Dari Pinggir Jalan Bintuni ke Panggung Nasional, Josepus dan Secangkir Kopi yang Punya Jiwa

Dari Pinggir Jalan Bintuni ke Panggung Nasional, Josepus dan Secangkir Kopi yang Punya Jiwa
Bagikan

METRORAKYAT.COM, JAKARTA – Gemuruh mesin espresso dan sorotan lampu panggung Jakarta International Convention Center, 20-23 Agustus 2026, menjadi saksi perjalanan seorang barista asal Bintuni, Papua Barat. Namanya Josepus Christopus Erlando Nega, 32 tahun.

Selama enam tahun terakhir, Josepus menyeduh kopi di pinggir jalan melalui gerai Auno Kopi. Jauh dari suasana kedai mewah, ia justru berhasil melangkah hingga babak semifinal CANGKIR Barista 2026. Dari 2.700 peserta se-Indonesia, ia masuk dalam 24 besar nasional.

“Saya sangat bangga bisa masuk top 24 Cangkir Barista, apalagi saya jualan cuman di pinggir jalan,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.

Bagi Josepus, jalan menuju Jakarta tidak mudah. Di Bintuni, keterbatasan bahan baku menjadi tantangan utama, terutama susu segar untuk kategori Milk Beverage yang menjadi menu wajib kompetisi. Komposisi yang ia gunakan baru ia dapatkan sehari sebelum bertanding, berkat bantuan Wahyu dari Gajah Mada Coffee Roaster yang ia temui di Jakarta.

Selain itu, ia juga harus beradaptasi dengan peralatan. “Selama latihan di Bintuni saya menggunakan mesin espresso 1 grup. Di Jakarta baru penyesuaian mesin 2 grup. Itu tantangan yang paling berkesan,” katanya.

Namun keterbatasan itu tidak memadamkan semangat. Josepus justru menjadikannya bahan bakar untuk tampil maksimal. Di sela kompetisi, ia juga berkesempatan bertemu barista-barista juara internasional asal Indonesia dan membangun jejaring dengan peserta lain.

Bagi Josepus, capaian terbesar bukan sekadar masuk 24 besar. “Dampak terbesar dari kompetisi ini adalah ilmu. Juri menilai hal-hal dasar dan teknik yang sebenarnya sudah saya lakukan setiap hari saat melayani pelanggan,” ujarnya.

Ia berharap ilmu dan pengalaman itu bisa dibawa pulang. “Kopi dan bahan baku yang dipakai saat kompetisi adalah bahan-bahan pilihan terbaik. Saya ingin membawanya kembali ke pinggir jalan di Bintuni supaya semua pelanggan Auno Kopi bisa menikmatinya,” ucapnya.

Dengan pengalaman enam tahun di dunia kopi, target Josepus kini semakin tinggi. Ia ingin kembali berlaga di Indonesia Barista Championship, bahkan hingga World Barista Championship.

“Ini terdengar mustahil. Namun kemustahilan itulah yang telah membawa anak Bintuni berada di Top 24,” katanya.

Menutup perbincangan, Josepus menitip pesan untuk barista muda di Bintuni. Baginya, kompetisi bukan hanya soal menjadi juara pertama. “Proses selama perjalanan menuju champion itulah yang akan memberikan banyak pelajaran penting. Tidak ada yang mustahil. Jika kompetisi ini adalah sebuah pertempuran maka bertempurlah layaknya seorang petarung,” pesannya.

Di akhir wawancara, ia mendefinisikan kopi dalam satu kata: “Soul. Jiwa.”

Keberhasilan ini ia dedikasikan untuk keluarga dan para pendukungnya, di antaranya Mas Irman, Dance Yarangga, Ibu Gadis Fimbay, Bapak Markus Serio, Bapak Pius Hindom, Bapak Roland Mansawan, Bapak Iwan, Mario Soq, Vet Coffee, Stay Safe Coffee Roaster, TheWe Coffee, dan Coffee Book Jakarta.(MR/Azrul)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Metro Rakyat News

Tinggalkan Balasan