Cengkeh Simeulue Menanti Uluran Tangan: Warisan yang Kian Merana
METRORAKYAT. COM, SIMEULUE — Di balik hamparan laut biru dan pesona alam yang memukau, pulau Simeulue tengah menyimpan luka sunyi yang tak banyak terdengar. Di antara sepuluh kecamatannya, satu demi satu pohon cengkeh—yang dahulu menjadi kebanggaan dan tulang punggung ekonomi masyarakat—kini meranggas, menguning, dan perlahan mati dalam diam.
Cengkeh, yang dulunya harum mewangi sebagai simbol kejayaan dan kesejahteraan, kini seolah kehilangan tempat di tanah kelahirannya sendiri. Kebun-kebun yang pernah dipenuhi semangat para petani kini terbengkalai, ditinggalkan oleh waktu dan harapan. Tak ada regenerasi, tak ada peremajaan, hanya ada kenangan tentang masa-masa ketika hasil panen mampu menyekolahkan anak, membangun rumah, dan menyambung hidup.
Faktor usia tanaman yang menua, serangan hama, perubahan cuaca, serta minimnya perawatan menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakhadiran kebijakan dan pendampingan yang nyata dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Simeulue seperti berdiri sendiri di ujung barat negeri ini—jauh dari sorotan, jauh dari sentuhan.
Di tengah wacana besar tentang ketahanan pangan dan ekonomi desa yang inklusif, nasib cengkeh di Simeulue justru luput dari perhatian. Padahal, komoditas ini bukan sekadar tanaman, melainkan warisan budaya dan identitas masyarakat setempat yang tumbuh bersama sejarah pulau ini.
Kini, masyarakat tak meminta janji yang muluk-muluk. Mereka hanya berharap akan langkah nyata: distribusi bibit unggul, pelatihan untuk petani, peremajaan kebun, dan pendampingan berkelanjutan. Sebuah komitmen sederhana yang dapat menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat dan menjaga warisan pertanian dari kepunahan.
Simeulue, yang dijuluki Ate Fulawan—hati emas—sedang berteriak dalam sunyi. Ia menunggu tangan-tangan yang peduli, yang bersedia menyelamatkan bukan hanya komoditas, tetapi juga masa depan generasi yang menggantungkan hidup pada tanahnya sendiri.
Jangan biarkan harum cengkeh Simeulue tinggal cerita. Saatnya pemerintah melihat, mendengar, dan bertindak—sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Penulis: (MR/Adi)

