Derita Tak Berujung, Banjir Melumpuhkan Medan dan Sumatera Utara
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Selama tiga hari berturut-turut, sejak 27 hingga 28 November 2025, warga Kota Medan dan beberapa wilayah di Sumatera Utara kembali harus menghadapi bencana tahunan yang menyesakkan yakni banjir besar.

Peristiwa ini bukan sekadar genangan air biasa, melainkan sebuah tragedi yang merenggut ketenangan, harta benda, bahkan menimbulkan korban jiwa.
Dampak Nyata dan Kerugian Materil
Dampak langsung dari bencana ini sungguh memilukan. Ribuan rumah warga terendam, dengan ketinggian air yang bervariasi, mulai dari setinggi paha hingga dilaporkan mencapai dua meter di beberapa lokasi.
Banjir merusak segala yang dilewatinya, kerugian harta benda tidak terhitung jumlahnya, perabotan, elektronik, kendaraan, dan barang-barang berharga lainnya rusak total akibat terendam lumpur dan air.
Warga hanya mampu menyelamatkan barang seadanya, menanggung beban biaya perbaikan dan pemulihan yang masif. Lebih tragis, musibah banjir kali ini juga dilaporkan menyebabkan korban jiwa, menambah daftar panjang penderitaan warga.
Kinerja Penanggulangan yang Dipertanyakan
Ironisnya, banjir kali ini kembali menyoroti upaya penanggulangan Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang dinilai belum maksimal.
Meskipun proyek pengorekan drainase, pembangunan uditch, dan kolam retensi (khususnya di sekitar kawasan Universitas Sumatera Utara) terus digalakkan, hasilnya nihil. Kota Medan tetap tidak aman dari ancaman air. Seolah, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk perbaikan infrastruktur hanyalah upaya sementara yang tak mampu membendung datangnya bencana.
Ketika bencana benar-benar melanda, kesiapsiagaan pemerintah juga dipertanyakan. Laporan menyebutkan banyak wilayah terendam, namun Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) diduga kekurangan alat bantuan yang memadai. Warga terpaksa mengungsi secara mandiri, berjuang menelusuri arus air yang deras, sementara teriakan minta tolong seolah tenggelam.
Pertanyaan besar menggantung di udara “Ke mana pemerintah ketika warganya kebanjiran dan membutuhkan pertolongan?”.
Mencari Akar Masalah, Bukan Sekadar Faktor Alam
Banjir tidak boleh dianggap semata-mata sebagai faktor alam. Perlu adanya kilas balik dan kajian mendalam terhadap akar penyebabnya.
Diduga kuat, menjamurnya bangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang telah mengurangi drastis daerah resapan air. Akibatnya, hujan deras hanya dalam beberapa jam saja sudah cukup membuat air meluap dari badan jalan, parit, dan sungai, lalu menerobos masuk ke rumah warga di kawasan yang lebih rendah.
Masalah Drainase dan Sungai
Keluhan warga mengenai parit yang perlu dikorek dan normalisasi sungai yang tertunda seolah tidak pernah mendapat respons serius. Pemko Medan dinilai lebih fokus membangun “wajah” kota agar terlihat modern dan bagus, sementara nasib warga yang tinggal di pinggiran yang paling terdampak sering terabaikan.
Rendahnya Kesadaran Warga
Faktor lain yang tak kalah penting adalah rendahnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sampah-sampah ini menjadi biang keladi utama penyumbatan drainase dan pendangkalan sungai, memperparah luapan air.
Penderitaan Korban dan Tuntutan Kebijakan Kedepan
Korban banjir dihadapkan pada penderitaan ganda, kehilangan harta benda, kehilangan mata pencaharian, dan bahkan kehilangan anggota keluarga. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk memulihkan kerusakan, sementara trauma psikologis membayangi.
Melihat kondisi ini, sudah saatnya kita mengkaji ulang kebijakan pemerintah kedepan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seharusnya diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan solutif terhadap masalah banjir.
Selain sektor kesehatan dan pendidikan, pemerintah wajib bersikap visioner dengan menggandeng semua stakeholder untuk bersatu membangun daerah. Pembangunan harus merata, tidak hanya berpusat pada estetika kota, tetapi juga pada keselamatan dan kesejahteraan warga di seluruh wilayah, termasuk di daerah pinggiran yang selama ini paling menderita.
Banjir adalah alarm keras. Pemerintah harus berhenti menganggapnya sebagai rutinitas. Sudah saatnya ada langkah konkret dan solusi jangka panjang yang membuat Medan dan Sumatera Utara benar-benar aman dari bencana air.(MR/Irwan Manalu)
Dari Suara hati masyarakat kota Medan terdampak banjir


