Senator Asal Sumut Dedi Iskandar Batubara Prihatin Dengan Ulah Oknum Polri JM.Siregar.
MetroRakyat.com I MEDAN — Anggota Dewan Perwakilan Daerah asal provinsi Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara menyampaikan komentarnya terkait aksi Aiptu JMS diduga melakukan tindakan penganiayaan terhadap Muhammad Syahrizan (17), Rabu (3/8/2016) di Bloody Net, Medan. Dedi mengatakan, bahwa ulah JMS dianggap sudah benar dalam memberikan teguran atau peringatan kepada penyedia jasa warnet atau penjaga warnet tersebut untuk tidak membiarkan para pelajar masuk ke warnet saat kegiatan belajar mengajar. Sayangnya, Dedi menyesalkan tindakan kekerasan fisik yang dilakukan JMS, seyogianya polisi adalah pengayom dan pelindung masyarakat dan bukan menjadi sosok menakutkan. “Saya objektif melihat permasalahan itu. Karena disamping dia (Red-JMS) sebagai Polisi, sudah melakukan tugasnya dengan baik. Tidak banyak orang yang seperti dia, mau memberikan nasehatlah katakan, atau himbauan kepada pelajar agar jangan membolos. Namun, kita tidak juga menginginkan perilaku kekerasan dilakukan pada saat itu. Sekarang ini, guru saja mencubit siswa menjadi masalah bahkan dimeja hijaukan, apalagi masalah seperti ini, kan menjadi sangat fatal, disamping JMS adalah penegak hukum seharusnya tau apa yang harus dilakukannya agar terhindar dari kesalahan seperti ini”, ungkap Senator asal Sumut itu kepada MetroRakyat.com, Jumat (5/8/2016).
Masih kata Dedi, Kepolisian Republik Indonesia saat ini perlu membenahi dirinya, dan mewujudkan apa arti Revolusi Mental. Dedi yakin dengan dijabat oleh Jendarl Polisi Tito Karnavian sebagai Kapolri, perubahan atau stigma buruk dengan kinerja kepolisian tidak lagi buruk dan semoga semakin baik, dilihat dari kualitas dan keprofesionalismean personil itu sendiri. Dedi mengingatkan bahwa reformasi di tubuh Polri dibutuhkan, dan dimulai dari pribadi petugas tersebut dan substansinya sendiri, agar hal-hal yang disebut kesalahan atau pelanggaran yang terjadi ditekan seminim mungkin. “Saya yakin masa jayanya Kapolri Hoegeng di era tahun 70 an, banyak perubahan yang signifikan dilakukan, hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Masyarakat menilai Hoegeng adalah Kapolri yang jujur dan tegas, kisahnya tak gampang untuk dilupakan, dan masa seperti itu kita harapkan terjadi kembali. Dan hal ini bakal mengubah citra Polri terhadap Rakyat Indonesia akan menilainya positif sesuai harapan kita bersama”, pungkas Dedi saat dihubungi. (MR).
