Kematian Alm Feri Wijaya Masih Membekas bagi Saudara dan Orangtuanya
MetroRakyat.com, MEDAN – Sampai saat ini saudari Feri Wijaya yang paling kecil atau bungsu masih dikenang dan bahkan tidak akan terlupakan sampai seumur hidupnya. Demikian kisah Maria Sanjaya kepada MetroRakyat.com terkait kisah Feri semasa hidup. “Bagaimana saya bisa lupa dengan abang saya yang sudah memberikan motivasi dan semangat dalam hidup saya. Dia itu beda dengan kedua abang saya yang lainnya. Dia itu spesial dan selalu perhatikan saya mulai sekolah sampai saat ini saya bekerja”, ungkap anak bungsu dari empat bersaudara itu, Jumat (20/01/2017).
Lebih lanjut Maria bercerita bagaimana sifat atau perangai Feri semasa hidupnya. Feri dikenal sosok yang ramah dan rajin bekerja, serta tidak sombong. Hal itu dikuatkan oleh sang ibu Murita Sihombing juga. “Feri nggak mau repotkan kami semuanya di keluarga, semasa tamat SMA pun dia langsung cari pekerjaan sebagai operator warnet di Medan, tiap bulan gajinya dikirim buat saya”, tutur Murita sedih.
Maria kembali bercerita bahwa sosok abangnya itu dikenal tidak pernah punya musuh atau lawan, bahkan sampai diberitakan tewas,Maria dan keluarga seakan tidak percaya dengan berita tersebut. “Kami semua tidak yakin bahwa bang Feri akan pergi selama-lamanya dengan cara mengenaskan, siapa sangka abang saya harus melalui hal seperti ini, padahal baru saja dia rayakan ulang tahunnya pada 11 Oktober itu, dan kami dengar kabar hilangnya pada 13 Oktober”, kisah Maria berlinang air mata.
Feri Wijaya dikenal sosok yang periang dan humor, bagi Maria sosok Feri adalah manusia yang sangat memperhatikannya. “Dia perhatikan aku lebih dari seorang abang, bahkan dia katakan aku harus kuliah agar masa depanku tercapai. Abang nggak mau kalau aku sampai gagal, dan sebagai anak satu satunya perempuan, aku sangat sayang dengan bang Feri yang mau mendukung sepenuhnya dengan pendidikan”, ucap Maria kembali.
Ibu Feri Wijaya, Murita juga tidak bisa melupakan sosok anak yang dianggapnya istmewa bagi pribadinya. Murita mengatakan bahwa sosok Feri adalah orang yang mau bekerja keras. “Saya lihat anak saya sebagai orang yang suka bekerja, untuk semua kebutuhan kami, diapun mau banting tulang sebagai buruh, bahkan dia harus bekerja di hutan Tele sebagai buruh TPL. Itu semua kemauannnya dan memang ada hasilnya, bahkan selama empat tahun sajalah mungkin dia bisa merasakan bekerja disitu sampai akhirnya ada orang yang membunuh anak saya. Sungguh kejam pelakunya, dan jika pelakunya nanti ditemukan, kami meminta agar pihak yang berwajib memberikan hukuman seberat-beratnya untuk pelaku dan jika perlu hukuman mati”, pungkas Murita disela-sela pertemuannya dengan Kapolres Samosir di Pangururan baru-baru ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah sempat dinyatakan hilang oleh pihak perusahaan dan keluarga, Mandor Plantation Hutan Tanaman Industri PT Toba Pulp Lestari (HTI TPL), Feri Wijaya (23) warga Desa Air Bening Aek Batu, Asahan, ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan, Sabtu (24/10/2015) siang.
Informasi yang diperoleh dari paman korban Limpolay menyebutkan, korban dinyatakan hilang sejak, Selasa (13/10/2015) kemarin. Kala itu, pihak perusahaan tempat bekerja korban mengira bahwa korban pulang kampung. “Awalnya pihak perusahaan telfon orangtuanya. Si Feri (korban) kok enggak nampak di kerjaannya,” ungkap Limpolay.
Mendapat telepon tersebut, pihak keluarga pun menyatakan bahwa Feri tidak ada pulang kampung. Merasa ada yang aneh, pihak keluarga menemui pihak perusahaan. “Ya, kami keluarga datangi perusahaan. Lalu kami cari bersama-sama,” terang Limpolay.
Setelah beberapa hari mencari Feri, korban tak kunjung ditemukan. Pihak keluarga kemudian melapor ke Polres Samosir pada, Kamis (22/10/2015) kemarin. “Setelah dicari, ternyata pihak perusahaan dapat kabar. Kebetulan ada yang menemukan mayat di sekitar hutan Tele (Samosir),” kata Limpolay.
Begitu dicek, ternyata mayat yang sudah membusuk itu adalah mayat Feri. Saat ditemukan, bagian kepala korban sudah berpisah dari tubuhnya. “Inilah, mayatnya lagi di autopsi,” kata Limpolay saat itu.
Sementara Direktur HTI PT TPL Juanda Panjaitan melalui Humas HTI PT TPL, Dede Armaya ketika diwawancarai mengaku turut berduka cita atas kejadian ini. “Kami dari perusahaan berharap pihak kepolisian di Samosir bisa mengungkap kematian korban. Menurut kami, kematian korban ini tidak wajar,” katanya. (MR/TEAM).



