Arist Merdeka Sirait : “Tidak Ada Kata Damai Buat Kekerasan”.

Arist Merdeka Sirait : “Tidak Ada Kata Damai Buat Kekerasan”.
Bagikan

MetroRakyat.com  I  MEDAN  —  Aktivis lembaga Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait angkat bicara terkait video viral yang menayangkan aksi kekerasan oknum Polri di Medan terhadap korbannya Syahrizan alias Fauzan pada Rabu 3 Agustus 2016 yang lalu. Pria yang sering masuk di beberapa tayangan televisi itu mengatakan kepada MetroRakyat.com, bahwa kekerasan tidak ada kata damai, dengan alasan bahwa kekerasan bukan jalan satu-satunya dalam upaya penertiban yang dilakukan Oknum Polri JMS, Jumat (5/8/2016). “Kita sangat sayangkan bahwa ulah oknum tersebut telah mencoreng citra kepolisian di tanah air, dan kita tau juga bahwa Kapolri yang baru dilantik dan bekerja ini adalah orang yang tidak suka dengan perilaku kekerasan”, ungkap Arist saat dihubungi via selular. Arist mengatakan bahwa pembenahan di tubuh Polri harus dilakukan, karena sangat berdampak luas sebenarnya jika dilakukan pembiaran atau didiamkan begitu saja, seolah-olah tidak pernah terjadi.  Menciptakan dan membangun aparatur Polri yang bersih, profesional, bertanggung jawab dan berintegritas tinggi, produktif, serta mampu memberikan pelayanan yang prima kepada publik atau kepada masyarakat, harus terwujud. “Jangan lagi ada kekerasan yang sama seperti di Medan terjadi, karena itu mari juga mendukung kinerja Kapolri Jendral Pol. Tito Karnavian agar semakin nyata perwujudan reformasi di tubuh internal Polri”, kata pria kelahiran 17 Agustus 1960 itu. Kepada anak-anak sekolah yang membolos, Arist mengharapkan agar mengedepankan metode kasih sayang dan peringatan atau himbauan atau tindakan yang dianggap memang mendidik, dan tidak boleh melakukan kekerasan, karena kekerasan adalah bentuk pelanggaran juga. “Saya sudah ketahui informasi itu, dan saya berharap pelaku diberikan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera terhadap yang lain, dan disinilah akan terbukti bahwa Hukum di Negara Indonesia diatas segala-galanya bagi pelanggarnya”, tandas Arist.

Seperti diberitakan sebelumnya, Fauzan menderita akibat kekerasan fisik yang dilakoni Oknum Polri berpangkat Aiptu, JMS di warung internet Bloody, Medan, Rabu (3/8/2016) sekira pukul 07.20 wib. Hal itu dibuktikan dengan rekaman kamera pengintai yang tersebar luas di jejaring sosial dan akun youtube di jagat dunia maya. Segenap bangsa Indonesia melirik terkait rekaman  kamera pengintai berdurasi 2 menit 22 detik itu, dan membuat para petinggi di Kepolisian mengambil tindakan akibat perbuatan yang tidak mencerminkan mengayomi masyarakat tersebut. Salah satunya Kapolresta Medan yang angkat bicara dan segera mengambil tindakan tegas terkait ulah anak buahnya itu, kendati pembelaan terhadap tugas JMS pada saat kejadian masih diucapkan mantan Kapolres Madina itu. Menurut Mardiaz, persoalan bermula saat anggotanya yang bertugas di Polsekta Medan Area itu melakukan pengaturan pos padat lalu lintas di tengah jalan dekat Bloody Net. “Setelah mengatur lalin, anggota tadi melihat salah satu warnet di mana banyak sekali yang main game online. Sehingga, ketika anggota tadi masuk ke warnet, ia pun memberikan imbauan kepada anak sekolah tadi untuk segera masuk sekolah,” ungkap Mardiaz di Polresta Medan, Jumat (5/8/2016).  Menurut Mardiaz, saat anggotanya tadi memberikan imbauan, siswa dimaksud tidak menghiraukannya. Begitupula dengan operator warnet yang sibuk bermain komputer di dekat pintu masuk. “Karena Aiptu JMS tadi diacuhkan, sehingga terjadilah penganiayaan. Sebenarnya, maksud dan tujuan anggota kami cukup mulia,” kata Mardiaz. Ia menjelaskan, niat Aiptu JMS hanya ingin meminta siswa sekolah itu kembali belajar di sekolahnya. Apalagi, kata Mardiaz, sangat sedikit orang yang perduli dengan pendidikan. (MR/Team).

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.