Ratusan Anggota Polisi dan Gabungan Angkut Puluhan Jemaat dan Sintua dari Gereja HKBP Pabrik Tenun Medan, Para Jemaat: Kami Bukan Pelaku Kriminal

Ratusan Anggota Polisi dan Gabungan Angkut Puluhan Jemaat dan Sintua dari Gereja HKBP Pabrik Tenun Medan, Para Jemaat: Kami Bukan Pelaku Kriminal
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Puluhan Jemaat dan Sintua dari Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pabrik Tenun, Sabtu (22/5) sekira pukul 19.00 WIB diangkut petugas kepolisian dari Poldasu.

Kejadian yang disaksikan banyak mata tersebut, sempat heboh sebab pihak kepolisian mendatangkan ratusan personil dengan senjata laras panjang lengkap, layaknya seperti hendak melakukan penangkapan terhadap para pelaku kerusuhan.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun dari para jemaat HKBP Pabrik Tenun yang mengaku mengetahui kronologis kejadian sampai dirinyapun turut ikut dibawa ke Poldasu ruangan Kriminal Umum, namun meminta namanya tidak dituliskan menjelaskan, awalnya para jemaat sekitar Sore, pukul 16.00 WIB hari hendak melakukan Olah Raga Senam, di halaman gereja HKBP Pabrik Tenun yang beralamat di Jalan Pabrik Tenun Kelurahan Sei Putih Timur Satu, Kecamatan Medan Petisah kota Medan, Sabtu (21/5).

Selanjutnya, setelah olah raga senam, lanjut latihan Song leader buat ibadah Minggu untuk esok hari (22/5). Namun ketika itu pihak dari sebelah (pendukung Pdt.Rumondang Sitorus ) sudah ada terlebih dahulu.

“Kami pun meminta tolong agar bergantian memakai alat musik karena kami sudah lama tidak memakai alat musik). Dan saat hendak latihan kebaktian kedua, sudah ada datang polisi dan orang pihak dari kelurahan. Namun acara latihan musik masih berlangsung. Tepat pukul 18.00 WIB, jumlah personil polisi juga semakin banyak, namun latihan musik pemberi semangat untuk latihan ibadah besok tetap berlanjut. Selanjutnya, pihak kepolisian mencoba masuk kedalam. Dan mengatakan hendak membawa para pemain musik. Namun jemaat yang mendengar spontan membela para pemusik sambil mengatakan ” kamu siapa, kamu siapa, apa dasar kamu membawa pemain musik kami. Kamu salah sasaran, ini latihan, bukan mau ngapain, buat besok, lalu polisinya diam. Ada sekitar empat atau lima diduga polisi berbaju preman,”terang jemaat tersebut.

Disambung lagi, lantas para jemaat meminta kepada diduga petugas polisi berbaju preman untuk keluar. Karena waktu beribadah Minggu beberapa Minggu yang lalu gereja HKBP Pabrik Tenun ada di datangi preman.

“Tidak lama kemudian, ratusan personil kepolisian dan petugas gabungan termasuk Polwan dan Sabhara mencoba masuk ke dalam gedung gereja untuk menangkap pemain musik. Namun kami berusaha melindungi pemain musik kami. Lalu kami melihat ada satu unit mobil Water Canon dan kami juga melihat truk milik polri sudah diarahkan kearah pintu masuk halaman gereja dengan banyak polisi melakukan pagar betis layaknya akan melakukan penangkapan terhadap pelaku kerusuhan atau pelaku kriminal,”sebut jemaat itu.

Sambung jemaat itu lagi, karena jumlah pasukan polisi dan ada juga TNI dan Sabhara membawa Laras Panjang semakin banyak, lalu dengan jumlah jemaat yang sekitar 100 orang namun pihak kepolisian ada sekitar 300 personil, pihak Polwan mencoba masuk dan ketika ada jemaat yang protes maka langsung ditangkap dan diarahkan serta dinaikkan ke atas truk yang telah disiapkan.

“Kejadian ini akhirnya menimbulkan kepanikan, sebab kami merasa tidak ada melakukan kerusuhan atau apapun di gereja kami sendiri, malah kami ditangkap dan diperlakukan layaknya pelaku kriminal atau kasar nya lagi mirip terduga teroris,”ucap Jemaat itu sedih.

