LPEI dan Koperasi 1000 Desa Ekspor Indonesia Lakukan Pendampingan Desa Devisa Vanili Di Manggarai
METRORAKYAT.COM, MANGARAI – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank berkolaborasi dan Koperasi Seribu Desa Ekspor Indonesia mengelar kegiatan Program Pendampingan Desa Devisa Vanili Di Manggarai, Flores,NTT Tahun 2023-2024 yang berlangsung di Aula Ranaka Lantai 3 Kantor Bupati Kabupaten Manggarai,NTT. Jumat, (22/09/2022)
Dalam kegiatan ini LPEI dan Koperasi Seribu Desa Ekspor Indonesia menyerahkan bantuan bibit Vanili jenis Planifolia, varietas Vania 1 dan Vania 2 kepada para petani Vanili di 6 Desa Kabupaten Manggarai yaitu Desa Wae Ajang (Kec. Satarmese), Kel. Karot (Kec. Langke Rembong), Desa Copang Dalo (Kec. Ruteng), Desa Ndehe (Kec. Wae Rii), Desa Bere (Kec. Cibal)
Wakil Bupati Manggarai, Heribertus Ngabut saat membuka dan menyampaikan sambutannya mengucapkan terima kasih dan sangat mendukung penuh terhadap Program Pendampingan Desa Devisa terhadap para petani di wilayahnya
Menurutnya bantuan bibit Vanili ini adalah salah satu bentuk percerminan aktivitas yang produktif dan tentunya sangat bermanfaat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Dia berharap, bantuan ini bisa menjadi motivasi untuk seluruh petani di Kabupaten Manggarai.
“Petani kita harus tetap produktif. Tanaman Vanili ini adalah salah satu tanaman yang bisa mengangkat derajat kesejahteraan petani kita,” jelas dia
Lalu ia juga menjelaskan beberapa permasalahan yang dialami oleh Petani Vanili di Manggarai, diantaranya yaitu selain SDM yang dimiliki oleh petani, petani juga keluhkan dengan maraknya terjadi pencurian vanili yang berkaki dua alias manusia di Manggarai.
Tambahnya, petani vanili dan tim PPL mau banyak belajar dan berdiskusi dengan Narasumber, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada terkait dengan maraknya pencurian vanili
“Siapapun Bupati pada periode berikutnya, seyogyanya mendukung program Desa Devisa ini”ujar Heri Ngabut
Sementara itu, Perwakilan LPEI, Fahmi menyampaikan bahwa LPEI ini merupakan salah satu lembaga dibawah naungan dari Kementerian Keuangan RI dan ada beberapa stekholder dibawahnya itu melakukan kegiatan pemberdayaan kepada UMKM atau pelaku usaha lainnya, kalau untuk LPEI sendiri bergerak dibidang jasa konsultasi dengan beberapa program peningkatan pelaku-pelaku usaha yang berorientasi ekspor baik yang levelnya UMKM atau koorporasi, nah salah satu programnya adalah Program Desa Devisa.
Program ini tidak hanya untuk hasil komoditi pertanian saja tetapi kerajinan, komoditi hasil laut dan sepanjang klaster itu untuk kebutuhan ekspor. Kalau untuk di NTT memang ini program devisa bibit unggul vanili yang pertama kali.
Kita harapkan untuk pendamping ini terjadi peningkatan kapasitas budidaya tanaman vanili sehingga dapat menghasilkan kualitas yang berorientasi ekspor dan untuk pendampingnya itu sifatnya berkelanjutan dan bertahap sampai pada masa panen vanili tersebut.
“Kolaborasi LPEI dengan institusi lain diharapkan dapat memperkuat program pendampingan yang akan diberikan kepada para petani Vanili sehingga dapat mempercepat tercapainya mandat kami untuk memperkuat ekspor nasional,” ujar Fahmi
Fahmi berharap ke depan LPEI juga akan terus bersinergi membangun desa-desa melalui program desa devisa untuk mendorong partisipasi masyarakat desa dalam rantai ekspor global,” jelasnya
Sedangkan Direktur Koperasi Seribu Desa Ekspor Indonesia, Mahdalena Lubis katakan bahwa desa ekspor adalah suatu gerakan kolaboratif, inisiatornya LPEI sendiri dengan program desa devisa. Program ini sudah kita mulai sejak tahun 2020, namun khususnya dalam program pengembangan desa devisa ini ada 20 desa yang perlu dikembangkan di wilayah Manggarai yang memiliki potensi sesuai yang sudah di survei oleh koordinator lapangan kami.
Program ini juga sudah berkolaborasi dengan UMKM Lokal di masing-masing desa, jadi mereka juga ikut mendampingi petani yang ada di desanya salah satunya Desa yang sudah kita dampingi sebelumnya itu yakni di Desa Loha, Kabupaten Manggarai Barat.
Bentuk pengawasan dalam program ini berupa pendampingan kualitas mutu vanili dan manajemen bisnis serta pemanfaatan media sosial seperti WhatsApp untuk mempermudah berkomunikasi dalam budidaya vanili dan promosi pasar ekspor serta waktu dalam pendampingannya satu tahun hingga vanili tersebut bisa di ekspor ke mancanegara.
“Kedepannya kita berharap program pendampingan ini terus berlanjut dan juga menjadi sasaran kita tercapai atau terjadi peningkatan ekonomi di desa” ujar Mahdalena
Akademisi dari Universitas Mercu Buana, Jakarta, Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan kerap disapa Bunda Rossa menyampaikan materinya tentang Pemanfaatan Media Sosial Bagi Budidaya Vanili dan Promosi Pasar Ekspor
Menurut Bunda Rossa, di era Digital, Petani Vanili di manapun juga sebaiknya mampu memanfaatkan media sosial untuk kepentingan promosi. Mulai dari untuk memperkenalkan Vanili, Branding Vanili, sampai menawarkan atau menjual Vanili, dan menciptakan fanatisme pasar.
Dengan demikian, meski Vanili tersebut berada jauh di Kabupaten Manggarai, namun akan dapat dikenal dan dicari oleh eksportir dari manapun juga.
“Kegiatan promosi ini juga bisa dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan sesama petani yang sudah lebih akrab dengan media sosial seperti WA, FB, TikTok, IG, dan lainya” jelasnya
Serta dengan Generasi Milenial dan Gen Z seperti anak-anak SMP atau SMA/SMK, yang lebih mahir dengan pemanfaatan media sosial, jadi promosi bagi Petani dapat dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan partisipasi banyak Generasi, termasuk Generasi X yang merupakan Petani aktif di Manggarai, dan saksi sejarah Vanili masuk ke Manggarai Barat.
Selain itu dengan menggunakan prinsip Hexa Helix, dimana Petani bekerjasama dengan Pers, Akademisi, Pemerintah, Organisasi Sosial, Wirausahawan atau Badan Usaha, dan masyarakat sekitar.
Diketahui kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Manggarai Heribertus Ngabut, SH, Dr. Yoseph Mantara, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan, Kabupaten Manggarai, Dani Usadi, S.T., M.T. Analis Kebijakan Ahli Madya, Kemendesa PDDT, Ahmad Faesol, Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, KPPBC tipe C Labuan Bajo, Sunu Widi Purwoko Fungsional Ahli Narasumber Lembaga, LPEI.
Hadir juga Direktur Koperasi Seribu Desa Ekspor Indonesia, Mahdalena Lubis, Akademisi dari Universitas Mercu Buana, Jakarta, Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan, Koordinator Lapangan Desa Devisa dan 35 orang peserta keterwakilan dari 5 Desa di Kabupaten Manggarai. (MR/Eras Tengajo)
