1,5 Tahun Lamanya, Polres Samosir Tak Mampu Ungkap Kasus Korban Mutilasi Feri Wijaya

1,5 Tahun Lamanya, Polres Samosir Tak Mampu Ungkap Kasus Korban Mutilasi Feri Wijaya

MetroRakyat.com  |  MEDAN — Satu setengah tahun lamanya sejak 23 Oktober 2015 lalu, kasus mutilasi Feri Wijaya seorang mandor di PT Toba Pulp Lestari (TPL) belum dapat terungkap. Hal tersebut diungkapkan salah seorang kerabat keluarga saat dihubungi MetroRakyat.com, Jumat (7/4/2017). Juru bicara keluarga R.Sijabat mengatakan bahwa kasus ini sudah sangat lama tidak diungkap, sejak masa kepemimpinan Kapolres Samosir AKBP.Eko Suprihanto bahkan sampai pergantian pimpinan saat ini AKBP. Donald Simanjuntak.

Hasil gambar untuk kasus pembunuhan feri wijaya
Kapolres Samosir terdahulu yakni AKBP Eko Suprihanto, SH, S.iK, MH. belum menyerahkan SP2HP kepada keluarga korban.

 

“Kami keluarga besar Feri Wijaya sangat menyesali kinerja Kapolres Samosir dan jajarannya dimana saat ini belum ada titik terang pengungkapan kasus pembunuhan saudara kami ini. Bahkan, sudah Kapolres saat ini pun, rasanya belum mampu tuntaskan kasus ini, dan bisa jadi kita menduga bahwa kasus ini terkesan seperti di peti es kan”, ungkap R.Sijabat.

Lebih lanjut katanya, Polres Samosir seharusnya berkoordinasi sebelumnya dengan Mabes Polri untuk melengkapi peralatan penyelidikan pembunuhan jika dirasa tidak mampu, dan itupun dilakukan pada masa Kapolres terdahulu masa kepemimpinan AKBP. Eko.

Keluarga Korban Pembunuhan dan Mutilasi di Tele Pertanyakan Kinerja Polres Samosir

“Sewaktu dibunuh saudara kami Feri, hendaknya polres Samosir itu jangan andalkan kemampuan sendiri untuk mengungkapnya, dan akhirnyaberdampak lama dalam pengungkapan. Peralatan jauh lebih canggih di mabes Polri dalam mengungkap kasus pembunuhan. Saya katakan lambat, karena handphone milik korban itu ditemukan setahun sejak kasus pembunuhan terjadi, dan itupun karena pak Donald Simanjuntak yang mencoba mengungkapnya lagi. Dan, saat ini kita belum tau bagaimana perkembangan atas kasus ini, disamping surat pemberitahuan hasil penyelidikan kepolisian tidak diserahkan pada kami keluarga Feri”, ucapnya.

Keluarga besar Feri Wijaya dalam waktu dekat ini akan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Kapolri dan Kompolnas untuk segera menindaklanjuti kasus pembunuhan Feri Wijaya, karena masa pengusutannya terkesan lambat dan tertutup.

“Kita akan layangkan surat terbuka pada bapak Presiden RI dan Bapak Kapolri dan Bapak Kompolnas, karena ada dugaan kami kasus ini seperti memang dipeti es kan, dan surat pemberitahuan penyelidikan kepolisian belum ada kita terima, dan kita minta kepada bapak Kapolri agar menegur bawahannya yakni Kapolda Sumut yang dianggap bertanggungjawab atas kelalaian Polres Samosir dalam upaya pengungkapan kasus pembunuhan ini”, pungkasnya.

Ini Kata Kapolres Samosir Terkait Kasus Pembunuhan di Hutan Tele
Kapolres Samosir, AKBP Donald Simanjuntak saat menerima kunjungan ibu kandung Feri Wijaya, korban pembunuhan dan mutilasi di Hutan Tele, Samosir pada Jumat, 23 Oktober 2015 lalu. Selasa, (17/1/2017)

 

Sebagaimana diketahui, kasus ini kembali mencuat ke publik sejak Januari 2017 usai keluarga besar Feri Wijaya mengadakan jumpa pers, dan meminta awak media membantu menyuarakan perjuangan keluarga dalam pengungkapan kasus mutilasi Feri Wijaya. Selang tiga bulan lamanya, Kapolres Samosir AKBP.Donald Simanjuntak berjanji mengungkap kasus ini cepat, namun menemui jalan buntu usai keberhasilannya menemukan telefon genggam milik korban. AKBP.Donald Simanjuntak saat dikonfirmasi mengatakan kasus ini tetap menjadi prioritas dan dalam tahap penyelidikan. Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes.Pol. Rina Sari Ginting kepada MetroRakyat.com mengatakan kasus pembunuhan Feri Wijaya masih dalam proses penyelidikan kepolisian, dan meminta kerabat keluarga agar bersabar menunggu hasilnya. 

Feri Wijaya yang merupakan keturunan berdarah Tionghoa dan  Batak,  ditemukan tewas pada usia 23 tahun di Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT.Toba Pulp Lestari, tepatnya di hutan Tele, Jumat 23 Oktober 2015, dalam kondisi sangat mengenaskan dengan keadaan  membusuk, kepala putus dan bercerai dari badan, kedua tangan hilang, serta tubuh penuh luka sayatan. Barang-barang milik korban seperti sepeda motor, dompet dan handphone tidak ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). (MR/TIM).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.