JOKOWI OPTIMIS INDONESIA MAJU VS PRABOWO PESIMIS INDONESIA BUBAR

JOKOWI OPTIMIS INDONESIA MAJU VS PRABOWO PESIMIS INDONESIA BUBAR
Bagikan

METRORAKYAT.COM, Jargon politik Pilpres 2019 Capres Joko Widodo (Jokowi)-KH. Ma’ruf Amin #01 adalah “OPTIMIS INDONESIA MAJU (OIM)”. Sedangkan Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Solahuddin Uno “PESIMIS INDONESIA BUBAR (PIB)”. Kedua jargon politik ini didasari pemikiran masing-masing untuk menarik simpati, dukungan calon konstituen pada hari H Pilpres 17 April 2019.

Framing atau pembingkaian menurut Stephen P. Robbins (2008) adalah “suatu cara menggunakan bahasa untuk mengelola makna. Sebab, para pemimpin politik hidup atau mati di atas kemampuan mereka dalam membingkai persoalan dan citra lawan-lawannya. Sedangkan Jargon adalah bahasa yang khas bagi profesi, organisasi, atau program spesifik tertentu. Jargon menyampaikan makna akurat hanya kepada mereka yang mengenal bahasa sehari-hari.”

Bila diperhatikan cermat dan seksama, jargon OPTIMIS INDONESIA MAJU (OIM) dengan PESIMIS INDONESIA BUBAR, dua framing kata bertolak belakang satu sama lain dalam satu kontestasi politik suksesi kepemimpinan nasional (presiden) untuk periode 2019-2024.

Jokowi menjual OPTIMIS INDONESIA MAJU pasti dilandasi pemikiran komprehensif paripurna dituangkan pada Visi-Misi, ide, gagasan, program diyakini mampu membawa Indonesia Maju lima tahun ke depan. Sedangkan Prabowo Subianto sangat pesimis Indonesia Bubar 2030 bila bukan dirinya memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Kedua komoditas politik inilah mereka jual dengan berbagai kosmetika, baik masuk akal maupun tidak masuk akal.

Jokowi selaku petahana (incumbent) atau presiden bersama wakil presiden HM. Jusuf Kalla (JK) periode 2014-2019 tentu telah mengerti, memahami paripurna permasalahan sedang dialami bangsa Indonesia saat ini. Dan data, fakta, bukti empirik tervalidasi telah tersaji dari pembantu-pembantu (kabinet) nya selama 4,5 tahun pemerintahannya, termasuk prestasi telah dicapai maupun hal-hal yang masih perlu penajaman-penajaman program untuk menghadirkan tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana amanah konstitusi.

Selaku pemimpin tertinggi di republik ini Jokowi tentu telah melakukan evaluasi kinerja pemerintahan, sehingga jargon politik OPTIMIS INDONESIA MAJU adalah suatu keyakinan atau optimisme berdasar data, fakta, bukti empirik tervalidasi. Bukan pepesan kosong, retorika, wacana, halusinasi, ilusi tak berdasar.

Jokowi mantan Walikota Surakarta-Solo, Gubernur DKI Jakarta, Presiden RI Ketujuh tentu telah sarat pengalaman memimpin pemerintahan di level pemerintahan daerah maupun pemerintahan nasional. Dan jenjang kepemimpinan itu dijalankan dengan capaian kinerja spektakuler dilihat dan dirasakan rakyat secara langsung.

Tipologi kepemimpinan Jokowi bersih, jujur, berani, kompeten, profesional, visioner, terbuka, transparan, merakyat, melayani, berprestasi, berintegritas terbukti dan teruji telah menjadikan kepemimpinan Jokowi role model bagi pemimpin di domestik maupun internasional di era milenia ini.

Salah satu paling menarik dari model kepemimpinan Jokowi ialah perubahan revolusioner paradigma pemerintahan “Pangreh Praja (dilayani)” ke “Pamong Praja (pelayan atau parhobas)” terhadap rakyat pemegang kedaulatan sesuai amanat konstitusi. Selain daripada itu, Jokowi adalah tipikal pemimpin visioner, inovatif, kreatif yang selalu mengikuti perkembangan kemajuan teknologi digital ciri khas era milenia dengan kecepatan tinggi, terbuka dan transparan, akuntabel. Hal itu, bisa dibuktikan dengan penerapan teknologi digital pada institusi-institusi pemerintahan sistemik, masif dan terstruktur yang mengubah segala urusan cepat, tepat, akurat, terbuka, transparan tanpa harus berhadapan langsung dalam proses perijinan, dll.

Perubahan mindset aparatus pemerintahan konvensional ke penerapan teknologi digital seperti; E-Planning, E-Budgeting, E-Procedure, E-Perda, E- perijinan, E-Pajak, E-Pengawasan, dll telah melahirkan efektifitas, efisiensi, dan penghematan waktu dan finansial serta peningkatan daya saing secara nyata. Berbagai peraturan petundang-undangan menimbulkan high cost dan inefisiensi satu persatu dievaluasi agar pertumbuhan investasi, kreativitas tumbuh dengan cepat. Sebab, Jokowi tau, mengerti dan paham paripurna faktor pertama dan utama penghambat pertumbuhan kemajuan suatu bangsa dan negara terletak pada birokrasi rumit, bertele-tele, korupsi, pungutan liar (Pungli) dan aparatus yang kerap melakukan buying time menyelesaikan urusan legalitas masyarakat.

