Duma Soroti Layanan Rumah Sakit di Medan, Kamar Inap Kerap “Full”, Pasien Kecewa
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Anggota DPRD Kota Medan, Dame Duma Sari Hutagalung, menyoroti serius persoalan pelayanan kamar inap di rumah sakit di Kota Medan yang kerap dikeluhkan masyarakat.
Duma mengaku sering menerima pengaduan warga terkait sulitnya mendapatkan kamar rawat inap, meski pasien datang dengan rujukan resmi dari puskesmas dan dalam kondisi membutuhkan perawatan segera.
“Keluhan ini terus berulang. Warga sudah dirujuk, tapi kamar selalu dikatakan penuh,” ujar Duma saat kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) No.4 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan, yang digelar di Jalan Gaperta Ujung/Jalan Darma Lingkungan VI, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, sesi I Sabtu (9/5) dimulai pukul 11.00 Wib sampai selesai.
Ia menilai alasan “kamar penuh” sering kali tidak transparan. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut bisa berubah secara tiba-tiba ketika dirinya menghubungi pihak rumah sakit.
“Ini yang menjadi tanda tanya. Ketika kami menghubungi, tiba-tiba kamar tersedia. Jangan sampai ada perlakuan berbeda terhadap pasien. Rumah sakit harus transparan soal ketersediaan kamar,” tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab, warga Jalan Darma, Ramli Lumban Tobing, turut menyampaikan keluhan terkait persoalan sampah yang dinilai berdampak langsung pada kesehatan lingkungan.
Menurutnya, meski warga rutin membersihkan, sampah kerap kembali menumpuk dalam waktu singkat.
“Pagi dibersihkan, siang sudah ada lagi. Kami menduga sampah dibuang oleh warga dari luar lingkungan. Kami minta lurah dan camat rutin memantau serta memaksimalkan operasional becak sampah,” ujarnya.
Selain itu, Ramli juga menyoroti pelayanan obat dari BPJS Kesehatan yang dinilai seragam, meski penyakit yang diderita berbeda. Ia mengaku mengalami efek yang justru memperburuk kondisinya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Kelurahan Tanjung Gusta, Ade Kristian, mengakui keterbatasan armada pengangkut sampah.
“Kelurahan hanya memiliki dua becak sampah. Ini tentu belum ideal untuk melayani seluruh wilayah. Kami juga mengimbau warga agar disiplin membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Helvetia, dr. Indra, menegaskan bahwa pemberian obat kepada pasien telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Tidak mungkin dokter memberikan obat sembarangan. Semua tenaga medis memiliki izin praktik dan kompetensi yang teruji. Obat diberikan sesuai dosis dan kebutuhan pasien,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa rumah sakit wajib menampilkan informasi ketersediaan kamar inap secara terbuka di ruang publik. Bahkan, dalam kondisi penuh, rumah sakit tetap harus mengupayakan alternatif ruang perawatan.
dr. Indra turut mengimbau masyarakat agar tidak hanya bergantung pada rumah sakit favorit atau swasta.
“Jika semua pasien menumpuk di satu rumah sakit, tentu akan kewalahan. Padahal rumah sakit milik pemerintah masih memiliki kapasitas yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Perwakilan Dinas Sosial, Linda Silalahi, menjelaskan bahwa perubahan status ekonomi (desil) dapat memengaruhi layanan bantuan, termasuk akses kesehatan.
“Perubahan desil bisa terjadi jika ada perubahan penghasilan atau data pekerjaan. Masyarakat bisa mengurus pembaruan data di kelurahan atau dinas sosial dengan melengkapi dokumen pendukung,” jelasnya.
Di akhir kegiatan, Duma menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan pelayanan kesehatan yang adil dan transparan bagi masyarakat.
Ia juga mengarahkan warga untuk menyampaikan pengaduan langsung ke rumah pemenangan BEDA di Jalan Beringin II No.77, Kelurahan Helvetia.
“Kami terbuka untuk menerima laporan masyarakat, khususnya terkait pelayanan kesehatan dan BPJS. Jangan ragu untuk datang dan menyampaikan keluhan,” pungkasnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta pembagian suvenir, nasi, dan kue kotak kepada peserta. (MR/Irwan)


