mahal olah raga ini saya kurang setuju karena, pesawat yang digunakan bisa dibuat sendiri kog,” ujar pria ramah senyum yang menggeluti olah raga kedirgantaraan ini sejak tahun 2007 silam.

Tapi memang ,lanjut Yudha, elektroniknya yang digunakan memang didatangkan dari luar,Cina,import,tapi relatif lebih murah,untuk pesawat itu dapat juga dibuat dengan menggunakan gambus dan lainnya, dan sekarang kita juga sering melakukan pelatihan di sekolah-sekolah dirgantara,satu pesawat itu berkisar 500-800 ribu sudah jadi tapi diluar radio control, karena radio kontrol tidak bisa dibuat dan harus dibeli sendiri, pungkasnya sembari mengajak masyarakat yang berniat menggeluti olah raga dirgantara ini untuk bergabung bersama Aero Modelling dengan dengan menghubungi sekretariat di Lanud Soewondo.

Dalam pantauan metrorakyat.com suasana kekeluargaan terlihat terjalin erat diantara para atlit, pengurus dan TNI AU sebagai pembina saat mengikuti SELEKDA ini.(MR2/Red)