Wong Chun Sen :Ulos Adalah Karya Seni Luar Biasa Warisan Suku Batak

Wong Chun Sen :Ulos Adalah Karya Seni Luar Biasa Warisan Suku Batak
Bagikan

MetroRakyat.com | MEDAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) Kota Medan, mendukung kain ulos dijadikan bagian dari warisan dunia, sehingga perlu didaftarkan ke Badan Dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation(UNESCO).

“Kita sangat mendukung Ulos ini dijadikan warisan dunia dan mau didaftarkan ke UNESCO.” Kata anggota DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen Tarigan di ruangannya, Selasa, (4/10/2016).

Politisi dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan tersebut menjelaskan, bahwa Ulos merupakan salah satu hasil karya seni warisan Suku Batak yang ada di Sumatera Utara yang dikerjakan lewat tenunan khas secara manual ( dengan tangan dan alat kayu), dan bukan dengan mesin. “Kita sangat berterimakasih karena saat ini masih ada orang yang peduli dan berusaha untuk tetap mempertahankan nilai seni Ulos yang memiliki jiwa tersendiri dari setiap jenis Ulos yang di ciptakan oleh penenunnya,” Ujarnya.

Seperti diceritakan anggota Komisi B ini lagi, sebelumnya dia selaku anggota DPRD kota Medan telah menerima kunjungan Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempuan(YPPI), Enni Martalena Pasaribu, Senin(3/10/2016) kemarin. Dari hasil penjabaran yang diberikan oleh YPPI tersebut, WONG CHUN SEN optimis, Ulos akan dapat diterima dunia dan terdaftar di UNESCO. ” Kita optimis ulos bisa menarik kehidupan perekonomian masyarakat, bahkan bisa dikembangkan ke manca negara,” serunya.

Sementara, pada Senin, (3/10/2016) lalu, kepada wartawan, Ketua YPPI, Enni Martalena Pasaribu, mengatakan terkait pengembangan tenun ulos menjadi warisan dunia, direncanakan pada 17 Oktober mendatang, pihaknya akan menggelar kegiatan yang berlokasi di Hotel Danau Toba Medan.

Ini suatu langkah tenun ulos menuju sebagai warisan dunia. Langkah serupa juga telah dilakukan pada 28 Agustus 2016 berupa seminar, dari sanalah direkomendasikan Ulos untuk diusulkan jadi warisan dunia ke Unesco,” tambahnya.

Enni mengatakan, untuk langkah kesana, pihaknya telah menyiapkan 9 hal, seperti akan menanam bahan baku ulos(kapas) sekaligus pewarna alam dari bunga Salaon, penanamannya dilakukan di 9 kabupaten/Kota.

Langkah lainnya, ungkap Enni, direncanakan akan membentuk desa Ulos di 7 daerah dikabupaten sekitar kawasan Danau Toba. Selebihnya pada daerah selatan, yakni di Tapanuli Selatan(Tapsel).

Agar kegiatan tersebut terlaksana, Enni mengatakan tidak terlepas dari keterlibatan pemangku kebijakan (Stake Holders), “makanya, kami kemari (Dewan), sebelumnya sudah melakukan RDP dengan komisi E DPRD Sumut, Dinas Pariwisata, dan dengan anggota DPR-RI, Agus Hermanto serta Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Beliau peduli atas kegiatan ini. Jadi akan ditetapkan untuk seluruh Nasional tanggal 17 Oktober akan diusulkan menjadi agenda tahunan.” Terangnya.

Enni juga memaparkan, untuk kain Ulos terdiri atas dua(2) manfaat. Pertama, digunakan sebagai acara sakral(adat) sehingga disebut “Ulos” yang memiliki jiwa(tak benda) sedangkan kain ulos lainnya jenis fashion, merupakan kain motif ulos. Adapun kegiatan pada 17 Oktober mendatang direncanakan sebagai rangkaian yang pesertanya dari Kabupaten / Kota Dekranasa penggiat penenun, juga diikuti pelaku-pelaku usaha, talkshow ulos menuju Unesco, serta lomba busan motif ulos kreasi dan pemilihan putra/putri Ulos.(MR/red)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.