Obama Sebut Trump Jadi Capres AS Pertama yang Enggan Akui Kekalahan
MetroRakyat.com | FLORIDA — Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama kembali berkomentar keras menanggapi pernyataan terbaru calon presiden dari Partai Republik Donald Trump yang enggan mengakui kekalahan dalam pilpres. Obama menuding Trump merusak demokrasi AS.
Dalam debat capres ketiga pada Rabu (19/10) malam, Trump tidak bersedia mengatakan dirinya akan menerima hasil pilpres jika kalah dari rivalnya, capres Partai Demokrat Hillary Clinton. Kemudian saat berkampanye di Ohio, Kamis (20/10) waktu setempat, Trump menyatakan dirinya akan menerima hasil pilpres jika dirinya menang. Komentar-komentar itu menuai banyak kritikan dan kecaman dari kalangan politikus AS, termasuk kalangan Partai Republik. Obama pun, yang dalam beberapa hari terakhir selalu berkomentar keras pada Trump, ikut melontarkan kecamannya. “Itu sungguh berbahaya. Ketika Anda berusaha menabur benih keraguan dalam pikiran orang-orang soal legitimasi pilpres kita, maka itu sama saja merusak demokrasi kita,” tegas Obama saat berkampanye untuk Hillary di Miami Gardens, Florida, seperti dilansir AFP, Jumat (21/10/2016).
“Ketika Anda menyerukan adanya kecurangan atau penipuan tanpa bukti apapun, saat debat semalam, Trump menjadi calon presiden dari partai besar pertama dalam sejarah Amerika yang menyerukan dirinya tidak akan mengakui meski kalah … itu bukan lelucon,” imbuhnya.
Beberapa minggu terakhir, dalam kampanyenya Trump selalu menyerukan pilpres November mendatang akan dicurangi. Dia menyebut adanya pemilih palsu dan mendorong pendukungnya untuk mendatangi langsung tempat pemungutan suara untuk mengawasi. Trump bahkan menyebut Hillary dan pihak-pihak tertentu berkonspirasi untuk mencurangi pilpres mendatang. “Tidak mungkin bisa mencurangi pemilu di sebuah negara sebesar ini,” bantah Obama merujuk pada berbagai tudingan Trump. “Anda lebih mungkin tersambar petir daripada seseorang di sebelah Anda melakukan penipuan dalam pilpres,” imbuhnya. (DTC/MR).