Diceritakan juga ada dua truk yang membawa mereka ke poldasu. Selama diperjalanan menuju Poldasu, kenderaan melaju sangat kencang dan tidak berfikir yang dibawa itu adalah manusia dan juga ibu-ibu dengan melebihi kapasitas.

” Saat tikungan ada juga kami yang terlempar kesana kenari di dalam truk. Karena kami satu truk ada berjumlah 50 an orang saat itu,”terangnya lagi.

Saat ditanyai, Penyidik mengatakan hanya menjalankan tugas.

Jemaat tersebut mengaku saat diruang penyidik sempat mempertanyakan apa alasan mereka dibawa ke poldasu dan diperiksa.

“Kami ada diperiksa 5 sampai 6 jam setiap orang, diruangan tempat saya ada 20 penyidik. Saat saya tanyakan kenapa kami dibawa dan diperiksa, pihak penyidik mengatakan hanya menjalankan tugas, memang tidak ada perlakukan kasar sama kami, tapi kami aneh saja tidak melakukan perbuatan kriminal malah dibawa secara paksa ke poldasu dan ada beberapa ibu-ibu yang mengalami cidera akibat dipaksa naik ke truk,”ujarnya.

Terpisah, Pengurus Yayasan Universitas HKBP Nomensen, Drs. Golfried Lubis saat diminta tanggapannya terkait kejadian di gereja HKBP Pabrik Tenun mengatakan sangat menyayangkan sekali terjadi hal yang sangat memalukan bagi seluruh umat HKBP.

Padahal tambah Golfried Lubis yang juga mantan anggota DPRD Kota Medan ini, HKBP sudah memiliki aturan yang sudah ada lama, seharusnya setiap permasalahan didalan Internal gereja diselesaikan secara Internal. “Jangan malah membawa pihak ketiga di dalamnya,”kata Golfried Lubis.

Harusnya, sambung dia lagi, sebelum permasalahan didalan gereja HKBP Pabrik Tenun semakin besar dilakukan mediasi dan dibentuk tim untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

” Ini adalah tamparan bagi HKBP dimana suatu masalah dilakukan dengan kekuatan dari luar. Bagimana jemaat dapat diangkat dan dibawa layaknya pelaku kerusuhan dan diperiksa di Poldasu. Dimana lagi jemaat mencari kebenaran dan kedamaian jika didalam gereja saja sudah terjadi seperti itu,”,ujarnya.

Disebut Golfried Lubis lagi, ketika diketahui ada permasalahan di tubuh Internal gereja HKBP Pabrik Tenun, pihak Phrases atau pimpin distrik wilayah HKBP mengambil alih sementara kegiatan ibadah atau lainnya di gereja itu sampai tim yang dibentuk dapat menyelesaikan permasalahan di tubuh internal gereja HKBP tersebut.

“Jangan dilakukan perbuatan apalagi sampai melakukan shok terapi kepada jemaat yang seyogyanya adalah keluarga digereja itu sendiri. Karena saya dengar pihak jemaat yang berseteru juga sudah pernah demo di kantor distrik dan sampai ke Tarutung (Pea Raja) juga terkait kisruh antara para jemaat dan pendeta HKBP Pabrik Tenun, harusnya sinyal ini segera ditindaklanjuti agar tidak membias kemana-mana dan akhirnya terjadilah peristiwa dimana puluhan jemaat dan Sintua HKBP Pabrik tenun yang dibawa ke Poldasu untuk didata, meskipun pagi tadi (Minggu, 22/5) pihak Poldasu sudah memulangkan para jemaat dan Sintua tersebut,”terang Golfried Lubis.

Sementara itu, Kabid Humas Poladsu, Kombes Hadi Wahyudi, SIK.,SH ketika dikonfirmasi terkait peristiwa di gereja HKBP Pabrik tenun melalui pesan WA pribadinya mengatakan “Sy blm dapat info, nanti kita cek ya. Nanti kita cek”, tulis nya melalui pesan WA.

Secara terpisah, Pendeta HKBP Pabrik Tenun, Pdt.Rumondang Sitorus saat dikonfirmasi terkait peristiwa yang menghebohkan warga jemaat pabrik tenun belum membalas WA wartawan, begitu juga Phareses HKBP, Pdt.Hebdrik Napitupulu pun belum memberikan respon terkait kisruh dan penangkapan puluhan jemaat dan Sintua di gereja HKBP Pabrik Tenun oleh ratusan personil polisi dari Poldasu.(MR/tim)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.