BPS Sumut Lakukan Sensus Pertanian 2023 Sebagai Potret Perubahan Pertanian
METRORAKYAT.COM, DELISERDANG – Pada tahun 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) akan melakukan sensus pertanian di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai potret perubahan struktur pertanian Indonesia yang lebih baik ke depannya.
Berharap data terkait petani akan diperoleh agar pemerintah mampu membuat kebijakan untuk kesejahteraan para petani, sebut Nizaruddin sebagai Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Nizaruddin SST, MSi pada acara Workshop Wartawan di Prime Plaza Hotel Kualanamu, Kamis (20/10/2023).
Acara yang digelar 4 hari yakni Minggu sampai Rabu (16-19/10/2022), seraya menambahkan bahwa Hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Maret 2021 petani di Sumut yang mengakses internet hanya 41,06% dari total penduduk mengakses sebesar 58,77%.
“Penduduk petani Sumut baru 41 % yang dapat mengakses internet, yang sebelunnya
mengakses internet sebesar 58,94 persen dari total penduduk dan tidak mengakses 41,28 persen,” beber dia.
Menurut dia, melalui makalahnya “Telaah Pertanian & Profil Petani Sumut 2022″ digitalisasi untuk pertanian penting mengingat sampai saat ini, Sumut merupakan daerah basis pertanian.
“Hal ini juga bahwa BPS memang tidak membuat kebijakan akan tetapi menyediakan data tentang pertanian. Maka, melalui Sensus Pertanian pada 2023 mendatang, BPS Sumut berharap data terkait petani akan diperoleh supaya pemerintah mampu membuat kebijakan untuk kesejahteraan petani”, imbuhnya.
Ditambahkan Nizaruddin lagi, berdasarkan data tercatat di BPS Sumut 2021, penduduk umur 10 tahun ke atas yang mengakses internet total 58,77 persen diantaranya petani 41,06 persen, dan yang tidak mengakses internet 68,24 persen dari total tidak mengakses internet sebesar 44,29 persen.
Ini sebagai bukti, share pertanian pada PDB Sumut yang ditopang oleh sektor pertanian, sehingga pada Februari 2022 angkanya sebesar 25%.
Dalam meningkatkan digitalisasi petani Sumut, menurut dia, bahwa pendampingan adalah sebagai salah satu solusi yang dapat ditawarkan oleh BPS.
“pendampingan sangat diperlukan terhadap petani lewat penyuluhan serta penyediaan akses internet di wilayah pedesaan.
Sambung Nizaruddin, sebagai kendala untuk digitalisasi pertanian dipicu karena rendahnya pendidikan. Terutama para petani mayoritas fi usia tua (sebanyak 17,14 persen) sehingga kemampuan literasi petani pun terbatas.
Untuk itu berharap petani mampu mengakses internet, salah satu manfaatnya agar tahu bagaimana memasarkan hasil pertanian, mengetahui cuaca yang baik untuk menanam secara benar mampu mengatasi hama.
“Dengan penggunakan internet, petani akan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya,” cetusnya
Dengan adanya pendampingan berharap dapat membantu dalam menyukseskan sensus pertanian, dan peran serta media juga diharapkan untuk melakukan upaya sebagai sosialisasi petani tidak menolak petugas sensus. (MR/156).
