Ironis, Anak Usia 5 Tahun Turut Menjadi Korban Kebrutalan Oknum TNI AU Di Medan.
MetroRakyat.com I MEDAN — Masyarakat Sari Rejo yang tergabung dalam Forum Masyarakat Sari Rejo melakukan aksi demonstrasi dan memortal jalan umum sepanjang jalan Karangsari, Medan, Senin (15/8/2016) berbuntut panjang. Bagaimana tidak, warga yang semulanya menyampaikan aspirasinya didepan Kantor Lanud Suwondo dianggap menggangu ketertiban umum, sehingga para prajurit TNI Angkatan Udara dan Paskhas membubar paksa kerumunan warga, dan memborbardir seolah-olah perang dimulai. Masing-masing warga yang dianggap terlibat didatangi prajurit TNI AU, bahkan dikejar dan ditembaki dengan menggunakan peluru karet. Dan kejadian menyeramkan itu berakhir jatuhnya korban dengan luka tembak dan dipukuli oleh oknum TNI AU. 9 warga dirawat di rumah sakit dan 2 jurnalis yang sedang meliput juga ikut menjadi korban. Dibalik peristiwa tersebut, luput dari pandangan awak media yakni seorang anak bernama Peri berusia 5 tahun yang turut menjadi korban kebrutalan oknum TNI AU tersebut. Kepada MetroRakyat.com, ibu Peri, Napsiah (52) menceritakan kronologis bagaimana anaknya sampai terinjak oleh oknum tersebut, Selasa (16/8/2016). Napisah mengatakan, bahwa ketika siang itu Napsiah tidak sedang berada dirumah. Napsiah pergi keluar rumah dikarenakan ada urusan, dan sepulangnya Napsiah menemukan kondisi anaknya terbaring dengan ketakutan. “Ada tembak tadi mak datang, takut Peri mak..”, ujar Napsiah menirukan omongan Peri. Wanita ini menemukan anaknya tergeletak diruang televisi tidak berdaya, diakibatkan kesakitan terinjak oleh sepatu PDL milik oknum TNI AU tersebut. Saksi mata lainnya yakni kerabat keluarga yang masih satu rumah dengan Napsiah mengatakan bahwa ada 10 tentara berseragam loreng mendatangi rumah itu, dan membentak-bentak dan menanyakan seorang pemuda yang diincar-incar oknum tersebut. “Hei..mana kau ? Mana dia ? Jangan kalian sembunyikan, ayo..kuobrak abrik nanti rumahmu ini. Jangan kau sembunyikan dia (red-pemuda)”, ungkap kerabat Napsiah bercerita. Ke 10 oknum TNI AU itu memasuki rumah Napsiah, dan menendang pintu salah satu kamar sehingga rusak, dan melempari kaca dinding rumah permanen itu. Selagi mencari pemuda yang dianggap buruan oknum TNI AU itu, Peri yang semulanya tidur diruangan televisi tersontak bangun, dan berlari ketakutan. Salah satu oknum TNI AU menendang dan menginjak anak kecil itu, sehingga disekujur tubuh Peri terdapat luka memar.

Napsiah menunjukkan bagian tubuh yang terluka yakni, bagian wajah, punggung, pantat, dan wajah. Lebih lanjut kerabat Napsiah yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, karena buruan oknum tentara itu tidak ketemu, membuat oknum tentara itu emosi dan membentak kembali dan mengambil tabung gas berukuran 3 kg dari dapur rumah dan membuangnya ke halamana rumah Napsiah. Aksi arogan itu dipertontonkan oknum TNI AU, dan membuat ketakutan dan trauman mendalam bagi Peri. Napsiah mengharapkan agar kasus terkait kebrutalan oknum TNI AU ini diselesaikan ke meja hukum. “Mereka itu tidak punya hati nurani pak, mereka seperti kesetanan. Kami sangat ketakutan pak, kami juga keluarga tentara pak. Ayah saya seorang pensiunan TNI AU juga pak, tapi kok beginilah mereka buat kepada kami ? Anak saya jadi korban pak, bapak bisa banyangkan kedatangan mereka itu seperti di film PKI pak, naik truk dan membawa senjata laras panjang dan pentungan. Lalu memukul orang-orang yang menghalangi atau menonton aksi unjuk rasa itu. Lalu mereka masuk nggak ada pamitan, dan saya jadi korban, rumah saya rusak pak”, pungkas Napsiah dengan raut wajah sedih.

Kebrutalan oknum TNI AU Lanud Suwondo diamini sejumlah warga yang berkumpul di jalan Antariksa, gang Nasir No.6, yang tak lain kediaman Napsiah. Warga mengatakan oknum TNI AU yang diduga melakukan kekerasan kepada warga, ternyata ikut menjarah kotak amal dari sebuah Mesjid di kawasan Sarirejo. Ada juga mengatakan, handphone milik warga dirampas oleh oknum TNI AU tersebut. Warga mengharapkan agar oknum TNI AU yang melakukan sejumlah keresahan dan kekerasan itu diseret ke meja hijau, ungkap warga kepada MetroRakyat.com.

Seperti berita sebelumnya, peristiwa berawal saat warga memblokade Jalan SMA Negeri 2 Medan dan persimpangan Komplek CBD Polonia Medan. Penghalangan jalan ini dilakukan akibat pematokan sebidang tanah oleh TNI AU di Jalan Pipa Medan. Tanah yang dipatok merupakan milik warga sehingga warga merasa tentara telah mengambil tanah mereka. “Subuh-subuh tanah itu dipatok. Mereka udah suka-suka hati mengambil tanah kami,” kata seorang warga Hidayat. Ratusan orang yang didominasi ibu-ibu berteriak-teriak melontarkan tuduhan kalau aparat sudah merampas tanah mereka. “Apa ini main patok-patok aja?” teriak mereka. Wakil Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas) Sumatera Utara Moses Sitohang mengatakan, pemblokiran jalan dilakukan karena masyarakat protes tanahnya di patok-patok pakai kayu dan dipasangi tali. Pagar-pagar warga yang terbuat dari kawat duri dibongkari. Padahal saat ini, perwakilan masyarakat sedang melakukan pertemuan dengan Komisi II DPR RI terkait konflik lahan mereka. “Masyatakat Sari Rejo memiliki hak atas tanah. Ini dibuktikan dengan SK camat yang mereka miliki. Kami juga membayar PBB tiap tahunnya,” kata Moses.
Sampai saat ini, lima warga kritis dirawat di RS Mitra Sejati dan empat warga lainnya yang terkena peluru karet dirawat di RS Fajar. Selain itu dua jurnalis juga turut menjadi korban peristiwa tersebut. Array dari Harian Tribun Medan dan Andry Syafrin (MNCTV) dipukuli oknum tentara dengan menggunakan kayu, pentungan, tombak, dan laras panjang. Selain itu, ponsel, dompet, danhandycam mereka juga diambil paksa. (MR/Team).

