Sampah Jadi Ancaman Kesehatan, Dr Lily: Jangan Tunggu Seminggu Baru Diangkut

Sampah Jadi Ancaman Kesehatan, Dr Lily: Jangan Tunggu Seminggu Baru Diangkut
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Keluhan warga terkait pengangkutan sampah yang hanya dilakukan satu kali dalam sepekan  mencuat saat kegiatan Sosialisasi peraturan daerah oleh anggota DPRD Kota Medan, Dr. Lily MBA. Kondisi ini dinilai sangat meresahkan karena sampah kerap menumpuk, menimbulkan bau menyengat, hingga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Medan Dr Lily MBA dengan tegas meminta agar pengangkutan sampah rumah tangga dilakukan setiap hari, bukan menunggu hingga seminggu.

“Kalau sampah baru diangkut satu minggu sekali, itu jelas terlalu lama. Sampah menumpuk, bau, dan bisa menimbulkan penyakit. Padahal masyarakat rutin membayar retribusi sampah setiap bulan. Artinya, pelayanan juga harus maksimal,” tegas Lily saat Sosialisasi Perda No. 4 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan sesi kedua di Jalan Kertas No. 11, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Minggu (18/1/2026).

Politisi PDI Perjuangan itu menekankan, retribusi sampah yang dibayarkan warga bukan sekadar kewajiban, tetapi harus dibarengi dengan tanggung jawab pelayanan dari petugas kebersihan.

“Kalau masyarakat sudah bayar, maka petugas wajib memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai warga dirugikan. Jangan seminggu sekali baru diangkut,” ujarnya lantang.

Selain persoalan sampah, Lily juga mengingatkan pentingnya peran aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya membersihkan parit yang kerap tersumbat akibat tumpukan sampah.

“Kepling, kelurahan, dan masyarakat harus bergerak bersama. Gotong royong itu kunci. Kalau parit tersumbat, hujan sedikit saja langsung banjir. Ujung-ujungnya warga juga yang menjadi korban,” katanya.

Menurutnya, kebersihan lingkungan sangat berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat. “Kalau sampah berkurang dan parit lancar, itu keuntungan bagi warga sendiri. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Tak hanya soal lingkungan, dalam kegiatan Sosperda tersebut, Lily juga menyoroti keluhan warga terhadap minimnya komunikasi dokter dengan pasien di fasilitas kesehatan.

“Dokter itu pelayan masyarakat. Jangan hanya melihat dari sisi materi. Pasien datang karena sakit, maka harus dilayani dengan empati dan penjelasan yang jelas,” katanya.

Ia menilai masih banyak pasien yang pulang berobat tanpa memahami penyakit yang dideritanya karena kurangnya komunikasi dari tenaga medis.

“Kadang pasien tidak mengerti apa sakitnya, tapi dokter hanya memberi resep tanpa penjelasan. Ini tidak boleh terus terjadi,” ujarnya.

Sebelumnya, Salomo, warga Jalan Cangkir, mengungkapkan kekecewaannya karena sampah rumah tangganya hanya diangkut satu kali dalam seminggu, meski ia rutin membayar retribusi sebesar Rp20 ribu per bulan.

“Petugasnya sangat minim. Kami minta personel pengangkut sampah ditambah. Sampah itu sangat berpengaruh pada kesehatan,” keluhnya.

Ia juga mengkritisi sikap sebagian dokter yang dinilainya kurang komunikatif kepada pasien.

“Kami datang berobat tapi tidak dijelaskan sakit apa, hanya dikasih resep. Tidak ada komunikasi. Akhirnya banyak warga lebih memilih berobat ke luar negeri kalau punya uang,” ungkapnya.

Kegiatan Sosialisasi Perda tersebut turut dihadiri Masdewa S.Sos mewakili Kecamatan Medan Petisah, Daffa Ulhaq dari BPJS Kesehatan, Netti Trianq Sianipar dari Dinas Kesehatan Kota Medan, serta dr Efa Fartini MKM.(MR/Irwan)

Metro Rakyat News