Jokowi optimis jika mindset aparatus pemerintahan, masyarakat berubah melalui “Revolusi Mental” maka Optimis Indonesia Maju. Karena, tidak ada satu bangsa dan negara di atas dunia bangkit menjadi negara maju, hebat dan adidaya bila tidak mau berubah ke arah lebih maju. Dan hanya bangsa, negara optimis lah menjadi kampion di segala kompetisi antar bangsa-bangsa di dunia.

Ciri khas seorang pemimpin besar adalah mampu menularkan spirit optimisme terhadap rakyat, bukan sebaliknya mencecoki virus pesimisme kepada rakyat yang dipimpin. Sebab, hakikat kehadiran seorang pemimpin ialah memberi solusi permasalahan, menemukan terobosan-terobosan baru, cerdas, jenial, brilian untuk memajukan bangsa, negara dengan teladan kepemimpinan di segala hal.

Menurut Fajar As (1998) “Keberhasilan dan Kegagalan satu perjuangan bangsa tergantung jenialitas dan kebijakan sangat tinggi dimiliki pemimpin bangsa tersebut. Pemimpin yang sangat tangguh dan tegar, yang mana menghentikan gerakan diyakininya dan memang benar untuk kebesaran bangsanya menjadi mustahil sebagaimana mustahilnya menghentikan gerakan matahari”.

Dalam konteks pendapat Fajar As bisa dilihat dari gerakan Jokowi mengembalikan Blok Mahakam, Blok Rokan, membubarkan Petral, mengambilalih 51,2% saham PT. Freeport Indonesia, menjadikan Indonesia Poros Maritim, membangun Indonesia dari daerah pinggiran, membangun konektivitas antar wilayah, membangun Tol Laut, Tol Darat, Tol Langit, mendorong kreatifitas generasi MILLENIAL dengan program teknologi digitalisasi yang membuat Jokowi “dibenci dan dimusuhi” di Dalam Negeri maupun Luar Negeri. Tetapi, ancaman kebencian, permusuhan terhadap dirinya tak pernah ditakuti, karena Jokowi yakin seyakin-yakinnya semua yang dilakukan semata-mata untuk bangsa dan negara, harapan masa depan anak, cucu OPTIMIS INDONESIA MAJU, INDONESIA HEBAT, INDONESIA ADIDAYA, karena Indonesia bangsa besar pemilik sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA) karunia Tuhan Yang Maha Esa dilintasan Khatulistiwa, posisi silang dua benua, dua samudera perlintasan lalu lintas perdagangan internasional.

Dunia bergerak amat sangat cepat tidak bisa lagi dihadapi dengan model-model konvensional, bernostalgia dengan masa lalu. Sebab, siapa cepat akan dapat, siapa terlambat akan kiamat.

Menjual pesimisme, ketakutan atas dasar data, fakta, bukti empirik permasalahan bangsa saat ini adalah suatu pola pikir keliru besar dan sesat pikir dari calon pemimpin. Dan diduga keras akibat post power syndrome kenikmatan masa lalu yang sudah out of date.

Jargon politik PESIMIS INDONESIA BUBAR 2030 dengan memosisikan diri “dewa penyelamat” tanpa menawarkan visi-misi, ide, gagasan, program terukur, realistis solusi adalah sebuah halusinasi, ilusi, ataupun khayal.besar di alam outopis. Calon pemimpin seperti itu lupa seorang pemimpin dibutuhkan untuk membangkitkan spirit optimisme agar bersemangat menatap hari esok lebih baik. Bukan sebaliknya, pesimis dan ketakutan berbangsa dan bernegara. Mengkultuskan diri satu-satunya penyelamat bangsa tanpa prestasi terbukti dan teruji, sesungguhnya sifat paranoid yang tak pantas dimiliki calon pemimpin, apalagi presiden /wakil presiden. Sebab, tidak ada seorang presiden/wakil presiden diatas dunia mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara, tanpa pilar kekuasaan lainnya.

Retorika, wacana dibungkus framing kata tak masuk akal hanyalah pepesan kosong, mimpi di siang bolong membius alam sadar “menabur angin, menuai badai” dikemudian hari.

Karena itu, sebagai calon pemimpin sangat pantas menjual pesimisme taktik strategi meraih simpati, dukungan dalam kontestasi apapun.
Pemimpin adalah contoh tauladan, panutan pendorong tumbuh berkembang spirit optimisme bagi rakyat atau yang dipimpin. (MR/Thomsos Hutasoit)

Pilihlah pemimpin OPTIMIS INDONESIA MAJU, bukan PESIMIS INDONESIA BUBAR ATAU PUNAH.

Medan, 31 Maret 2019.
Salam NKRI……..!!! MERDEKA……!!!
Drs. Thomson Hutasoit.

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.