Myanmar Larang Warganya Bekerja di Malaysia
MetroRakyat.com | YANGON — Myanmar telah menghentikan pengiriman pekerja ke negara mayoritas Muslim, Malaysia, setelah hubungan kedua negara menjadi hambar terkait krisis Rohingya. Langkah itu dilakukan setelah Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Razak, hadir dalam sebuah aksi massa di Kuala Lumpur untuk mengecam pemimpin de fakto Myanmar, Aung San Suu Kyi, karena melakukan genosida.
Sejumlah besar warga Malaysia menggelar aksi protes untuk melawan kekerasan militer kepada Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar. Aksi itu dihadiri oleh para pejabat pemerintahan Malaysia termasuk Najib. Namun, Myanmar mengecam aksi itu karena dinilai sarat politik untuk menarik dukungan kepada Najib yang saat ini tersangkut skandal dugaan korupsi internasional. “Kami ingin mengatakan kepada Aung San Suu Kyi, cukup sudah. Kita harus dan kita akan membela Muslim dan islam. Dunia tidak bisa duduk dan melihat genosida terjadi,” kata Najib dalam aksi massa akhir pekan lalu yang dihadiri sekitar 5.000 orang.
Pemerintah Malaysia juga menyerukan evaluasi atas keanggotaan Myanmar di ASEAN. Sebaliknya, para pejabat Myanmar membantah tuduhan pelanggaran, serta Suu Kyi mendesak komunitas internasional untuk berhenti memicu kebencian. Sekitar 20.000 warga Muslim Rohingya dilaporkan melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menceritakan kisah yang mengerikan antara lain diperkosa, disiksa, dan dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Puluhan warga Rohingya juga tewas saat berusaha kabur dengan menyeberang sungai yang memisahkan kedua negara.
Myanmar telah memanggil duta besar Malaysia untuk memprotes tuduhan Najib atas pembersihan etnis. Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Myanmar, Pemerintah Myanmar menolak tuduhan pembersihan etnis dan genosida, yang disebut jauh dari kenyataan di lapangan. “Pernyataan yang tidak bertanggung jawab bisa memperburuk polarisasi yang sudah mendalam antara dua komunitas dan ekstrimis kekerasan,” sebut pernyataan Kemlu Myanmar, pada Rabu (7/12).
Malaysia menjadi tuan rumah atas puluhan ribu pekerja Myanmar, kebanyakan dari pekerja itu dibayar murah di pabrik-pabrik atau industri makanan dan perhotelan. Berdasrkan data Malaysia, sekitar 56.000 warga Rohingya telah tiba di lepas pantainya dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dari warga Rohingya tersebut terpaksa memilih jalur laut yang berbahaya untuk melepaskan diri dari kemiskinan dan diskriminasi di Rakhine. (BER1/MR).

