Kapolri Apresiasi Pimpinan Agama di Sumut Hadapi Radikalisme
MetroRakyat.com | MEDAN — Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengapresiasi sikap pimpinan agama di Sumut yang menghadapi radikalisme tanpa mengedepankan kekerasan. Penegasan Kapolri itu disampaikannya langsung melalui pesan singkat ke smartphone Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt DR Jamilin Sirait MA di seminar yang bertema Radikalisme yang digelar di PGI Sumut – Aceh di Jalan Selamat Ketaren, Deliserdang, Kamis, (13/10) diikuti 106 pendeta lintasdenominasi gereja.
Direktur Pengamanan Obyek Vital Poldasu Kombes Dr Heri Subiansuri MSc tampil sebagai pembicara utama didampingi Wakil Sekretaris PGI Sumut – Aceh Pdt M Hotasoit. “Saya sangat bersimpati dengan Kapolri karena mengapresiasi kegiatan PGI Sumut, apalagi menyangkut apa yang sedang dihadapi bangsa Indonesia tentang makin mengemukanya semangat intoleransi di lingkup kecil elemen bangsa,” ujar Ketua PGI Sumut – Aceh tersebut Jamilin.

Heri Subiansuri dalam paparannya mengatakan, radikalisme meningkat cenderung dari bidang agama. Padahal, radikalisme masuk dari ragam jalur termasuk jalur politik. Radikalisme adalah mengubah tatanan yang ada dengan model tak lazim. Ideologinya, dipandang sebagai satu-satunya yang benar dan menganggap yang lain salah.
Direktur Pengamanan Objek Vital Poldasu itu meminta pendeta ikut menyejukkan umat. Tidak membalas radikalisme dengan radikalisme karena akan berujung ketidakharmonisan yang panjang. “Pendeta benar-benar melayani umat dengan penyejukan sesuai isi Alkitab bukan sebagai tuan yang dilayani,” ujar Heri.
Ketua Umum PGI Wil SU – Aceh dalam uraiannya mengatakan, secara global radikalisme dihadapi dengan dua pendekatan soft approach dengan penyadaran untuk kembali ke alurnya. Jika tidak berhasil maka yang kedua hard approach mulai dari menyelidiki sampai ke tingkat hukuman. “Semua itu ranah penegak hukum, tugas pendeta adalah memberi pengajaran yang benar, sejuk dan tanpa keinginan menghakimi apalagi sampai membalas. Kita hidup dalam suasana kasih,” tegasnya.
Mengutip hasil penelitian Prof Dr Olaf Schumann yang jadi acuan di dunia Muslim, Jamilin Sirait mengatakan bahwa radikalisme di negara-negara berkembang sampai tahun 2030 karena dalam proses itu negara menuju kebaikan dalam kesejahteraan. “Setelah itu, mereda dan semakin tipis. Tetapi, radikalisme, apalagi terkait agama, tidak bisa hilang,” tegasnya.
Ia mengatakan, radikalisme tidak sama dengan begalisme, meski dapat dikaitkan seperti mengumpulkan uang. Merampok uang, untuk mengumpulkan uang mendanai aktivitas mereka. “Konflik Ambon tak masuk dalam lingkup radikalisme tapi semacam kekerasan biasa. Ingat, fanatisme tidak identik dengan radikalisme. Yang mengemuka selama ini terkait Pilkada adalah sinisme. Harus dibedakan,” tegas Jamilin Sirait.
Tentang kegiatan yang diadakan PGI Sumut – Aceh, Jamilin Sirait bilang sebagai ejawantah tema PGI lima tahun ke depan yakni Bersama-sama dengan Anak Bangsa Mengatasi Kemiskinan dan Radikalisme dan tugas pendeta ikut mendoktrin ke arah yang benar sesuai Alkitabiah. “Karena Kapolri apresiatif, maka kami para pendeta, pimpinan agama di Sumut mendoakan kiranya Kapolri dalam lindunganNya dalam mengeluarkan kebijakan. PGI Sumut pun mendoakan Kapolda Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel memimpin Sumut dengan maksimal dengan penekanan merangkul serta mengayomi seluruh warga,” tegasnya. Kegiatan ditutup doa Pdt Demia J Wau STh MMin dari BNKP Kapt Muslim. (Si/MR/Red).
