Peserta Kecewa, Giat GERMAS Anggota DPR RI di Siborongborong Disorot
METRORAKYAT. COM, TAPUT – Kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digelar Anggota DPR RI Komisi IX, Sihar PH Sitorus, di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (30/5/2026), menuai kekecewaan dari sejumlah peserta. Keluhan terutama ditujukan kepada panitia pelaksana yang dinilai kurang profesional dalam mengelola jalannya kegiatan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kegiatan yang berlangsung di GOR Badminton Abe Hotel, Jalan Sadar, Kelurahan Lobusiregar, diikuti sekitar 250 peserta. Acara menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan, sementara Sihar PH Sitorus memberikan sambutan dan arahan melalui sambungan Zoom.
Ironisnya, kegiatan yang mengampanyekan pola hidup sehat justru dikeluhkan peserta karena konsumsi makan siang dibagikan sangat terlambat. Sejumlah peserta mengaku baru menerima makanan sekitar pukul 14.20 WIB setelah menunggu berjam-jam sejak acara dimulai.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan, terutama bagi peserta yang mengikuti kegiatan sejak pagi. Mereka menilai keterlambatan penyediaan konsumsi bertentangan dengan pesan hidup sehat yang menjadi tema utama kegiatan.
“Kalau bicara hidup sehat, kebutuhan dasar seperti makan tepat waktu juga harus diperhatikan. Banyak peserta sudah mengeluh lapar sebelum makanan dibagikan,” ujar salah seorang peserta.
Tak hanya soal konsumsi, mekanisme pembagian makanan juga menjadi sorotan. Peserta dipanggil satu per satu berdasarkan data KTP yang sebelumnya dikumpulkan panitia. Setelah menerima makanan, peserta diarahkan keluar ruangan untuk mengambil uang transportasi.
Sistem tersebut dinilai tidak efektif karena membuat peserta berhamburan keluar ruangan dan makan di berbagai lokasi tanpa pengaturan yang jelas. Akibatnya, suasana kegiatan yang semula berlangsung tertib berubah menjadi kurang terorganisir.
Keluhan lain muncul terkait proses penandatanganan daftar hadir dan penerimaan uang transport. Salah seorang peserta berinisial TL mengaku menemukan kejanggalan pada dokumen yang ditandatangani.
Menurut TL, nominal uang transport yang tercantum dalam dokumen diduga sebesar Rp150 ribu. Namun saat pembagian dilakukan, peserta hanya menerima Rp100 ribu.
“Saya sempat melihat angka Rp150 ribu di lembar yang ditandatangani. Tapi bagian nominalnya ditutupi dan dilipat. Setelah uang dibagikan, yang diterima hanya Rp100 ribu,” ungkapnya.
Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan peserta terkait transparansi administrasi kegiatan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak panitia mengenai perbedaan nominal yang dipersoalkan peserta.
Sejumlah warga menyayangkan berbagai persoalan yang muncul dalam kegiatan tersebut. Mereka menilai program-program yang selama ini dikaitkan dengan Sihar PH Sitorus di wilayah Siborongborong umumnya berjalan baik dan tertib.
Karena itu, peserta menduga persoalan yang terjadi kali ini lebih disebabkan lemahnya koordinasi dan manajemen panitia di lapangan daripada substansi kegiatan itu sendiri.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Tapanuli Utara Sihar Sitorus Centre (SSC), Ricky Siahaan, yang berupaya dikonfirmasi wartawan di lokasi disebut tidak berada di tempat. Upaya konfirmasi melalui telepon dan pesan singkat hingga berita ini diterbitkan juga belum mendapat tanggapan.
Masyarakat berharap panitia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang. Mereka meminta penyelenggara lebih profesional, tertib, dan transparan agar kegiatan yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tidak justru menimbulkan kekecewaan dan mencoreng citra penyelenggara.(MR/red)

